“Kami tidak berkarya untuk diterima masyarakat. Opini publik tidak relevan saat kamu ingin berkarya.” —Moshes and Taps

Kamu, jika tinggal di Makassar, pasti akrab dengan pemandangan coretan dan gambar di dinding-dinding kota. Hampir semua kota besar di dunia memiliki dinding dengan coretan bertuliskan nama, pesan, gambar, bahkan curahan hati. Sebagian orang menyebut aktivitas semacam ini sebagai perusakan atau vandalisme. Sebagian lagi menyebutnya ekspresi seni, perlawanan, dan eksistensi. Lalu, di sisi mana sebetulnya aktivitas coretan dinding ini?

Mencoret dinding sudah berlangsung sangat lama. Sejak zaman berburu-meramu, manusia sudah menggunakan dinding sebagai media gambar dan tulis. Banyak temuan di gua berupa dinding dengan coretan atau gambar, salah satunya adalah gua prasejarah Grotte Chauvet di Prancis. Gua ini diperkirakan berumur 32 ribu tahun. Tetapi, hal yang menarik perhatian orang dari Grotte Chauvet adalah lukisan yang tersebar di seluruh sudut dinding gua. Lukisan itu menampilkan gambar-gambar hewan seperti kuda, bison, singa, dan tentang proses perburuan. Coretan dinding gua tidak hanya terjadi di Eropa dan sekitarnya. Satu setengah jam dari Makassar ke arah Maros, di wilayah pegunungan karst, kamu dapat menemukan gua-gua dengan peninggalan coretan dinding. Salah satu yang terkenal yaitu gua prasejarah Leang-Leang yang disebut oleh BBC sebagai gua dengan peninggalan stencil tangan tertua di dunia; berumur 40.000 tahun. Teknik stencil yakni proses gambar melalui cetakan pola. Prosesnya diperkirakan si pelaku seni mengunyah pigmen warna yang diperoleh dari tumbuhan atau biji-bijan, lalu disemburkan ke tangan yang ditempelkan ke dinding hingga terbentuklah cetakan tangan. Begitu kira-kira. Tetapi, kita tidak akan membahas gua dan prasejarah di sini. Kamu tentu bisa menelusurinya lebih jauh melalui Google. Kesimpulannya: nenek moyang kita sejak dulu telah memproduksi seni, sekaligus melakukan vandalisme.

Seiring perkembangan peradaban manusia, aktivitas melukis di tembok modern menjadi ledakan gerakan baru bernama Street Art. Para pelaku seni jalanan generasi baru ini mengembangkan varian dalam berkarya menggunakan teknik graffiti, mural, stencil, poster, wheatpaste, stiker, patung, seni instalasi, dan lain sebagainya. Street art menjadi gerakan budaya tanding terbesar setelah Punk. Seni yang kontradiksi dari seni konservatif. Jika seniman-seniman harus saling sikut untuk bisa berpameran di galeri nasional, street artist justru menjadikan jalanan sebagai media untuk memamerkan karya-karya mereka agar bisa dinikmati banyak orang dengan gratis tanpa harus mengunjungi galeri.

Pertanyaan: kenapa menggunakan dinding jalanan? Jawabannya: Street Art  sepantasnya berada di jalanan. Jika di toilet, namanya mungkin toilet art. Atau, jika digambar di kanvas dan berada di ruang kelas, dia adalah foto tokoh nasional bukan Street Art. Konteks jalanan yang dimaksud mencakup dinding-dinding di ruang publik. Artinya, ruang yang diisi oleh banyak interaksi orang-orang. Jika kamarmu dapat diakses oleh banyak orang, kamarmu menjadi ruang publik. Atau, jika WC di rumahmu bisa dipakai orang banyak, berarti ia WC publik. Berarti menggambar di dinding kamarmu atau di WC-mu juga adalah aktivitas seni jalanan. Sederhananya, ruang publik adalah ruang yang bisa diakses oleh banyak orang.

Semangat Street Art bukan untuk meminta ruang, tetapi untuk merebutnya kembali. Ruang publik idealnya adalah milik publik, bukan milik segelintir orang. Tetapi yang terlihat adalah ruang publik hanya diakses oleh dominasi perusahaan periklanan, perusahaan jasa, tidak lupa spanduk dan poster kampanye Caleg jika musim pemilu tiba. Jika perusahaan periklanan menempel poster di jalanan disebut bisnis, mengapa membuat karya di jalanan disebut perusakan? Proses domestikasi publik terhadap ruang terjadi dalam privatisasi ruang publik. Hal ini juga yang menjadi alasan kenapa aktivitas seni jalanan kerap diidentikkan sebagai aksi-aksi vandalisme– sebab seringkali dilakukan tanpa permisi.

