Karena setiap lembarnya, mengalir berjuta cahaya. Karena setiap aksara membuka jendela dunia. –Efek Rumah Kaca

Burung jadi obrolan hangat di ruang baca Katakerja (@katakerja65) hari itu. Senin, 15 September 2014, merupakan kali pertama pertemuan Klub Buku Katakerja. Ide membuat klub buku lahir dari kegalauan di Kelas Menulis Kreatif yang dilaksanakan di Katakerja sekali dalam sepekan.

Klub Buku adalah kegiatan sebulan sekali. Setiap peserta wajib membaca satu buku yang sama untuk didiskusikan saat pertemuan. Di klub ini kita belajar menemukan hubungan isi satu buku dengan peristiwa nyata yang sudah maupun sedang berlangsung. Selain itu, anggota klub juga belajar proses kreatif seorang penulis.

Accang (@accangStupidea) mengawali obrolan tentang novel terbaru Eka Kurniawan sore itu, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, dengan cerita seorang anak muda yang mati sekisar seminggu sebelumnya. Anak muda itu mati karena kena anak busur panah di pelipis kirinya. Kekerasan antar kelompok pemuda yang sering terjadi di Makassar mengganggu pikiran Accang. Selain soal burung yang tidak bisa berdiri, menurut Accang, novel Eka terbaru itu menceritakan kekerasan (perkelahian) secara fisik. Satu pertanyaan yang tumbuh di pikirannya: kenapa orang mesti berkelahi secara fisik untuk menyelesaikan persoalan mereka?

Machoism atau maskulinitas, menurut Mulyadi (@dhysaussure) yang juga hadir di pertemuan itu, adalah satu ihwal lain yang diangkat oleh Eka Kurniawan di novel terbarunya. Eka hendak mempertanyakan apakah maskulinitas (kelaki-lakian) dilihat dari cara memakai burungnya, kata Mulyadi. Persahabatan Si Tokek dan Ajo Kawir tidak luput pengamatan pustakawan Katakerja ini.

Ria dan Hilda, dua perempuan berjilbab yang hadir, menanggapi penggunaan burung dan beberapa adegan percintaan dalam novel Eka itu terlalu vulgar. Hilda menemukan soal kehidupan nyata yang penuh kekerasan dan burung Ajo Kawir hendak menjauhi kenyataan itu. Sementara Arkil memandang novel itu menampilkan sisi religius Eka Kurniawan.

Aan Mansyur (@hurufkecil) penasaran pada satu hal, yaitu terhadap respon pembaca dari kalangan perempuan. Aan juga membandingkan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas dengan novel pertama Eka, Cantik Itu Luka. Keduanya menampilkan tokoh perempuan yang tidak berdaya, berada dalam tekanan kuasa. Iteung, salah satu tokoh perempuan dalam Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, harus membuat dirinya seperti laki-laki untuk keluar dari ketidakberdayaannya. Bukannya berusaha melawan sebagai dirinya sendiri, seorang perempuan.

Paling penting dari keseluruhan cerita-cerita di dalam novel yang bersampul oranye dan bergambar seekor burung itu adalah perihal kekuasaan negara—menurut bahasa politiknya—atau hubungan pemerintah dengan rakyat. Eka Kurniawan menyuguhkan cerita orang-orang kecil menyiasati hidup mereka untuk melawan kekuasaan negara. Meskipun, pada akhirnya mereka kalah. Kesan serupa tampil di karya-karya Eka yang lain. Tokoh-tokoh ciptaan Eka selalu bertekuk lutut di hadapan kekuasaan yang menekan mereka.

Eka Kurniawan menampilkan negara dengan menciptakan sejumlah karakter. Pertama, dua orang polisi yang memerkosa seorang perempuan gila, Rona Merah. Dua orang polisi inilah yang menyebabkan burung Ajo Kawir tidak bisa berdiri selama bertahun-tahun. Kita semua tahu, polisi adalah aparat negara.

Kedua, Guru BP Iteung di sekolah, Pak Toto. Dialah yang memecah perawan Iteung. Sehingga Iteung berniat belajar silat dengan alasan melindungi kelaminnya. Namun, peristiwa di ruang BP itu membuat Iteung terus memimpikan burung hitam Pak Toto. Kita belum lupa tentang kasus pedofil beberapa bulan lalu.

