Foto: Sofyan Syamsul (@pepeng__)

Dunia seni rupa Makassar terlalu maskulin. Setidaknya, itu pikiran saya setelah mengetik “Pelukis Perempuan di Makassar” di pencarian Google. Yang muncul justru nama-nama seperti: Zainal Beta, Mike Turusy, Frans Nadjira, dan S. Mamala. Dan, mereka adalah laki-laki. Satu dunia yang mendewakan keindahan, justru didominasi oleh satu jenis kelamin. Pikiran itu yang saya bawa, menuju Rumata’ Art Space.

Minggu, 2 Oktober 2016, saya duduk di halaman belakang Rumata, di sana telah banyak hadir pengunjung. Menunggu pukul 20.00 WITA tiba, waktu yang disepakati sebagai pembukaan pameran bertajuk Rethinking Local Heroes.

“Potongan pertama, saya persembahkan untuk seorang perempuan yang sudah mantap memilih seni rupa sebagai jalan hidupnya,” kalimat Abdi karya tersebut disambut tepuk tangan sekaligus membuka pameran yang mengangkat pahlawan-pahlawan lokal dan kaitannya dengan hal-hal yang terjadi hari ini.

Setelah sesi pembukaan simbolik, saya berjalan pelan-pelan menikmati setiap karya. Menikmati yang saya maksud tentu termasuk mengubah galeri seni menjadi studio foto. Selfie di depan lukisan, bisa membuatmu terlihat berbudaya. Percayalah.

Di sela-sela menebak-nebak maksud karya yang dipajang dan selfie, saya memerhatikan sosok yang menerima potongan pertama di sesi pembukaan tadi. Perempuan berjilbab, berperawakan sedang, dan murah senyum tersebut terlihat sibuk menjelaskan karyanya kepada setiap pengunjung yang bertanya. Satu hal yang saya tangkap: Dia, paham apa yang dibuatnya.

Siti Mutmainnah. Itulah namanya. Sosok yang kemudian dikenal dengan nama Ina Waloni. Setelah puas menikmati karya-karya, saya membuat janji dengannya untuk bertemu dan berbincang tentang karya dan kesenian di Makassar, dua hari kemudian.

Hari Ketiga pameran, Rumata’ Art Space lengang. Hanya terdapat beberapa panitia, para seniman, dan teman-teman revius yang melaksanakan bincang redaksi di halaman belakang. Saya pun sepakat dengan Ina untuk melaksanakan obrolan di dalam galeri.

Saya membuka obrolan dengan rasa penasaran tentang nama belakang yang digunakannya. Dia tertawa sambil menjelaskan bahwa nama tersebut diambil dari nama vokalis Trees and the Wild, Remedy. Ina mengakui mengidolakannya, “awalnya ingin membuat akun twitter dan persoalan fans saja. Kalau dalam berkarya, pengaruhnya paling cuma menaikkan mood.”

Ina memulai proses berkeseniannya mulai 2011. Sebelumnya, dia menggeluti dunia musik, “Dulu main keyboard, tapi lama-lama mulai jarang dan memilih hobi lain. Menggambar” Dalam menyalurkan hobi tersebut, Ina mengaku awalnya menggunakan pensil, pulpen, dan spidol lalu kini beralih ke kuas.

Tetapi, kemudian Ina memberi batasan. Dia tidak ingin disebut sebagai seniman, “Itu terlalu berat. Kita sebut saja berkarya.” Pernyataan yang saya timpali, “Asik skali.” Kami tertawa sambil dalam hati saya bertanya, “Terus apa kalau bukan seniman? Masa’ karyawan?”

Salah satu hal awal yang saya ketahui dan menarik dari Ina adalah latar belakang akademiknya. Dia kuliah di jurusan Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin. Lalu apa yang menarik?

Pertama, alasan yang sangat personal. Saya beberapa kali menjalin hubungan dengan anak HI. Terus apa yang penting? Tidak ada. Ini mau curhat saja. Oke. Alasan kedua, dan sepertinya ini penting. Ina Waloni, salah satu dari sedikit anak HI yang saya kenal, mau dan mampu berbicara tentang hal-hal yang dekat dengan dirinya. Banyak anak Hi yang saya kenal dan saat berbicara mengenai ide yang mereka miliki, selalu mengenai hal-hal yang sangat besar dan jauh. Masalah kemanusiaan selalu berbicara tentang Afrika atau ekonomi selalu ke Amerika. Ina tidak di situ. Ina membuktikan dengan partisipasinya di rethinking local hero. Dia mengangkat tokoh literasi dari tanah Sulawesi Selatan: Colli’ Pudjie.

