Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Korupsi… Korupsi… kata ini lagi
Selalu menghantui negeri yang frustasi
Korupsi… Korupsi… semakin menjadi
Apapun terjadi diatas transaksi.

Mau lawan mereka, hati-hati saja
Karena mereka dijaga buaya
Buaya-buaya piaraan mafia
Mafia-mafia isinya pengusaha

(Navicula – Mafia Hukum)

Kisah korupsi di negeri yang kaya pesona dan sumber daya alamnya ini telah mencapai titik kronis. Para koruptor pun semakin dalam menancapkan kuku-kuku mereka di pelbagai lembaga, mulai dari kepolisian, kejaksaan, kehakiman, DPR, kementerian, bahkan sampai ke basis-basis relawan.  Ditambah lagi, segala siasat licik agar tidak tertangkap basah dilakukan para koruptor untuk mengelabui para pemberantas korupsi serta rakyat yang sudah muak dengan kata korupsi itu sendiri.

Banyak harapan yang dipupuk kepada presiden baru Indonesia untuk pemberantasan korupsi, namun situasi yang terjadi di lapangan tidak seperti yang didambakan. Situasi yang tidak bisa ditoleransi ini pun memiliki harapan yang kian menipis. Kasus-kasus korupsi semakin lama semakin terbiasa disaksikan di layar kaca, menjadi hal lumrah yang tanpa kita sadari telah menjadi ‘efek domino’ yang bergulir di kehidupan sehari-hari.

Peristiwa yang menimpa Komisi Pemberantasan Korupsi atau lebih akrab disingkat KPK beberapa waktu ini, menjadikan upaya pemberantasan korupsi bagaikan telur di ujung tanduk. Sebagai benteng anti-korupsi, keberadaan KPK belakangan ini memasuki tahapan kritis. Kriminalisasi pimpinan dan penyidik KPK terjadi, bahkan muncul distorsi informasi.

Ketika segala upaya distorsi informasi dan konspirasi dilakukan koruptor, kesadaran publik akan bahaya korupsi merupakan alat yang mampu menghentikan korupsi. Publik perlu dibangunkan dan digerakkan untuk melawan korupsi. Opini tandingan perlu diwadahi dalam seni agar lebih masif, membumi, dan mudah dipahami. Seni dapat lebih luwes dalam mengangkat persoalan sosial sekaligus mendorong budaya baru yang anti-korupsi.Mengingat urgensi untuk bersikap tegas melawan korupsi, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Koalisi Seni Indonesia (KSI) mengajak seluruh elemen seni di Indonesia untuk bersinergi dalam satu gerakan besar: #SeniLawanKorupsi.

Memiliki sikap yang sama untuk menyampaikan pesan anti-korupsi, Kedai Buku Jenny yang seringkali mengadakan kegiatan yang berhubungan dengan seni musik dan sastra melalui pagelaran kesenian, ingin terlibat secara aktif dalam gerakan #SeniLawanKorupsi. Melalui salah satu kegiatan rutinnya bernama KBJamming, Kedai Buku Jenny bersama Bengkel Seni dan Keadilan (BSDK) Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin menghelat KBJamming edisi ke-17 di Taman Fakultas Hukum Unhas pada hari Senin (23/3) lalu.

Dipandu oleh Adit sebagai MC yang juga merupakan perwakilan dari BSDK, KBJamming pun dimulai sekitar pukul 15.00 WITA.  KBJamming yang memiliki suguhan utama yaitu penampilan musik, kali ini menghadirkan lima penampil istimewa sekaligus. Legal Theory, Ruangbaca, Melismatis dan Speed Instinct serta band bentukan dari BSDK, didaulat tampil sekaligus menyampaikan pesan anti-korupsi.

Legal Theory didapuk menjadi band yang pertama tampil sore itu. Personilnya sebagian besar didominasi mahasiswa dari Fakultas  Hukum Unhas, membuka panggung apresiasi sore itu dengan lagu-lagu karya mereka sendiri, salah satunya “Jenny, Sedang Apa Dirimu”. Walaupun tema lagu mereka tidak bersentuhan langsung dengan pesan anti-korupsi, Akram Hadinata, sang vokalis tetap menyampaikan pesan-pesan sederhana untuk melawan korupsi dalam bentuk apa saja di sela-sela jeda penampilan Legal Theory dengan suguhan musik akustiknya.