Banyak dari street artist memilih untuk menjaga identitas diri dengan menggunakan nama inisial saat berkarya. Hal ini dilakukan sebab seni jalanan masih dianggap sebagai perusakan dan itu berarti bisa berhadapan dengan hukum. Jadi agar tidak berurusan dengan otoritas, para pelaku seni jalanan memilih menjaga identitas diri mereka dengan tetap anonim atau tidak membuka identitasnya aslinya ke publik. Walaupun begitu, tidak semua pelaku seni jalanan memilih anonimus. Beberapa dari mereka, tentu saja, menggunakan identitas asli mereka. Alasan lain memilih anonimus adalah perkara reputasi si seniman di publik. Seorang bomber dan seniman ternama akan mendapat perlakuan berbeda ketika mereka berkarya di jalan.

Di Makassar, sebagian besar pelaku seni jalanan menggunakan inisial dan menuliskan nama mereka di sudut-sudut tembok kota sebagai Si A atau Si B dan seterusnya. Kegiatan menuliskan nama atau kalimat di tembok ini disebut Tagging. Sejauh ini, kita melihat jenis aktivitas tagging lebih mendominasi coretan di tembok-tembok jalan. Tagging adalah bentuk garffiti yang lebih mudah dilakukan dan tidak memakan waktu dibandingkan membuat mahakarya atau biasa disebut piece dengan tingkat kerumitan bentuk, garis, warna, dan pesan yang lebih variatif. Aktivitas tagging adalah bentuk transformasi visual dari pengakuan eksistensi. Seperti halnya nenek moyang kita yang melukis dinding gua ribuan tahun lalu. Analogi eksistensi ini kita sederhanakan saja, misalnya, tanpa lukisan tangan di dinding Gua Leang Leang kita mungkin tidak akan tahu kalau pernah ada manusia di gua tersebut. Proses transformasi (visual) dari tiada ke ada adalah bentuk pure dari eksistensi diri.

Hari ini, aktivitas seni jalanan menjadi topik yang seksi untuk diperbincangkan terlepas apakah kontennya memposisikan aktivitas ini sebagai hal positif atau negatif.  Seperti dalam sebuah artikel berjudul Vandalisme di Kota Dunia yang ditulis oleh seorang dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Makassar. Dalam artikel tersebut, penulis menghubungkan aktivitas graffiti dengan tindak kriminal semisal kejahatan geng motor yang marak terjadi di Makassar belakangan ini. Graffiti menjadi topik di banyak media massa. Beberapa artikel di koran atau berita di televisi membahas seni jalanan sebagai bentuk apresiasi seni anak muda, sebagai bentuk kreativitas, bukan lagi aksi vandalisme. Namun, semua itu hanya bentuk konformitas remeh agar seni jalanan dapat diterima banyak orang.

Pada umumnya, orang menilai bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan di jalanan adalah melanggar hukum. Begitu pula dengan aktivitas seni jalanan dan graffiti yang banyak dikerjakan pada malam hari dan tanpa permisi. Kita jadi mudah mendefinisikan seseorang baik atau buruk dengan melihat aktivitas mereka di ruang-ruang publik. Terkait hal ini bagaimana tanggapan seorang pelaku seni jalanan merespon anggapan masyarakat terhadap aktivitas yang mereka lakukan? Perdebatan mengenai hal ini di skena seni jalanan dan graffiti sendiri sudah menjadi cerita lama dan tidak penting lagi untuk dibahas. Sejak kehadirannya di awal era 70-an, graffiti sudah lekat dengan citra vandalisme dan kriminal karena dilakukan secara masif dan sporadis. Graffiti adalah musuh besar otoritas di banyak negara hingga di New York, Amerika dibentuk polisi khusus menangani aksi-aksi vandalisme yang disebut Vandal Suad di bawah komando NYPD. Beberapa negara lain seperti Singapura atau Jepang membuat regulasi hukum yang sangat ketat pada jenis aktivitas graffiti dan seni jalanan. Bisa berupa denda tinggi atau hukuman penjara sekian tahun. Tidak sedikit pelaku seni jalanan yang tertangkap saat berkarya di ruang publik. Mungkin tidak semua tapi sebagian besar pelaku seni jalanan memiliki cerita berhadapan dengan hukum akibat kegiatan yang mereka lakukan. Artinya, Graffiti tidak akan lepas dengan citra vandalisme seberapa besar pun usaha untuk memurnikan nama graffiti, akan tetap ada coretan-coretan liar di dinding kota. Pertanyaannya,  why should we hate street art?

*

Tulisan ini sama sekali tidak untuk menjustifikasi kultur graffiti dan seni jalanan. Bukan pula  sebuah manifesto. Tulisan ini saya buat berdasarkan pengamatan saya secara subjektif. kriktik, diskusi, dan sejenisnya silakan dikirim ke Swatantra@riseup.net