Ketiga, tentara. Para tentara membuat satu arena perkelahian di tengah-tengah kebun salak. Petarung-petarungnya diperoleh dari berbagai daerah, Maluku, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan lainnya. Petarung-petarung itu dibayar untuk berkelahi, meski resikonya patah tulang sampai kehilangan nyawa. Para tentara mendapat untung dari taruhan dan bayaran penonton.

Polisi, guru, hingga tentara merupakan perpanjangan tangan negara. Ada tokoh serupa itu yang juga menarik diperhatikan: ayah Ajo Kawir yang merupakan pegawai di perpustakaan daerah dan sama sekali tidak tampak perannya dalam cerita, namun beberapa kali disebutkan.

Novel terbaru penulis lulusan filsafat UGM ini menunjukkan satu cara sederhana untuk memahami cara kerja kuasa negara yang mempengaruhi hidup orang-orang kecil. Kekuasaan negara bahkan bisa berakibat terhadap hal yang sangat intim (personal) seseorang. Burung Ajo Kawir contohnya. Negara bisa menaklukkan alat vital seorang pria!

Orang lain di sekitar Ajo Kawir juga terkena dampaknya. Si Tokek (sahabat Ajo Kawir), misalnya. Ia berjanji tidak akan meniduri satu pun perempuan sebelum Ajo Kawir bisa ngaceng. Negara juga bisa memengaruhi relasi antarmanusia di bawahnya.

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas juga menggambarkan dengan sederhana persekongkolan pengusaha dan penguasa. Kematian Agus Klobot, suami Rona Merah, merupakan imbas dari politik. Singkatnya, gara-gara politik Rona Merah menjadi janda, lalu burung Ajo Kawir tidak bisa berdiri selama bertahun-tahun. Soal persekongkolan pengusaha dan penguasa juga bukan sekadar fiksi. Kesemrawutan Makassar—dan kota lain di negara ini—adalah buktinya.

Beberapa adegan menarik dalam novel itu juga jadi obrolan yang beberapa kali diselingi tawa itu hingga menjelang Isya. Di antaranya, adegan balapan truk Mono Ompong dan Si Kumbang, pertarungan di arena di tengah kebun salak antara Mono Ompong melawan Si Kumbang, dan malam pertama Ajo Kawir yang harus cuci tangan lebih dulu sebelum menggagahi Iteung.

Ada juga adegan yang menyebalkan dan mengganggu. Novel ini berakhir dengan amat menyebalkan, menurut Faisal Oddang (@sajakimut). Pada usia dua puluh tahun Ajo Kawir tiba-tiba jadi begitu filosofis mengherankan Arkil dan Accang. Mulyadi kecewa kepada Iteung yang awalnya tampak sungguh-sungguh mencintai Ajo Kawir, namun berkhianat, berselingkuh dengan Budi Baik, teman Iteung di perguruan silat.

Proses kreatif Eka Kurniawan tidak lupa didiskusikan oleh peserta Klub Buku. Dalam proses penulisan novel terbarunya itu, Eka melakukan riset terhadap kehidupan supir truk. Kegemaran Eka membaca cerita-cerita silat dan novel stensilan tampak dalam novel itu. Juga pengaruh karya penulis-penulis dunia yang pernah dia baca.

Perihal kevulgaran adegan maupun pemilihan kata, seperti kuntul dan ngaceng, tidak boleh menjadi tabu dalam tulisan—apapun bentuknya. Sebab, hal-hal tersebut gamblang dan terang-terangan dalam obrolan keseharian kita. Eka menyingkirkan ketabuan itu dan justru membikin kita lebih paham karakter setiap tokohnya. Kamu bisa membaca tulisan Eka di sini 

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas menghapus garis pembeda antara fiksi dan nonfiksi yang selama ini kita kenal. Cerita-ceritanya berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Kita lebih mudah memahami hubungan kekuasaan (pemerintah) dengan kejadian-kejadian yang kita alami dan amati. Eka Kurniawan dengan lihai mengemas persoalan besar kita menjadi cerita yang apik. Peristiwa-peristiwa dirangkai menjadi semacam metafora yang bisa digunakan untuk melihat kembali persoalan-persoalan pembacanya di dunia nyata.

Bagi kamu yang ingin ikut Klub Buku ini, bulan depan kita akan mengobrolkan kumpulan cerpen A.S. Laksana, Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-Hantu. Klub ini gratis dan menyenangkan. Alangkah bagusnya jika di obrolan nanti kamu membawa tulisanmu, dalam bentuk apa saja, soal buku itu. Biar diskusi dan belajar kita lebih seru. Read books and write whatever the hell you want to read. [ ]