Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Membaca novel,  entah hobi atau mungkin untuk sekedar hiburan, tanpa disadari ternyata mempunyai kerumitan laten. Mata harus terus bergerak mengikuti kata yang berjejer rapi, pikiran menerka, menciptakan gambaran suasana yang tertulis, dan hati bisa seperti diaduk-aduk bahkan saat tubuh kita sebenarnya hanya duduk di sofa. Membaca novel juga harus memperhatikan detail-detail karakter, suasana atau tempat, memahami konflik, mengerti cerita dari tiap karakter dan kaitannya satu sama lain.

Karena membaca novel punya kerumitan laten, sempat saya tanamkan pemikiran bahwa buku apapun, siapapun penulisnya, pada akhirnya akan ada kesan tersendiri yang tertinggal. Rasanya seperti mencapai keberhasilan setelah berusaha keras. Ada sesuatu pada akhir cerita, sesuatu yang jelas entah itu akhir bahagia, ataupun akhir menyedihkan. Tapi semuanya berubah ketika beberapa teman, menyarankan, memperkenalkan, dan meminjamkam buku-buku Haruki Murakami, rasanya seperti diberikan jarum suntik berisi obat.

Norwegian Wood suntikan pertama (Efek pertama rasanya aneh bikin pusing), lalu suntikan kedua Dengarlah Nyanyian Angin (Efek kedua masih pusing tapi mulai terbiasa), selanjutnya Kafka On the Shore (Efeknya mulai terasa menyenangkan), yang terakhir IQ84 (Efeknya menyenangkan, perasaan menggebu-gebu, dan membuat adrenalin terpacu). Setelah beberapa suntikan, akhirnya saya sadar, selalu ada satu perasaan yang sama saat efek dari suntikan itu hilang, dan itu membuat saya mengambil kesimpulan Haruki Murakami itu “kurang ajar”.

Kurang ajar kenapa? Bayangkan saja seperti ini….

“Suatu sore Kau berjalan, lalu semesta mulai memunculkan anomali di sekitarmu, ada kucing yang terus mengikuti langkahmu, lalu hujan tiba-tiba datang, mengharuskanmu berteduh. Saat kau berteduh, kau bertemu seorang perempuan. Memakai kemeja, dengan rok semata kaki, bersepatu cokelat, berambut panjang, di tangan kanannya tersemat gelang hitam,  dan cincin di jempolnya. kaupun terpesona. Tanpa sadar, hujan mulai mereda, deras berganti rintik, senja berlalu. Dan malam itu, bulan di langit ada dua. Lalu kau memberanikan diri mengajak perempuan itu berjalan keliling kota, seketika kau merasa nyaman. Lalu dari tempat yang kau lalui memutarkan lagu “I Want To Hold Your Hand” dari The Beatles, dan liriknya terus tersugesti di pikiranmu dan akhirnya kau memberanikan diri untuk memegang tangannya. Dia menyambutnya dengan senang hati, akhirnya kalian memutuskan ke  bioskop, menonton film “Memento”nya Christopher Nolan. Di bioskop kau senyum-senyum sendiri menikmati matanya yang berbinar dibanding konsentrasi dengan plot twist filmnya.

Dari bioskop kalian berjalan lagi. Membeli kopi panas, mengitari kota, tertawa, mengobrol banyak hal. Mulai dari musik kesukaan sampai aktifitas sehari-hari. Melewati lapangan bermain, detak jantungmu semakin tak tentu, adrenalinmu terpacu, hatimu menggebu-gebu, dan akhirnya kau memutuskan untuk mengungkapkan perasaanmu padanya. Dan saat kau mengatakannya, di saat itu pun kau sadar, perempuan itu sudah tidak dalam genggamanmu, dia hilang. Bukan lagi tangannya yang kau genggam, hanya angin yang bertiup di antara sela jari-jari. Kau berakhir berdiri sendiri di tengah lapangan, pikiranmu yang tadi terisi banyak hal tiba-tiba hampa. Angin sejuk sisa hujan sore tadi masih bertiup. Membawa daun rapuh jatuh. Beberapa tetes air masih menetes dari ranting pohon. Kucing yang dari awal mengikutimu, mengeong manja di kakimu. Dan kau baru sadar bulan ada dua. Kau bingung, mencoba mengingat awal perjalananmu, apa saja yang terjadi, dan kenapa berakhir seperti ini. Yah kau berakhir hampa, sendiri dan penuh pertanyaan.”

Seperti itulah perasaan saya setelah membaca beberapa buku Haruki Murakami, berakhir dengan halaman kosong, dan kebingungan, tidak percaya kalau itu adalah halaman terakhir yang kau baca, setelah semua detail tiap karakter atau tempat yang coba kau pelajari, alur yang menarik perhatianmu. Alur yang memaksa otakmu berkonsentrasi, konflik yang memainkan emosi, dia berhenti tanpa memberi kejelasan. Dan tanpa sadar kau akan mencoba membuka kembali beberapa halaman, seakan itu bisa membuat akhirnya lebih jelas, berharap akan ada beberapa kalimat lagi yang memperjelas akhir cerita. Iya, Haruki Murakami sekurang ajar itu!

“I am nothing. I’m like someone who’s been thrown into the ocean at night, floating all alone. I reach out, but no one is there. I call out, but no one answers. I have no connection to anything.” -Haruki Murakami, IQ84.

Well said, Haruki.


Baca tulisan lainnya dari Aswan Pratama

Mengenal Mise En Scene Bersama Memburu Harimau

Alasan Orang Harus Memiliki Media Sosial

Lingkaran Setan Lalu Lintas Makassar

Lain Kali Ikuti Imbauan Sang Raja Dangdut

Ulat Risih Menjadi Kupu-kupu Toleransi