Oleh: Aslam Azis (@Aaslamazis)|Ilustrasi: Aisyah Azalya (@syhzly)

Hari Menanam Pohon?

Akar, batang, dahan, ranting, daun, dan buah adalah pohon. Komposisi yang lalu diistilahkan ilmiah, diklasifikasi lalu dipresentasi-kan dalam buku biologi SD, SMP, hingga SMA. Dilafalkan dengan hafalan, dituliskan berdasar hafalan, semuanya dengan hafalan. Lalu pengetahuan itu kini hilang, sesaat, seperti fatamorgana. Sebatas itukah konsep pohon dipahami? Terus untuk apa menanam dan menjamakkannya?

Hari menanam pohon?

Mengapa tak ada hari membuka lahan sebelum hari menanam pohon? Penghancuran gedung hingga rata misalnya, biar menjadi dengung di telinga para agung yang kerjanya lebih parah dari tukang sabung ayam, Membersihkan puingnya setelah hancur lalu menanaminya? Sebab di kotaku tak ada tanah lapang, kurang, sebentar lagi hilang, ekonomi dan ekologi saling silang. Bibit mau ditanam di mana?

Hari menanam pohon?

Mengapa tak ada hari merawat pohon? Hari menyiram pohon? Atau hari memetik buah dari pohon?  Sebagai follow up hari menanam pohon? Mungkin ada, tapi tak ada gema. Mungkin ada, tapi dianggap tak ada guna. Apakah karena pohon bukan nabi? Yang lahir, kenaikan, dan wafatnya selalu diperingati? Atau karena pohon hanyalah benda  hidup tak melawan, jika batangnya ditebang, dahannya disayat dan daun yang tak pernah protes ketika menjadi candaan bersama kawan selepas hujan? Setidak penting itukah?

M(H)ARI MENANAM POHON (!)

Bukankah menanam pohon berarti menyiapkan peluang hidup untuk generasi mendatang? Yang berarti juga menyiapkan ruang untuk para khalifah (pemimpin) masa depan?

Gerak alam adalah gerak manusia. Mari menyiapkan para penggerak yang baik untuk menciptakan cermin (gerak alam) yang baik pula. Memulai untuk peduli, karena sepertinya banjir terjadi ketika kau dan aku membuang sampah di sembarang tempat,  macet itu ketika kau dan aku bertemu pada sore hari di persimpangan Tello, panas itu ketika kau dan aku sama-sama tak peduli untuk menanam pohon.  karena kau dan aku adalah semesta.

Kita adalah keterhubungan yang tak terpisahkan, jadi mari menanam dan bergerak seperti pohon-pohon yang kelak berdaun rimbun, berbuah manis, bukan untuk kita, tapi anak cucu kita.[]