Sumber Gambar: P(h)ony Pictures

Di salah satu kegiatan tertutup SEAscreen Academy yang digelar pekan lalu (3/4) yang lazimnya hanya boleh diikuti oleh mentor dan peserta, saya juga menyempatkan diri untuk hadir karena keperluan liputan. Walau merasa tujuan utama saya sebenarnya bukan karena urusan media, tapi lebih karena saya suka menonton film. Ini adalah sebuah pemutaran film dan diskusi di mana film yang diputar merupakan karya dari salah seorang mentor SEAscreen, Tomomi Ishiyama berjudul Last Days of Summer. Tahun lalu saya menyaksikan Siti dan Lelaki Harapan Dunia juga di SEAscreen, dua film yang begitu menggugah, jadi saya pikir pasti ada alasan besar mengapa Last Days of Summer juga sampai ikut diputar–selain alasan karena Tomomi sebagai mentor, maksud saya.

Tomomi membuka Last Days of Summer dengan menceritakan bahwa sebelum menjadi seorang sineas, dia adalah seorang arsitek, makanya cerita-cerita yang dia angkat ke dalam filmnya selalu berhubungan dengan space and place. Last Days of Summer yang merupakan film pertama Tomomi ini bisa dibilang sangat kaya, berani dan ambisius. Apalagi untuk ukuran sebuah film debutan. Last Days of Summer dibentuk menggunakan banyak sekali karakter dengan banyak sekali isu lokalitas. Berlatar sebuah desa yang dulunya dikenal karena pabrik kayunya yang begitu produktif namun lambat laun hampir terlupakan, dibumbui masa kampanye politik yang membosankan di desa yang tenang. Beberapa isunya bahkan dekat dengan kebiasaan yang masih ada di Indonesia, seperti mitos yang menjadi bagian kehidupan sehari-hari masyarakat di Jepang yang kini berbenturan dengan pengetahuan modern, serta bagaimana sikap orang-orang desa ini menerima orang baru dalam komunitas mereka ketika orang tersebut adalah mantan narapidana. Dalam lingkungan perkotaan, ini bukan masalah besar, namun dalam lingkungan yang intim, seperti pedesaan, ini adalah sesuatu yang perlu dipikirkan secara serius.

Seperti halnya musim panas yang akan segera berganti dalam cerita ini, karakter utamanya, Mizuki juga sedang dalam proses berubah. Tubuh Mizuki sedang dalam masa puberitas. Perubahan ini membuat ia dilirik dan diperhatikan banyak orang, utamanya pria. Diperhatikan, namun tak memperhatikan, inilah yang dialami Mizuki. Sementara orang-orang bisa melihat perubahan tubuhnya, memujanya, bahkan ada yang mencemaskan dia akan diperkosa sama seperti kakaknya yang mati diperkosa beberapa waktu silam. Mizuki justru tidak bisa menyadari itu. Perubahan ini juga membuat teman dekatnya mencemburuinya. Fenomena ini, menurut Tomomi adalah bentuk the modern of punishment, sebuah gagasan yang Tomomi temukan karena kesukaannya membaca buku-buku filsuf Prancis, Michael Foucault. Melalui buku-buku Foucault, Tomomi menemukan Panopticon, sebuah penjara akhir abad ke-18 yang dirancang sedemikian rupa agar sipir penjara bisa melihat semua aktivitas para tahanan dalam sel, tapi para tahanan tak bisa melihat sipir tersebut.

last-days-of-summerscreen6_Revius

Seperti yang saya sebutkan bahwa Last Days of Summer kaya akan isu lokalitas, bukan hanya seputar tubuh Mizuki. Dengan isu-isu lokalitas inilah Tomomi juga memotret kisah orang-orang yang hidup di sekitar Mizuki. Isu yang berdiri sendiri lalu saling berpaut satu dengan lainnya. Setiap masalah menuai hasil dari masalah tersebut, lalu mempengaruhi aspek-aspek di sekitarnya yang juga sudah memiliki masalahnya sendiri. Kira-kira seperti itulah cara sederhana menggambarkan gaya bernarasi Tomomi. Sebuah rangkaian yang sangat kompleks yang mengikat perhatian.

