foto: M. Ifan Adhitya (@ifandfun)

Siapa yang tidak menyukai Radiohead? Saya tidak tahu siapa. Tapi saya bersyukur tidak termasuk golongan itu. I’m not a creep. Sebagai orang yang mendengarkan Let Down dengan penuh penghayatan, bisa menonton konser Thom Yorke cs adalah impian. Impian yang sempat mendapat angin segar (selama 10 nanodetik) ketika salah satu koran terbesar di Indonesia Timur memberi kabar bahwa SMAN XX akan mengundang Radiohead ke kota Smart & Sombere’ City untuk menjadi tamu di acara Pensi mereka.

Tentu saja itu hanya hoax murahan. Percaya bahwa Radiohead bersedia main di acara Pensi, seperti percaya mantan saya yang sudah menikah dan beranak satu tiba-tiba meninggalkan keluarga mungilnya yang menggemaskan demi mengajak saya balikan. It’s never gonna happen, and it’s beyond stupid even just to think about it. Bila anda sempat memercayai hoax tersebut, kutipan wawancara Johnny Greenwood di bawah ini mungkin bisa memberi pencerahan.

*

Minggu malam lalu (15/3), dengan T-Shirt hitam bergambar Thom Yorke yang dibeli di event Ruang Tamu, saya mengendarai motor semata wayang dengan hati riang ke Musick Bus Chapter Store, Jl. A. P. Pettarani, lokasi perhelatan Musick Bus Fest #2: Tribute to Radiohead. Pukul 07.00 tepat, motor saya sudah terparkir dengan manis. Suasana masih sepi, panitia kelihatan sedang bersiap-siap. Saya menengok ke kiri-kanan mencari orang yang saya kenal. Nihil. Akhirnya saya memilih untuk duduk di samping pak Polisi berseragam lengkap. Beliau sepertinya sedang bertugas.

15 menit kami berdua duduk berdampingan ditemani keheningan malam dan wi-fi yang entah kenapa tidak mau konek. Khawatir terjadi cinlok, saya menoleh ke kiri-kanan lagi untuk mencari orang yang bisa diajak ngobrol. Masih nihil. Menyerah, saya memutuskan untuk mengajak sang Pak Polisi bercakap-cakap. Siapa tahu beliau juga mau menonton Sir Ventury yang meng-cover Paranoid Android. Siapa tahu.

“Saya kurang tahu, dek. Saya cuma jaga di sini.” jawabnya datar ketika saya menanyakan perihal acara yang sudah molor 20 menit itu. Zzzz. Niat untuk menanyakan lagu Radiohead favoritnya pun harus dibatalkan.

Beberapa menit kemudian, saya melihat tiga sosok yang saya kenali. Terima kasih Tuhan, sudah mengirimkan Suwandi Suleman, Ifan Aditya dan Farid Wajdi untuk menjadi teman ngobrol saya. Setelah puas menggosipi seorang teman berinisial Achmad Nirwan yang betah menjomblo, saya pun mengecek jam tangan. Pukul 07.45. Belum ada tanda-tanda acara segera dimulai. Jamaah Radiohediah sudah berdatangan.

Tepat 8.00, Artha Kantata Adyaksa (@artha_desu) yang didaulat sebagai pengarah acara, naik ke panggung. Sadar acara terundur sejam dari jadwal semula, pemuda kriwil ini meminta maaf pada hadirin dan hadirat. Isoke, Artha. Tapi asal tahu saja, kalau ini terjadi di bandara, saya pasti sudah menuntut nasi bungkus. *insert  sound effect a la sitcom “Tetangga Masa Gitu” here*

Sebelum band pertama tampil, First Fast From Failed, Artha mengundang Rilo Mappangaja (@rilo_mappangaja), ketua panitia sekaligus founder Musick Bus, untuk ke atas panggung. Setelah berterima kasih kepada sponsor-sponsor pendukung, pemuda chubby ini menjelaskan alasan mereka membuat Tribute to Radiohead di Musick Bus Fest jilid kedua ini. “Radiohead dipilih berdasarkan hasil voting dari follower @MUSICK_BUS yang kami adakan di Twitter. Pada saat penghitungan hasil voting, ada dua band yang mendapatkan suara terbanyak, Radiohead menang tipis dari Foo Fighters.” Jelas Rilo, tanpa menjelaskan lebih lanjut apakah Musick Bus Fest #3 akan bertajuk Tribute to Foo Fighters atau tidak. 

