Oleh: Aswan Pratama | Foto/Video: Resolusi A/V

Peeple Coffee-Working Space (@peeple_co) kembali mengadakan Peeple Private Gig pada 25 Mei lalu. Event ini dikemas dalam bentuk gig kecil: tidak ada barikade pagar besi, petugas keamanan bertubuh kekar, ataupun panggung tinggi. Jadi, jarak antara penonton dengan penampil menjadi lebih intim. Kita hanya dibatasi oleh dua speaker dan satu MC.

Pada Peeple Private Gig kali ini, penonton bersenang-senang bersama Soleluna.

Soleluna adalah duo yang mengusung musik eksperimental yang memadukan musik ambient, folk, dan postrock dengan sentuhan electronic beat. Duo ini dikelola oleh Abdi Iqbal dan Randy Rajavi yang konon, selain meneduhkan lewat audio juga memanjakan lewat visual yang bisa membuat para penggemar drama korea histeris.

Event dibuka oleh MC Abe Barzak dengan ucapan-ucapan yang lazim didengar saat pembukaaan suatu acara. Peeple Private Gigs kali ini memiliki format yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Jika biasanya ada sesi interaksi yang terselip di antara peformance band. Kali ini, sesi interaksi hanya diadakan di awal.

Sesi interaksi dimulai dengan perkenalan dan sejarah singkat Soleluna. Pada awal terbentuknya, duo ini bernama Soleluna X Myxomata. Seiring waktu, kedua personil mulai berpikir untuk mengubahnya dengan pertimbangan nama tersebut yang terlalu panjang. Setelah beberapa daftar nama muncul untuk dipertimbangkan akhirnya Randy Rajavi dan Abdi Iqbal memutuskan menggunakan nama Soleluna. Soleluna sendiri diambil dari bahasa Itali yang berarti matahari (Sole) dan bulan (Luna). Dua kata ini dianggap sangat pas dengan format duo mereka. Lebih lanjut dijelaskan bahwa nama Soleluna terinspirasi dari Astronomer, Philosopher seperti Giordano Bruno dan Galileo. Untuk ke depan, personil Soleluna mengungkapkan masih akan fokus di sekitar pembuatan album dan eksplorasi musik.

Bersamaan dengan selesainya sesi interaksi, maka dimulailah penampilan Soleluna malam itu. Ruangan yang hening mulai diisi suara petikan-petikan gitar Randi Rajavi dan harmoni bunyi-bunyi hasil synthesizer dari Abdi Iqbal. Ringkih dan Jelajah menjadi lagu yang mengawali pikiran juga pendengaran saya bersenang-senang. Bebunyian yang kompleks tapi bisa diterima secara sederhana.

Sebagai lagu ketiga, Soleluna membawakan lagu yang berjudul Nebula. Jika diartikan, Nebula adalah sebutan untuk segala benda-benda langit. Tiap bebunyian dalam lagu ini berhasil menciptakan atmosfer tentang ruang yang luas dan banyaknya benda-benda di angkasa. Namun, di saat bersamaan ada ketenangan di dalamnya. Walaupun kenyataannya saya belum pernah melewati atmosfer bumi sekalipun. Gambaran tentang angkasa dalam kepala saya hanya sebatas dari film atau tayangan dokumenter di televisi.

Selanjutnya, duo yang sudah lalu lalang sejak 2015 ini berkolaberasi bersama Dian dari Theory Of Discoustic. Mereka me-cover lagu dari Massive Attack yang berjudul Teardrop. Ini menjadi satu-satunya lagu dengan lirik yang dibawakan pada malam itu. Jujur saya sempat kaget ternyata mba Dian ini perempuan ramah yang sebelum tampil, selain menikmati musik juga sibuk menawarkan kursi kosong di depannya untuk duduk.

Selanjutnya, Soleluna membawakan New Ripple sebelum menutupnya dengan Sky Fall. Saya sempat merekamnya sedikit dengan handphone dengan memori pas-pasan. Entah bagaimana menjelaskannya, beberapa bagian pada lagu ini membuat saya mencapai puncak kepuasan dalam mendengar lagu. Hal serupa saya rasakan pada bagian “She looks like the real things, she taste like the real things…” dalam lagu Fake Plastic Tree. Ada emosi yang dimainkan pada bagian-bagian tersebut, hanya Sky Fall dari Soleluna berhasil melakukannya melalui bebunyian instrumen. Bahkan tanpa perlu lirik yang menjelaskan “apa” dari lagu ini. Selepas lagu terakhir, Soleluna menutup event ini dengan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dan dukungan penonton yang hadir.

Saya setuju dengan Aan Mansyur yang juga hadir saat itu. Menurutnya, saat sedang menulis dia suka mendengarkan musik ambient. Terutama saat sedang menulis. Bebunyiannya yang tenang dan tidak ada lirik yang bisa mendistraksi menjadi alasannya. Soleluna sebagai duo yang mengusung gaya musik ini di dalam karyanya—walaupun sudah ditambahkan sedikit sentuhan folk, etnik, hingga postrock di dalamnya—tetap membentuk kesan menyenangkan dan menenangkan. Apalagi dari musik yang diusung Soleluna, terlihat keistimewaan musik ambient yang mampu mengakari hingga ke genre musik lain mulai dari yang chill, down tempo, hingga yang up beat. Maka bukan tidak mungkin akan ada lagi hasil-hasil eksplorasi lainnya dari Soleluna. Yang tidak hanya didengarkan hanya untuk menenangkan tapi juga untuk memacu semangat.

Terakhir, yang perlu diapresiasi yaitu Peeple Private Gig ini sendiri. Event ini mampu hadir sebagai wadah yang lebih menggemakan musik-musik lokal, walau hanya dalam bentuk gig kecil yang intim. Tapi, bukankah kita sangat menikmati yang intim-intim?

Simak 2 video penampilan Soleluna di Peeple Private Gigs berikut ini: