Ilustrasi : Aisyah Azalya* ( @syhzly )

Curhat terbuka dari Langgo Farid untuk orang nomor satu di metropolitan kita tersayang.

Dear kamu,

Iya, kamu orang nomor satu di kotaku.
Aku bukannya tidak mau menyebut nama kamu, toh tidak ada gunanya juga. Apalah arti sebuah nama. Aku kasih contoh, pernah dengar nama Ridwan Kamil? Kasihan kan, namanya kampungan, tapi lihat hasil karyanya, mulai dari taman-taman tematik bermunculan di berbagai lokasi di dalam kota. Jalur pedesterian diperbaiki sehingga menjadi nyaman untuk berjalan kaki. Para pedagang kaki lima di beberapa titik berhasil direlokasi. Tapi tidak usahlah aku bahas itu.

Sudah setahun ini aku berhenti menulis, bukan karena kurang ide, tapi aku sadar, apalah aku ini, hanya seorang warga biasa yang berharap tahun depan sudah tidak ada lagi begal di kota ini. Akupun sadar, butuh dana banyak buat menghilangkan begal. Tetapi bukannya kamu punya kuasa? Terus kenapa lambat? Kenapa sampai harus jatuh korban, pak?

Aku merindukan kotaku yang tidak banjir. Syukurlah tahun ini sepertinya di beberapa titik kamu sudah menaikkan permukaannya, tapi yah semoga rumah-rumah di sekitarnya tidak tergenang lagi oleh air hujan. Pasalnya, di tengah tinggi, di kanan kiri rendah, yah merembeslah, tapi pastinya tim perencanaan kamu sudah perhitungkan semua. Jangan cuma perhitungan komisi memenangkan proyeknya… Semoga.

Aku senang punya panutan yang kreatif. Memunculkan beberapa kata singkatan yang keren-keren. Tapi kok aku merasa, sepertinya ada yang aneh. Kamu dianggap kreatif dengan singkatan-singkatan itu tapi bagaimana dengan industri kreatif di kota ini, sob? Lihat bagaimana band-band indie bermunculan. Banyak dari mereka lagunya bagus-bagus loh, sob. Ingat nda ketika kamu membuat logo kota kita? Banyak reaksi yang melihat bahwa kita itu cuma bisa menyontek dari kota lain. Sayang kan, sob! Pernah lihat film perdana anak kota kita yang diputar di bioskop? Jauh sob dari hasil yang diharapkan. Kalo sob main sequelnya, aku cari bajakannya, ah. Sesekali dukung dong industri kreatif kita. Kreatif bareng-bareng lebih bagus daripada kreatif sendiri, sob.

Senang sekali rasanya ketika melihat banyaknya bis berwarna biru nongkrong menunggu penumpang. Menurut legenda tujuannya sih untuk mengurangi macet. Animo masyarakat awalnya luar biasa. Tapi dua bulan belakangan ini, sepertinya turun drastis. Entahlah.

Bukannya kamu gak berhasil. Menurut aku program truk sampah kamu lumayan bagus, tapi yah sayang. Tempat sampah tembus pandang pinggir jalan sepertinya tidak berhasil. Akunya nda paham, desain tempat sampah pinggir jalan itu memang tembus pandang atau tempat sampah itu hiasan pedestrian? Mungkin model tembus pandang itu akan up to date di abad 25. Entahlah.

Dengar-dengar sampah yang tidak terangkut itu harus dikucurkan dana lagi ya biar bisa diangkut? Malah dibutuhkan sampai milyaran. Ah, sudahlah. Apalah aku. Hanya pencaci.

Sumpah, aku kangen banget sama kamu. Terakhir aku dengar kamu nyemplung untuk membantu bersih-bersih saluran air. Katanya sih biar menginspirasi pejabat kelurahan dan kecamatan. Bukannya inspirasi itu dengan karya? Kalau nyemplung itu pencitraan. Entahlah, bro. Semoga bukan.

Aku orang yang menilai keberhasilan orang dengan karya. Sehebat apapun nyemplung ke got atau rencana wajar tanpa pengecualian tahun depan tetap akan kalah dengan taman nonton, enerbike, bike sharing dan masih banyak lagi. Ah sudahlah, nanti dibilang menggosip orang lain lagi.

Aku tidak ada dendam apapun dengan kamu, sob. Siapapun yang berada di posisi kamu, aku pasti kritik. Perbedaan itu indah, sob. Kamu jangan sensi yah.

With love,

Aku

*modified from freepik.com


Baca tulisan lainnya dari Langgo Farid

Surat untuk Warga Makassar

Mengungkap Kejahatan dengan Tulisan

5 Tipe Cowok Menurut Pemain Bola Idolanya

Resolusi Tahun Baru Lagi dan Lagi? Sudahlah!

Sindrom Haus Perhatian di Media Sosial