Selama kurang lebih 2 jam, saya dan 200an penggemar Radiohead lainnya dihibur oleh aksi-aksi lima band. Berikut komentar saya (belajar dari Anang Hermansyah) terhadap penampilan mereka.

1. First Fast From Failed (F4)

“Selain vokalis yang belum hapal lirik, penampilan F4 cukup mengibur”–Bukan Anang Hermansyah

Lagu yang dibawakan:
1. “My Iron Lung” (dari album The Bends, 1995)
2. “Karma Police” (OK Computer, 1997)
3. “Street Spirit” (The Bends, 1995)
Sepertinya F4 kurang sering atau kurang serius latihan. Setidaknya, itu kesimpulan saya setelah melihat sang vokalis yang masih membawa contekan lirik ke atas panggung. Sebenarnya saya juga tidak hapal lagunya, tapi kan bukan saya yang pegang mic. Saya suka “Street Spirit” dan F4 memainkannya dengan baik. Omong-omong, kenapa ya band ini dinamakan First Fast From Failed?

2. I-Project


Lagu yang di-cover:
1. “How Can You Be Sure” (The Bends, 1995)
2. “Black Star” (The Bends, 1995)
3. “High and Dry” (The Bends, 1995)
4. “Airbag” (OK Computer, 1997)
Karena bukan anak band dan kurang bergaul dengan anak band, saya tidak begitu familiar dengan nama I-Project. Saya putuskan untuk memberi mereka the benefit of the doubt. Meski sempat membuat audience (baca: saya) bete karena proses check sound yang lebih dari 10 menit, secara keseluruhan penampilan mereka cukup menghibur. I’d like to see them playing their own song sometimes.

3. Sir Ventury


Setlist
1. “The National Anthem” (Kid A, 2000)
2. “Nude” (In Rainbows, 2007)
3. “Bodysnatchers” (In Rainbows, 2007)
4. “Paranoid Android” (OK Computer, 1997)
Penampil favorit saya malam itu. Menyaksikan sang vokalis, Zul Anshari (@ZulAnshari), menghayati lirik demi lirik yang ia lantunkan membuat saya terpana. Suara falsetto a la Thom Yorke-nya pun tidak buruk. IMO, Sir Ventury bermain dengan bersih nan suci, bertenaga, dan sangat padu (padahal sang penggebuk drum, Radhitya Erlangga, bukan personil tetap). Tentu tidak berdosa bila saya mengambil kesimpulan bahwa semua personil Sir Ventury (feat. Radhit) mencintai Radiohead, through and through.

4. Bad Sebastian

Just don’t leave. Bad Sebastian feat. Ojan menghibur jamaah Radioheadiah dengan membawakan “True Love Awaits”



1. “Fitter Happier” (OK Computer, 1997)
2. “(Nice Dream)” (The Bends, 1995)
2. “True Love Waits” (I Might be Wrong: Live Recordings, 2001)
4. “Let Down” (OK Computer, 1997)
Khusus malam itu, Saiful Mayer berubah menjadi Saiful Edward Yorke. Dua lagu favorit saya ketika sedang galau, Nice Dreams dan Let Down, mereka mainkan dengan apik. Satu-satunya “keluhan” saya adalah: Bangs, biarlah Saiful Mayer menjadi Saiful Mayer.

5. Bloody mary


1. “No Surprises” (OK Computer, 1997)
2. “Fake Plastic Trees” (The Bends, 1995)
3. “Creep” (Pablo Honey, 1993)
“Bloody Mary? salah satu band senior di Makassar ini, om Abe.” kata Artha yang di tengah kesibukannya menjadi MC dan main gitar pada malam itu masih sempat melayani pertanyaan-pertanyaan saya via LINE. Maafkan ketidaktahuan saya tentang band sepopuler Bloody Mary. Saya juga tidak tahu kalau vokalis Bloody Mary adalah perempuan! Baiklah, jujur saja, Saya menulis ini karena Achmad Nirwan yang jauh lebih mengerti musik masih dalam perjalanan pulang dari Bantaeng karena meliput acara Pekan Depan #1: Hutan Bernyanyi. Jangan khawatir, ini akan menjadi kali terakhir saya menulis tentang event musik.

