Ilustrasi: Herman Pawellangi (@chimankorus)

Hari pertama sekolah yang tahun ini begitu hits saya lalui di Kabupaten Enrekang. Di warung coto. Di depannya, ramai anak-anak sekolah berjalan bersama. Sambil menyantap coto, pikiran saya kembali ke kasus pelaporan murid terhadap gurunya. Apakah kasus serupa akan muncul lagi setelah libur panjang?

Kasus yang paling dekat adalah kasus yang terjadi pada Juni lalu. Seorang guru dilaporkan ke polisi karena mencubit muridnya. Hal tersebut menjadi viral di media sosial. Sebenarnya, laporan yang dilakukan orang tua sudah tepat jika mengacu pada UU Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak (TPA). Undang-undang itu jadi instrumen penting karena pasal-pasal di dalamnya menjamin  anak (maksimal usia 18 tahun) untuk mendapatkan perlindungan dari berbagai hal negatif bahkan dari orang tua kandung sekalipun. Saya setuju mendisiplinkan seorang anak tidak harus dengan mencubit atau memukul. Namun semua itu terkesan berlebihan. Mungkin karena tindakan sejauh ini sampai guru tersebut dipecat hanya karena cubitan. Padahal, masih ada kemungkinan untuk menyelesaikannya secara kekeluargaan atau secara internal sekolah saja.

Reaksi masyarakat media sosial juga sama berlebihannya. Mayoritas menyoroti anak yang melaporkan gurunya. Murid yang dicubit dituduh manja, orang tua murid yang melapor dinilai kelewatan. Efek sorotan publik yang berdampak besar luput diperhatikan. Murid yang menjadi pelapor sulit diterima di banyak sekolah.

Jika diperhatikan, mereka yang heboh terhadap kasus ini adalah sebagian orang yang masih terjebak dalam kebanggaan berlebihan pada zona tahun kelahiran. Maka tak heran banyak bermunculan komentar-komentar seperti: “Kalau saya, zamanku dulu…….”, “Ah kalau saya lapor orang tua, malah ditambahi”, “Dasar manja”, dan sebagainya. Sebagai orang yang pernah ditempeleng, ditarik cambangnya, dicubit tangan, perut, bahkan daun telinga, dihantam penggaris kayu dan masih banyak lagi. Saya sempat berpikiran sama terhadap anak pelapor ini. Namun semestinya disadari bahwa zaman akan terus berubah mulai dari bahasa, lingkungan,  gaya hidup, teknologi, dan sebagainya. Mungkin inilah zaman di mana dalam hal mendidik dan mendisiplinkan anak-anak  tidak harus lagi melalui kekerasan atau intimidasi. Toh, untuk anak-anak sekarang ancaman tidak diberi nilai oleh guru atau  uang jajan untuk beli kuota Internet oleh orang tua sepertinya lebih ampuh. Ya, setidaknya adik-adik saya begitu.

Lagipula jika terbiasa menggunakan zona tahun lahir sebagai alat untuk membandingkan, secara tidak sadar kita melakukan hal yang paling menyebalkan dari orang tua kita yaitu membandingkan zamannya dengan zaman kita saat ini. Hal yang membuat kita mengeluarkan kalimat pamungkas: “Ini beda dari zaman ibu dan bapak bla..bla..bla.. ini bukan zaman Siti Nurbaya lagi, ini zaman Siti Badriah bla..bla..bla..”. Bukankah lucu bila kita juga menggunakan perangkat kekinian melihat masalah kekinian namun menyikapinya dengan perspektif dan keadilan versi zaman yang berbeda?

Walaupun sadar sedikit demi sedikit zaman berubah namun sistem pendidikan di luar pendaftaran sekolah, kurikulum, syarat lulus, sistem UN yang berganti sebagian seperti waktu sekolah, PR sebenarnya masih sama. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan: Apa yang hilang dari ikatan Guru-Murid di Indonesia hari ini?

Semangkuk coto telah habis, dua ketupat tinggal daunnya, satu gelas teh botol hanya tersisa es batu. Saya melihat ayah saya menghabiskan rokoknya, sambil sesekali batuk. Dalam pikiran saya, mengingat pukulan laki-laki ini saat masih SMP dulu, saat saya masih nakal-nakalnya sampai membuat ibuku menangis. Pukulannya bukan cuma bikin sakit telinga, tapi hati juga. Namun tak ada dendam tertanam, mengapa saya bisa yakin? Karena walaupun sudah dipukul keras namun tiap hisapan rokok dan batuk yang ayah saya lakukan, hati saya ikut khawatir. Dia juga kadang masih memberi uang pulsa walaupun saya pernah mengecewakannya. Pukulan itu malah jadi penanda bahwa yang saya lakukan sudah melewati batas. Saya juga bersyukur dari SMP sudah mendapatkan momen titik balik yang mengubah saya dari luar biasa nakal menjadi nakal yang biasa saja.

Selain pahlawan tanpa tanda jasa, guru sering disebut pengganti orang tua  di sekolah dan ada murid sebagai anak yang wajib untuk dibimbing. Mungkin inilah potongan kecil yang hilang. Serupa dengan ikatan orang tua di rumah. Murid dan guru kini mungkin hanya kehilangan butuh entah apa kata yang tepat tapi orang sering menyebutnya chemistry. Mungkin ada sesuatu yang menyebabkan tergerusnya keakraban guru-murid sekarang. Kesibukan misalnya. Saat beberapa guru lebih sibuk  mencari sertifikasi hingga lupa tanggung jawabnya. Murid malah sibuk mencari ilmu dan bimbingan hidup dari gaya hidup selebrity. Ya, semoga chemistry itu bisa terbentuk lagi sehingga membuat guru merasa berdosa bila lalai memberikan ilmu yang bermanfaat. Chemistry yang membuat murid lebih menghargai guru dan segala tindakannya alih-alih menimbulkan dendam malah menjadi kenangan yang bisa jadi cerita lucu saat reuni kelak.

N.B. Sumber gambar yang ada di ilustrasi televisi berasal dari infografis Kemdikbud RI tentang Hari Pertama Sekolah. Silakan cek infografisnya di sini.


Baca tulisan lainnya

YouTube dan Televisi: Sebuah Dikotomi yang Tidak Perlu

Tenang, Hanya Vaksin Palsu

Balada TV Kabel: Ditinggal Saat Lagi Sayang-sayangnya

Investigasi Serba Kebetulan

Komunitas yang Mengundang Kebingungan

Komunitas, Jangan Asal Kumpul-kumpul

Tamparan dari Tulisan Spotlight

Menteri yang Lucu

The Power Syndrome

Zaskia Gotik dan Rasa Syukur yang Kupetik

Yang Mengkhawatirkan dari Muda-Mudi Kekinian