Oleh: Sunardi Hawi* | Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Ramadan selalu identik dengan yang manis-manis. Sesuai dengan anjuran agama dan ilmu kesehatan. Mengonsumsi yang manis-manis mampu membuat rasa lapar berkurang tanpa harus langsung membuat lambung kaget. Meski sebenarnya tidak semua yang manis-manis dianjurkan, sebab beberapa mampu membuat kadar gula darah di dalam tubuh melonjak drastis. Sesuai dengan asas manis dan sehat tersebut, salah satu pilihan tepat untuk dikonsumsi adalah madu. 

Nah, bagi peminat madu di wilayah Pangkep, Maros, dan Makassar, madu yang berasal dari Tompobulu menjadi primadona. Di ibukota Pangkep, jika Anda menjajakan madu Tompobulu di kantor-kantor pemerintah, Anda nyaris tidak akan menemui kendala. Madu Tompobulu biasa juga dijadikan ole-ole atau hadiah istimewa bagi kerabat.

Tompobulu, sebuah desa yang menjadi penyangga Taman Nasional Bantimurung di hutan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep. Bagi Anda yang menyukai pendakian, Tompobulu merupakan desa terakhir menuju gunung Bulusaraung. Desa yang berada pada ketinggian 500-600 dpl. Udaranya sejuk, dengan kontur perbukitan. Dalam bahasa Indonesia, Tompo berarti Puncak dan Bulu berarti Gunung.

Warga Tompobulu adalah petani padi dan kacang tanah yang memanfaatkan areal perbukitan dengan sistem sawah terasering. Barisan sawah yang mengikuti kontur perbukitan itu sangat indah, apalagi saat musim padi menghijau dan menguning. Selain bekerja sebagai petani, puluhan kepala keluarga di desa Tompobulu juga menambah penghasilan mereka sebagai pencari madu di hutan. Sebagian untuk konsumsi keluarga, selebihnya dijual ke pedagang ataupun konsumen yang datang langsung ke mereka.

Sebelum tahun 2014, harga madu untuk setiap botol (650ml) adalah Rp 45.000. Itu adalah harga yang diberikan untuk konsumen. Namun jika dalam jumlah banyak hingga puluhan seperti sistem pembelian pedagang, harga setiap botolnya maksimal Rp 40.000 tiap botol. Seorang pencari madu mampu mengumpulkan 20 botol setiap musim. Masa panen madu hutan, antara September hingga November. Pencari madu bisa dapat 30 botol jika mendapatkan sarang lebah lebih awal di hutan.

Jika kita mengikuti proses kerja pencari madu hutan di desa ini, kita akan mendapati harga yang mereka dapatkan sangat kecil jika dibandingkan dengan keuntungan dari pedagang. Umumnya, pedagang memperoleh keuntungan Rp 15.000 hingga Rp 20.000 setiap botolnya hanya dengan menjadi perantara, tidak perlu melewati risiko yang sama dengan para pencari madu di hutan.

Proses kerja para pencari madu cukup panjang dan melelahkan. Pertama, mereka masuk ke hutan mencari sarang dan menandainya sebelum memasuki masa panen. Perjalanan masuk ke hutan, bisa lebih dari 5 kilometer berjalan kaki. Itupun bukan jaminan langsung mendapatkan sarang. Meski mereka berpengalaman, tempat mana saja yang harus dikunjungi, dalam proses pencarian, terkadang sulit ditemukan. Atau, sudah ditandai terlebih dulu oleh pencari madu lainnya. Itu berarti, pencarian harus dilanjutkan.

Di antara sesama pencari madu, sudah terbentuk kesepakatan tidak tertulis, jika pohon yang ditempati lebah bersarang sudah ditandai, entah dengan ikatan kain pada batang pohon atupun penanda lainnya, pencari madu yang lain tidak boleh mengganggunya. Penanda tersebut akan dilepaskan setelah masa panen, dan proses tersebut dimulai dari awal lagi.

Setelah mendapatkan sarang dan menandainya, pencari madu akan memperkirakan masa panen. Hanya dengan melihatnya dari kejauhan, mereka sudah mengetahui kapan waktu panen yang tepat untuk setiap sarang. Sehingga, hasilnya maksimal. Kendalanya hanya cuaca. Musim hujan dan angin kencang menyulitkan proses pemanjatan pohon tempat sarang. Angin kencang, akan menyulitkan proses pengasapan.

Proses pengambilan madu dari sarang dilakukan dengan cara mengusir induk lebah dari sarangnya. Hal ini dilakukan dengan teknik pengasapan. Sebelum mengambil sarang, pencari madu akan menyiapkan ranting dan dedaunan tertentu yang diikatkan menyerupai sapu lidi, kemudian dibakar dan menimbulkan banyak asap. Asap dari proses pembakaran diarahkan ke sarang untuk mengusir induk lebah. Setelah itu, barulah mereka mengambil sarang dan menurunkannya untuk diperas. Jadi bisa dibayangkan jika angin bertiup kencang, proses ini akan mengalami kesulitan luar biasa.

Sarang lebah tidak semuanya mudah digapai. Seringkali lebah bersarang di pohon yang berada di tebing karst, atau pada tangkai pohon yang menjulang tinggi. Untuk memanjatnya, dibutuhkan keberanian dan kecakapan tersendiri. Apalagi, para pencari madu, melakukan pekerjaannya tanpa pengamanan seperti yang biasa digunakan oleh pemanjat yang dilengkapi peralatan modern.

