Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Saya mulai mengenal Iip sebagai seorang vokalis di sebuah band bernama Fase Band. Saat itu saya masih di bangku SMA, termasuk penonton setia panggung–panggung musik lokal serta pensi, dan utamanya pendengar setia salah satu program radio Madama yaitu Madama Indie 9 setiap Jumat malam. Fase Band kemudian menjadi legenda di panggung – panggung. Beberapa kali saya dan teman–teman di dekat rumah bertualang di setiap pensi yang menjajakan penampilan band Indie dari Makassar: Fosil (yang kemudian berubah menjadi Temprament), B-Five, The Hotdogs, Pemuda Garis Depan, Fuddy Duddy, The WR, Bloody Mary, ataupun Harakiri.

Seluruh penggemar musik lokal Makassar dan anak band yang tumbuh hingga besar sekitar tahun 2005, pasti mengenal Iip dan Fase Band. Mereka berjaya di era j-rock ( Japanese Rock) dan Muse mulai mewabah di panggung festival Makassar – saat itu musik funk dan hard rock progresif menguasai. Fase mewakili kedua hal itu, karakter musik yang nge-Muse dengan vokalis berkarakter dan berparas Hyde (vokalis legenda J-rock, L’arc~en~Ciel). Yang lebih menarik adalah Fase Band menjadi salah satu band perintis dalam merilis album secara independen di kota Makassar. Album penuh Cahaya Dirimu yang diproduksi dengan format kaset pita oleh mereka menjadi populer hingga ke pelosok daerah di Sulawesi Selatan. Fase Band menjadi salah satu bahan perbincangan di tengah skena musik independen Makassar yang masih prematur, dengan lagunya seperti “Cahaya Dirimu” atau “Sadari Dirimu”.

Foto sampul album "Cahaya Dirimu" dalam yang menyertakan foto para personil Fase Band. ( Foto: Dok. Tikka Massinai )

Foto sampul dalam album “Cahaya Dirimu” yang menyertakan foto para personil Fase Band. ( Foto: Dok. Tikka Massinai )

Pertemuan pertama kali saya dengan seorang Iip adalah di salah satu tongkrongan anak underground paling lawas se-Makassar: Cendrawasih 476 yang sempat dikenal dengan nama Killer Lab dan C-476. Saat itu saya bisa dibilang “anak kacuping” dan masih mengekor dengan rekan yang tergabung di band lokal semi-parodi bernama Bhulu Ayam. Taqlid itu kemudian mempertemukan saya dengan seorang Iip. Seorang frontman dari band yang saya idolai. Dia menyapa dan berbincang dengan saya. Jujur saja, saya tidak menyangka saat itu seorang musisi yang nama bandnya terpampang–pampang di berbagai pagelaran dan kasetnya sering saya putar (sayangnya, kaset tersebut sudah hilang), dengan ramah menyapa saya yang termasuk anak SMA cupu dan  masih melanglang buana di panggung festival kecil. Sangat jarang bagi saya mendapati artis indie yang pernah nongol di TV, (saat itu Iip pernah menjadi calon finalis salah satu kontes menyanyi di salah satu TV nasional) dengan ramahnya menyapa orang awam duluan. Dia menanyakan hal yang basa-basi di awal perkenalan, hingga mempertanyakan apakah saya anak band atau bukan, saya telah memiliki lagu atau belum. Iip kemudian memotivasi saya untuk merekam dan membuat lagu. Ibarat seorang Mario Teguh, dia menjelaskan bagaimana keutamaan menciptakan lagu dan mengudarakannya di radio–radio lokal.

Kata–kata seorang idola memang  terdengar seperti wahyu. Iip berhasil mengindoktrinasi saya untuk memproduksi lagu sendiri dibandingkan berburu untuk menjadi jawara atau gelar best player di festival. Serasa ada kejut listrik yang memacu untuk bermusik dan berkarya. Beberapa tahun kemudian, impian itu terwujud.  Saya dan rekan dalam satu band berhasil merekam lagu dengan materi pas-pasan dan semangat yang menggebu-gebu untuk masuk ke dalam chart Madama Indie 9 dan Bendie Prambors juga wara-wiri di EO dan sekolah-sekolah membawa demo, untuk sekadar tampil sebagai opening act di acara mereka.

Pertemuan saya yang selanjutnya dengan Iip adalah saat band yang terakhir saya tempati bermain, bertemu dengan band proyekannya di tahun 2009, untuk berkompetisi sebagai finalis regional salah satu ajang pencarian band nasional. Setelah itu, di twitter dan media sosial lainnya, Iip tak segan-segan menyapa atau sekedar me-retweet bila info gigs kami kicaukan atau infokan. Nyatanya, dia memang masih ramah dan support terhadap adik-adiknya di skena, di saat dia sukses memerankan seorang potret mahasiswa hukum idealis dalam film Aliguka dan bersama Fatah Tuturilino membawakan lagu “Hukum Kekekalan Tawa” sebagai musikalisasi puisi M. Aan Mansyur. Di salah satu panggung kami, dia tak segan mengucapkan selamat dan berkata, “Keren cess.”  Bahkan, di salah satu event yang band saya menangkan dengan hadiah mengunjungi perhelatan Soundrenaline di Yogyakarta, Iip–yang saat itu melanjutkan studi di sana–hendak mempertemukan kami dengan beberapa pelaku musik lokal untuk memperkenalkan skena musik Makassar lewat band saya, sekalipun saya tahu band kami tidak merepresentasikannya. Sayangnya, itu tidak terealisasi.

Kurang lebih dua hari lalu, saya mendapat kabar lewat timeline Facebook seorang teman, bahwa ia telah menghembuskan nafas terakhir. Cukup terlambat mendapatkan kabarnya, mengingat  sudah lebih seminggu lalu dia berpulang, tepatnya Sabtu, 30 Januari lalu. Saya kaget mendengar berita tersebut. Jujur saja, ada rasa kehilangan salah satu sosok yang menginspirasi juga pelaku seni yang ramah.  Seorang pelaku skena yang saya hormati.

Sekalipun saya tidak betul-betul mengenalnya atau berinteraksi banyak dengannya, ia dan bandnya pernah mempengaruhi skena musik lokal di satu masa, khususnya membagikan secercah mimpi kepada saya, seorang anak SMA yang dulunya tiada terlintas di kepalanya untuk bermusik dan berkarya. Iip menurut saya adalah salah seorang yang ingin melihat skena musik lokal lebih maju. Bersama keempat rekannya di Fase, dia merintis jalan yang generasi di bawahnya (mungkin) mengikuti. Selamat jalan, Iip. Terima kasih!


Baca tulisan lainnya dari Dhihram Tenrisau

Yang Terpelajar, Yang (Seharusnya) Menghargai Musik

Berimaji dengan John

Ber’haji’ di Festival Musik

Saya dan Cak Nur