 Walaupun tema lagu mereka tidak bersentuhan langsung dengan pesan anti-korupsi, Akram Hadinata, sang vokalis tetap menyampaikan pesan-pesan sederhana untuk melawan korupsi dalam bentuk apa saja di sela-sela jeda penampilan Legal Theory dengan suguhan musik akustiknya.

Walaupun tema lagu mereka tidak bersentuhan langsung dengan pesan anti-korupsi, Akram Hadinata, sang vokalis tetap menyampaikan pesan-pesan sederhana untuk melawan korupsi dalam bentuk apa saja di sela-sela jeda penampilan Legal Theory dengan suguhan musik akustiknya.

Selepas penampilan Legal Theory, Ruang Baca merupakan duo folk akustik rupawan dari Makassar.  Terdiri dari Saleh Hariwibowo dan Viny Mamonto, kembali saya saksikan setelah sebelumnya mereka tampil di Pekan Depan #1. Lewat penampilan mereka, mereka berusaha mengkampanyekan gemar membaca lewat lirik yang ditulis di lagunya. Beberapa lagu yang mereka bawakan antara lain “Di Balik Jendela”,”Disleksia”, “Diam-diam” yang merupakan musikalisasi puisi Ibe S Palogai, serta “Terbangnya Burung”  yang juga merupakan Musikalisasi puisi dari penyair legendaris, Sapardi Djoko Damono. Selain lihai memainkan alat musik, keduanya merupakan pustakawan di katakerja, sebuah perpustakaan yang wajib kamu datangi, tepatnya berada di di BTN Wesabbe Blok C/65.

Ruang Baca yang terdiri dari Saleh Hariwibowo dan Viny Mamonto, kembali saya saksikan setelah sebelum mereka tampil di Pekan Depan #1.

Ruang Baca yang terdiri dari Saleh Hariwibowo dan Viny Mamonto, kembali saya saksikan setelah sebelumnya mereka tampil di Pekan Depan #1.

Bengkel Seni Dewi Keadilan yang berpartisipasi melaksanakan KBJamming ini bersama Kedai Buku Jenny, turut menampilkan suguhan musik dari band bentukan pengurus BSDK. Penampilan mereka yang membawakan lagu-lagu karya beberapa band Indonesia seperti NOAH yang notabene tidak bersinggungan dengan anti-korupsi, membuat saya tidak terlalu menyimak aksi mereka lebih jauh.

 Bengkel Seni Dewi Keadilan yang berpartisipasi melaksanakan KBJamming ini bersama Kedai Buku Jenny, turut menampilkan suguhan musik dari band bentukan pengurus BSDK.

Bengkel Seni Dewi Keadilan yang berpartisipasi melaksanakan KBJamming ini bersama Kedai Buku Jenny, turut menampilkan suguhan musik dari band bentukan pengurus BSDK.

Melismatis, septet post-rock asal Makassar ini tampil selanjutnya untuk membawakan lagu-lagu karya mereka sendiri. Cukup dengan dua lagu yang bakal dimuat di album Semesta dengan durasi yang cukup panjang, Melismatis tampil memukau dan mengundang mata ini susah untuk dialihkan sedetik pun. Suara synth yang terkadang halus lalu beralih agresif yang berpadu dengan petikan gitar, betotan bass, bebunyian perkusif dan tiupan pui’-pui’ mengawang-ngawang di langit senja sore itu. Akord-akord progresif yang Melismatis tampilkan membuat adrenalin saya ikut naik turun.

Melismatis tampil memukau dan mengundang mata ini susah untuk dialihkan sedetik pun, cukup dengan dua lagu yang bakal dimuat di album Semesta dengan durasi yang cukup panjang.

Melismatis tampil memukau dan mengundang mata ini susah untuk dialihkan sedetik pun, cukup dengan dua lagu yang bakal dimuat di album Semesta dengan durasi yang cukup panjang.