Proses Pengolahan madu di Tompobulu (Foto: SRP Payo-payo)

Proses Pengolahan madu di Desa Tompobulu. (Foto: SRP Payo-payo)

Cerita pedih mencari madu hutan cukup banyak, mulai dari pencari madu yang tersesat di dalam hutan hingga menelan korban jiwa. Pernah ada seorang pencari madu terjatuh saat memanjat pohon sarang dan baru ditemukan keesokan harinya. Menurut warga, kemungkinan dia diserang oleh induk lebah yang belum meninggalkan sarang. Dengan kesulitan dan risiko yang mereka hadapi, sepantasnya mereka juga mendapatkan hasil yang setimpal.

Namun mengubah keadaan itu bukan perkara mudah. Kecenderungan kita menikmati hasil hutan ini dengan harga murah, terkadang harus direkayasa sebelum kita bersedia membayar yang lebih pantas. Terkadang, lebih mudah menyumbangkan uang kita setelah melihat kisah sedih yang dialami seseorang di layar televisi atau media sosial dibandingkan bersedia membayar lebih mahal dari hasil kerja keras seseorang, di mana kita turut menikmati hasilnya. Termasuk menikmati madu.

Sebelum menjual hasil madu ke konsumen atau pedagang, maka madu terlebih dahulu diolah untuk mendapatkan kualitas madu yang lebih baik. Dengan campur tangan teknologi sederhana, kualitas madu hutan bisa lebih baik dari sebelumnya. Harganya pun harusnya bisa lebih mahal.

Kami menemukan alat sederhana untuk menurunkan kadar air madu. Rangkaiannya dari bahan plat baja tipis dengan memanfaatkan sistem penguapan dari proses pembakaran. Proses ini akan membuat kadar air bawaan dalam madu berkurang hingga ke titik minimal. Proses inipun akan membuat kekentalan madu merata dibandingkan saat baru diambil dari sarangnya. Hasilnya madu lebih kental.

Proses di atas bisa berjalan jika pencari madu bersedia menyuplai madu. Karena jika jumlahnya sedikit, hasilnya tidak akan maksimal. Saat itu, lebih dari sepuluh pencari madu sepakat. Kami, Pengorganisir dari Payo-Payo, pun berani menjanjikan kalau harganya akan lebih mahal dibandingkan dengan harga yang mereka dapatkan selama ini. Sebuah pertaruhan yang menyenangkan.

Karena keterbatasan modal, proses itu dimulai hanya untuk 50 botol. Setelah kadar airnya diturunkan, lalu kami membawanya ke kota untuk dijual dengan harga yang sudah kami tentukan, setelah kami hitung biaya produksi dan keuntungan yang ingin didapatkan. Kali ini kami meminjam “logika industri”, mereka menjual produknya berdasarkan hitungan biaya produksi dan besaran keuntungan yang mereka ingin peroleh. Harusnya, logika ini juga berjalan untuk petani, nelayan dan para pencari madu sebelum menjual hasil kerja mereka. Namun, kekuatannya tentu saja tidak cukup untuk melakukan hal itu. Mereka bukan industri yang mendapatkan perlakuan khusus dari negara.

Proses awal berjalan cukup lancar. Harga pertama yang kami berikan kepada pencari madu adalah Rp65.000 setiap botolnya dari harga yang mereka dapatkan sebelumnya. Kami lalu menjualnya Rp80.000 setelah dikemas. Rupanya kenaikan harga ini mulai menyebar di antara sesama pencari madu dan pedagang di desa. Pencari madu lainnya, mulai tidak menjual madunya ke pedagang jika tidak sama dengan harga yang kami berikan saat itu. Sebagaimana umumnya pedagang, mereka pun mengikuti harga baru.

Ini dimulai pada awal tahun 2014. Madu yang ada saat itu adalah hasil panen tahun 2013. Karena mulai menimbulkan efek harga yang lebih pantas, maka panen berikutnya, harga kami naikan lagi, Rp75.000, setiap botolnya. Pasar kembali mengikuti harga baru ini hingga sekarang. Saat ini, pencari madu bahkan sudah menjual madu mereka ke konsumen hingga Rp80.000 tiap botol.

Campur tangan teknologi sederhana yang kami buat atas bantuan teman, rupanya juga menambah biaya untuk pembelian gas dan listrik. Selain itu, volume madu juga berkurang. Jadi saat ini, setiap botol madu ukuran 650 mililiter, kami menjualnya dengan harga antara Rp 90.000 hingga Rp 100.000 setiap botol. Untuk pembelian banyak, kami berikan potongan harga sebesar Rp 10.000 per botol. Keuntungan penjualan ini kami kembalikan ke kelompok setelah menguranginya dengan biaya pengolahan dan pengangkutan ke kota.

Saat ini, tantangan berikutnya adalah menjaga agar harga yang didapatkan oleh pencari madu tetap pantas sebagaimana risiko kerja yang mereka hadapi.  []

*Penulis aktif di Sekolah Rakyat Petani Payo-payo. Silakan membaca tulisan lainnya di payopayo.or.id atau blognya, http://lanardi.wordpress.com.


Baca tulisan lainnya

Perjalanan ke Barat

Tempat Lezatnya Cokelat Bermula

Panen Hasil Bumi, Panen Kolaborasi

Untuk Kamu yang Masih Peduli Kepada Bumi

Karena Hasil Bumi Tidak Bisa Ditukar dengan Beton

Membuka Celah Sebab-Akibat Negara Gagal