Tulisan yang lalu saya iri pada kota New York. Dan ya, sampai sekarang rasa itu masih ada. Dan harapan saya kian membesar seiring makin oke-nya perfilman Makassar. Film yang sedang hits akhir-akhir ini; Bombe’, sudah mewujudkan Makassar yang sunyi di tempat-tempat yang selalu ramai. Love it!

Kali ini, rasa iri hati saya merambat ke Negeri Gingseng, Korea. Berawal dari drama series-nya dan sebuah (ehem) boyband bernama SHINee (tidak usah di-googling saja, yah), saya menaruh rasa yang lebih pada Korea. Layaknya orang yang tertarik, dunia Internet lalu menjadi Dewa dengan kekuatan maha dasyat untuk memuaskan rasa ingin tahu saya.

Berbagai macam keyword saya tanyakan kepada Google. Walaupun sering salah fokus membaca artikel daftar artis korea yang operasi plastik dan kabar rilis video klip terbaru SHINee, saya sampai juga di sebuah artikel berjudul “These Ten Cities Have the Best Public Transit in the World” dan kota Seoul di Korea Selatan menempati posisi pertama.

Terpesona dengan kelancaran Lee Min Ho berkendara di jalanan pada drama City Hunter, dan tercengang pada adegan-adegan pemeran utama yang marah lalu seenaknya berhenti di tengah jalan untuk berdebat lucu-lucu, saya yang polos ini lalu berkeinginan untuk berkemah di jalanan yang terbentang di sana. Melihat lengangnya jalanan yang terekam di drama-drama series itu, sepertinya berkemah di sana akan menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Keinginan untuk berkemah dan memasang tenda di jalanan di Seoul yang memiliki slogan Hi, Seoul!, membuat saya sedikit lebih memperhatikan jalanan di Kota Makassar. Niatnya untuk mencari lokasi dimana bisa latihan berkemah di jalanan.

Yang pertama kali saya lirik adalah trotoar. Trotoar ini adalah elemen jalanan yang paling pasrah. Atau anggap saja multifungsi, agar tidak terlalu menyedihkan bagi trotoar. Dia kadang menjadi tempat parkir, tempat jualan atau jalanan alternatif untuk sepeda motor.Orang-orang suka sekali mengubah fungsi trotoar, dia jadi kesulitan menentukan jati dirinya. Moodnya berantakan, sehingga dia hanya hadir di beberapa jalan-jalan tertentu seperti Jalan A.P Pettarani, Jalan Urip Sumoharjo dan Jalan Jendral Sudirman.

foto: infomks.co

Di jalan-jalan yang ruasnya tidak terlalu lebar, para Pejalan Kaki harus tidak boleh memanas ketika di klakson karena berjalan di bahu jalan, harus gesit berjalan di celah kecil antara selokan macet dan jalan raya.Dan itulah alasan saya tidak bisa memasang tenda di trotoar. Saya tidak mau mengalihkan fungsi trotoar sebagai tempat berkemah, biarlah pejalan kaki memiliki sepenuhnya trotoar-trotoar itu.

Selanjutnya adalah transportasi publiknya. Ini harus saya perhatikan, karena jalanan di kota Makassar ini bukan hanya milik kendaraan pribadi, ada juga pete-pete, bentor, ojek dan becak. Saya sendiri suka pete-pete karena banyaknya kejutan dalam perjalanan bersamanya. Dan sejauh ini masih bisa bertahan dalam diam menghadapi tipe-tipe Supir Pete-pete selama dia bukan tipe Supet nomor 3 dari daftar ini.

Tapi, tidak semua orang suka kejutan, apalagi di jalan dimana semua orang berusaha hati-hati. Sayangnya, pete-pete terlalu konsisten dengan jati dirinya. Ungkapan “hanya Tuhan dan Supir Pete-pete yang tahu kapan dia akan berhenti” masih terjaga dengan baik. Saking baiknya, mungkin Dinas Pariwisata Makassar harus sudah mulai memikirkan sebuah kalimat kreatif untuk menjadikan tagline itu sebagai slogan Pariwisata Kota Makassar.