Salah satu karakter yang paling menarik perhatian saya dalam cerita ini selain Mizuki adalah Junpei, mantan narapidana dari kota. Senasib dengan tubuh Mizuki, status Junpei juga menarik banyak perhatian orang desa. Keberadaannya menunjukkan bahwa bagi masyarakat pedesaan, gotong royong adalah hal yang masih dijunjung, di mana semua anggotanya saling mengenal, saling membantu, dan saling melindungi, berbeda dengan masyarakat perkotaan dengan pola hidup menyebar. Hadirnya Junpei ini membangkitkan prasangka dan awareness orang-orang desa untuk waspada dan saling melindungi, ketika kenyataannya belum tentu Junpei adalah ancaman.

last-days-of-summerscreen1_Revius

Ada satu adegan di mana seorang gadis berlari ketakutan ketika melihat tattoo di punggung Junpei yang saat itu tidak sadar sedang diperhatikan oleh si gadis. Menurut Tomomi, tattoo selalu dikaitkan dengan Yakuza, sosok yang selalu ditakuti di Jepang. Di Indonesia pun tattoo masih dikonotasikan negatif, walau tak ada Yakuza di sini. Bagi masyarakat perkotaan ide tentang tattoo memang sudah berkembang dan lebih terbuka, namun di pedesaan ide tentang tattoo berkembang lamban dan sempit. Perhatian yang didapat Junpei dan Tomomi dari orang-orang di sekitar mereka juga merupakan ungkapan bahwa mereka berdua produk tradisional jenis kelamin. Perempuan kerap dilihat sebagai objek seks, sementara laki-laki sering dianggap berbahaya.

Saya sempat menanyakan kepada Tomomi mengapa nama-nama musim sering dijumpai sebagai judul film-film Jepang. Menurutnya, musim adalah hal yang penting bagi kehidupan di sana. Setiap musim memiliki makna yang berkaitan dengan pola kehidupan, summer (musim panas) bermakna musim bekerja, seperti yang bisa dilihat di dalam Last Days of Summer. Ada banyak pekerjaan yang berjalan bersamaan di musim itu, kampanye yang tengah berlangsung, kesibukan para pengrajin kayu dalam sebuah pabrik tua, juga seorang peneliti yang sibuk meneliti pohon-pohon di hutan yang terserang hama. Namun bagi tokoh utamanya, Mizuki, proses perubahan musim panas ke musim gugur lebih mewakilinya, seperti halnya karakternya akan berubah dari gadis remaja menjadi perempuan dewasa. Jadi, Last Days of Summer sebenarnya banyak menggunakan simbol-simbol yang ingin dibahasakan. Tomomi mengakui bahwa ia sadar tidak semua orang akan paham dengan filmnya.

last-days-of-summerscreen4_Revius

Penggunaan simbol, lalu penggunaan gagasan Michael Foucault, tidak semua orang bisa paham atau familiar akan hal tersebut, oleh karena itu bagi Tomomi, pace adalah hal yang penting. Ia membutuhkan sebuah pace dengan irama cepat dalam bercerita agar penonton tetap tertarik mengikuti alurnya dari awal hingga akhir. Dan itulah yang saya rasakan ketika menyaksikan Last Days of Summer. Sebuah cermin dan perbandingan budaya antara Jepang dengan Indonesia yang diceritakan secara cepat karena setiap karakter, setiap masalah butuh ruang gambar untuk dieksplor dalam durasi yang terbatas. Simak trailer filmnya berikut ini.


Judul asli: Shôjo to natsu no owari | Sutradara: Tomomi Ishiyama | Tahun: 2012 | Genre: Drama, Comedy | Negara: Jepang | Rating: 3.5 / 4 Bintang