Penampilan panggung seni sore itu ditutup dengan aksi dari Speed Instinct, salah satu kuintet alternative rap rock asal Makassar. Dengan membawakan “Ressurection”, “What Is Justice?” dan “Order Out of Chaos”, Speed Instinct pun tampil cukup trengginas menghadirkan repertoar lagu-lagu mereka yang didominasi tema-tema kemanusiaan, egalitarianisme dan tentunya anti-korupsi.

Speed Instinct pun tampil cukup trengginas menghadirkan repertoar lagu-lagu mereka yang didominasi tema-tema kemanusian kesetaraan dan tentunya anti-korupsi.

Speed Instinct pun tampil cukup trengginas menghadirkan repertoar lagu-lagu mereka yang didominasi tema-tema kemanusian kesetaraan dan tentunya anti-korupsi.

Selain penampilan musik di KBJamming, bentangan kain putih untuk petisi melawan korupsi untuk diisi oleh para audiens dan pameran poster Lawan Korupsi dari Koalisi Seni dan Dewan Kesenian Jakarta yang juga turut hadir memberikan pesan secara lugas untuk menghentikan korupsi. Kedai Buku Jenny pun ikut menghadirkan musikalisasi puisi anti-korupsi dari salah satu penggiatnya, Harnita Rahman.

Kedai Buku Jenny pun ikut menghadirkan musikalisasi puisi anti-korupsi dari salah satu penggiatnya, Harnita Rahman.

Kedai Buku Jenny pun ikut menghadirkan musikalisasi puisi anti-korupsi dari salah satu penggiatnya, Harnita Rahman.

Selain itu ada pula testimoni dari penggiat anti-korupsi seperti Garda Tipikor (Gerakan Radikal Anti Tindak Pidana Korupsi) Fakultas Hukum UNHAS, BEM Fakultas Hukum, Wakil Dekan III Fakultas Hukum, pihak KONTRAS dan Kedai Buku Jenny sendiri.

Setelah memberikan sambutan, Wakil Dekan III Fakultas Hukum Unhas pun membubuhkan testimoni untuk #SeniLawanKorupsi

Setelah memberikan sambutan, Wakil Dekan III Fakultas Hukum Unhas pun membubuhkan petisi di kain putih untuk #SeniLawanKorupsi

Kedai Buku Jenny juga membuka lapakan buku-buku yang erat kaitannya dengan korupsi sesuai dengan tema #SeniLawanKorupsi di KBJamming Vol. 17.

Kedai Buku Jenny juga membuka lapakan buku-buku yang erat kaitannya dengan korupsi sesuai dengan tema #SeniLawanKorupsi di KBJamming Vol. 17.

Seperti lirik lagu Navicula yang saya kutip di atas, pesan anti-korupsi sudah seharusnya disampaikan kepada masyarakat dalam bentuk apapun, termasuk seni yang merupakan media yang paling fleksibel dan mudah dipahami banyak orang. Walaupun korupsi semakin ‘mendarah daging’, semangat berkesenian menyampaikan pesan-pesan anti-korupsi kemanusiaan dan egalitarian harus terus dikumandangkan. Meminjam salah satu larik dari sajak legendaris milik penyair Widji Thukul, hanya ada satu kata (untuk korupsi): Lawan! []


 

Baca tulisan lainnya dari Achmad Nirwan

Vakansi Akhir Pekan untuk Pelestarian Hutan

Menyatukan Musik Pop dengan Bebunyian Loop

Melewati Masa Orientasi Mahasiswa Baru

Gaung Nuansa Skiffle dari Timur

“Siapkan Mental dalam Bermusik!”

Penghormatan Penuh Loyalitas untuk Oasis

Memotret Indonesia dalam Lukisan

5 “Rukun” Wajib untuk Musisi

Nada Gerilya untuk Pandang Raya

10 Pahlawan Musik Rock Alternatif

Bikin Film tentang Anti-Korupsi, Kenapa Tidak?

Playlist Ngabuburit Anti-Klise