Lalu bentor, ojek dan becak yang silih berganti mengangkut penumpang ke sana ke mari. Ini adalah alasan lainnya berkemah di jalanan, masih Kota Seoul yang saya jadikan andalan. Sulit sekali membuat tenda saya tegak berdiri di tengah jalan dengan tingkat kepadatan kendaraan di Kota Makassar ini.

Saatnya mencari celah lain. Zebra cross adalah lokasi yang saya taksir berikutnya. Wilayah ini cukup berpotensi, mengingat dia adalah wilayah yang (seharusnya) bebas kendaraan karena dia digunakan sebagai tempat penyebrangan pejalan kaki. Karena kurangnya pejalan kaki yang ada di Makassar, saya menaruh harapan besar pada zebra cross.

Sayangnya, saya harus kembali gigit jari.

Sedikitnya jumlah pejalan kaki yang memfungsikan zebra cross membuat zebra cross diperlakukan nyaris sama seperti trotoar. Bukan sebagai tempat penyebrangan, melainkan sebagai tempat pengendara motor, juga pengemudi mobil (kadang-kadang) menunggu lampu berubah hijau.

Melihat keadaan zebra cross di beberapa bagian, saya lalu merasa tidak bisa menyalahkan para bapak-bapak dan ibu-ibu pengendara atau pengemudi yang terhormat. Cat yang sudah lama tidak diperbaharui membuat zebra cross seolah menghilang dari atas aspal. Jarangnya zebra cross muncul pun, membuat pejalan kaki memutuskan untuk menyebrang dimana saja yang memungkinkan. Oh… betapa kita membutuhkan lebih banyak jembatan penyebrangan.

Saya ingin memasang tenda di trotoar pembatas jalur kanan dan kiri yang terbentang di sepanjang Jalan A.P Pettarani, tapi kemudian saya mengurungkan niat tersebut. Pohon-pohon di sekitar malah ditebangi. Sungguh, saya tidak mengerti mengapa itu harus terjadi.

Hmm… haruskah saya ceritakan betapa menyebalkannya tempat pembuangan sampah yang tidak teratur sehingga baunya ada dimana-mana? Atau selokan yang tersumbat dan tampilannya menjadi sangat mengerikan? Ya, selokan-selokan itu juga sering sekali membuat saya berdoa agar tidak ikan-ikan di sana tidak berevolusi menjadi makhluk menyeramkan karena harus selalu makan sampah.

Itulah alasan saya tidak mau mendirikan kemah di pinggir jalan. Indera penciuman masih terlampau waras untuk menyerahkan diri pada bebauan tak karuan.

Tentang demo-demo itu mungkin tidak udah saja saya bahas. Kita semua tahu sendiri rasanya. Saya juga khawatir tenda saya akan jadi sasaran berikutnya setelah ban-ban habis terbakar.

Melihat efisiennya transportasi publik di Korea lewat situs ini, saya lalu membayangkan keseruan melihat bus berwarna-warni sambil minum teh hangat di depan tenda.

Namun, rasa iri kali ini bisa lebih saya kontrol ketika melihat BRT beroperasi, dan melihat tukang bangunan sibuk membangun shelter bus yang ada di jalan Urip Sumoharjo depan kampus UMI. Perubahan sedang terjadi, Tugu Adipura menjadi salah satu bukti. Dan saya tidak sabar lagi menantikan bagian-bagian dari jalanan memfungsikan dan difungsikan sebagaimana tujuan diciptakannya. Mungkin, saat-saat itulah, saya bisa mendirikan tenda dengan nyaman di jalanan, biarlah tak bermalam.

Well, perubahan memang selalu punya dampak. Dan kita akan melihatnya tidak lama lagi. Tapi, semoga saja kita selalu punya orang-orang yang peduli.

Atau saya akan hubungi Lee Min Ho untuk menjadi City Hunter di Kota Makassar.[]

foto: Ultraviviolet.blogspot.com

image: Wonderful Indonesia