Anyway, Bloody Mary sebagai penutup membawakan tiga lagu Radiohead yang paling populer. Save the best for the last, right? Saya akhirnya menyadari popularitas Bloody Mary ketika para hadirin dan hadirat yang selama penampilan empat band sebelumnya bersikap kalem (cenderung malu-malu) mulai berani mengekspresikan diri mereka ketika petikan khas “No Surprises” membahana. Mereka yang tadi hanya duduk, kemudian berdiri, lalu beranjak ke depan panggung. Saya sendiri memilih mundur. Dari belakang, dari sudut yang lebih lebar, saya menyaksikan ratusan penggemar Radiohead berkaraoke massal meneriakkan “but I’m a creep!” dengan aura sukacita plus sedikit rasa getir. If you were there, you’d understand.

*

Ada yang menyukai Radiohead karena Thom Yorke, ada juga yang menyukai Thom Yorke karena Radiohead. Saya tidak yakin berada di kategori yang mana. Saya sendiri mulai mendengarkan kuintet ini dengan lebih seksama setelah dibuat kagum oleh metode pemasaran mereka ketika meluncurkan album In Rainbows, Di album ini, saya sering mendengarkan lagu “House of Cards” berulang-ulang, sampai sekarang. 

Artha, mengaku mulai mendengarkan Radiohead secara obsesif sejak delapan tahun lalu “Kalau nda salah, saya mulai mendengar Radiohead baik-baik di tahun 2007, In Rainbows baru rilis, ini juga merupakan album pertama Radiohead yang saya punya. Sebelumnya sudah pernah dengar lagu-lagu lain, tapi setelah mendengar In Rainbows sealbum penuh, saya baru benar-benar jatuh cinta dengan mereka. Mulai dari track pertama yang upbeat “Bodysnacther” sampai track terakhir yang kelam “Videotape”. Masih di tahun yang sama, ada kejadian lucu. Achmad Nirwan lagi main gitar pakai gitar akustik di rumah, main dan nyanyi  “Creep”. Setelah dikasih tahu Nirwan, saya baru sadar kalau “Creep” itu lagunya Radiohead. Padahal sejak SMP sudah dengar lagu ini.” kenang Artha sambil tertawa.

Menurut founder Musick Bus, Rilo, Radiohead pertama kali membuatnya tertarik setelah melihat video klip Creep. “Saya jatuh cinta pada Radiohead di era MTV masih mau memutar video klip band alternatif seperti The Verve, 311, dll. Nah, pada waktu itu saya melihat video klip ‘Creep’ untuk pertama kalinya. Menurut saya, itu lagu paling rock yang pernah MTV tayangkan. Distorsi gitar si Jonny Greenwood nda santai, hahahaa.”

Ketika ditanya album favorit, “OK Computer! Semua di album ini perfect,”  jawabnya spontan.

“I wish I was Special, so fucking Special” –Creep (Pablo Honey, 1993)

Bila lewat lirik di atas Thom Yorke berharap untuk menjadi orang yang spesial; saya, Rilo, Artha dan ratusan penggemar Radiohead malam itu mungkin akan kompak menjawab “You are absolutely so damn special, Thomas!”

Terima kasih First Fast From Failed. Terima kasih I-Project. Terima kasih Sir Ventury. Terima kasih Bad Sebastian. Terima kasih Bloody Mary. Dan tentu saja, Terima kasih Musick Bus, untuk suguhan sederhana tapi menyenangkan. Sampai jumpa di Musick Bus Fest jilid tiga.

Cheers!


Baca juga tulisan lainnya dari Barzak

10+ Contoh Ijab Kabul yang Diucapkan Sejujur-jujurnya

3 Buku Yang Perlu Dibaca oleh Desainer Gratis

Tentang Samsul: Si Galau tapi Seksi The Seventh

Makassar (Mungkin) Perlu Belajar dari Khayelitsha

Sepakbola dan Schadenfraude

“Bila Helvetica adalah Perempuan, Dia yang Tercantik di Dunia”

Menyimak Kisah Tumor-Tumor dan Jenny Ketiga

Jokowi Bukan Nabi