“Sebenarnya dua. Ini sama Pongtiku. Setelah riset, yang mendekati filosofinya dengan saya, itu Colli’ Pudjie. Karena beliau banyak karyanya yang luar biasa. Kenapa masih banyak yang tidak kenal? Saya pikir itu yang jadi pertanyaan saya untuk mengangkat sosoknya. Setelah riset singkat, banyak hal yang mengejutkan. Awalnya kan saya tidak tahu siapa beliau. Melihat video dan interview tentang beliau banyak yang saya bisa pelajari. Terutama untuk berkarya.”

“Kalau latar belakang akademik, ada pengaruhnya dalam berkarya?”

“Secara langsung tidak. Apalagi di HI tidak ada arah khusus ke kesenian apalagi seni rupa. Ada itu cuma musik dan fotografi. Mungkin nanti. Karena HI kan bicara sosial, budaya, dan politik. Jadi, kalau saya berkarya untuk isu-isu itu pasti terpakai”

Sampai di situ, hadir jeda di obrolan kami. Saya baru menyadari kalau ini obrolan yang pertama kali bersama Ina. Dan, perempuan di depan saya ini sangat santai menimpali pertanyaan, jujur saja sedikit memberi tekanan. Suasana lengang Rumata’ Art Space turut membantu melanggengkan kekakuan.

Berkali-kali saya harus mengalihkan pandangan dari Ina. Berpura-pura memerhatikan beberapa karya. Padahal, itu adalah usaha mengingat pertanyaan berikutnya. Cukup membantu pada akhirnya. Saya pun bertanya kepada Ina tentang lingkup yang lebih luas: Kesenian Makassar. Terutama, seni rupa.

“Awalnya nekat. Selain suka dan passion di situ. Jadi sebisa mungkin bikin karya yang bagus. Nah, pas masuk di dunia seni, ternyata ini juga dunia yang sedang tidak baik-baik saja..”

“Maksudnya?”

“Apanya?” Ina balas bertanya.

“Yang sedang tidak baik-baik saja”

“Oh, itu. Banyak pergolakan di dalamnya. Terutama tentang seniman muda dan seniman mapan”

“Seniman mapan?”

“Iya. Mereka yang mapan secara karya, materi, ataupun jaringan dan pengalaman. Sudah melewati proses lebih lah”

“Hm… Senior!” dalam hati saya menyimpulkan.

“Lalu bentuk pergolakannya seperti apa?”

Ina melanjutkan, “Kompetisinya tinggi. Banyak seniman muda yang akhirnya tidak muncul. Terutama wadah berpameran. Nah, dari situ saya tahu ternyata berkesenian di Makassar ternyata susah. Meskipun, saya untuk menjadi seniman sejati belum. Saya cuma mau berkarya dulu. Daripada nongkrong bergosip. Atau diskusi tapi tidak ada usaha mewujudkan apa yang diinginkan.”

“Kalau pendapatmu tentang itu kompetisi, bagaimana?” Akhirnya, saya berhasil ke logat asli.

“Kompetisi itu penting. Yah, itumi dinamikanya begitu e.” Dia pun keluar logat aslinya. Apakah ini pertanda? Hm.

“Jujur, kalau mau berkarya seperti di luar makassar, kita masih merangkak. Karena kesempatan untuk anak muda masih terbilang cukup tidak terdeteksi. Jadinya masih ragu-ragu, ‘maju nda yah, maju nda yah untuk berpameran’”

“Dari pergolakan atau kompetisi, ada pengalaman pribadimu?”

“Kalau di lingkungan ada. Banyak.”

“pribadi?”

“Tidak. Eh. Ada. Waktu itu ada senior yang merasa lebih berpengalaman. Saya ingat, waktu itu pameran yang cukup besar?”

“Pameran apa?”

“Adalah”

“Biennale?”

“Iya. Saya mendapat pengalaman (karya) yang pantas dan tidak. Ini harus ikut atau ini tidak level. Ada pembedaan”

“Karya yang bagaimana itu?”

“Karya yang harus disegani adalah karya yang dari seniman mapan itu tadi. Menurutku, merasa ka dianggap masih berupako belum pako tahu apa-apa. Sekalipun menyajikan hal yang berbeda masih juga dianggap begitu.”

“Tapi kan, ada kurator?”

“Nah. Di situlah titik awal pergolakan tadi” Kami tertawa dan sesaat saya kembali berusaha mengingat dan mencari apa pertanyaan berikutnya. Jujur saja, perempuan dengan tawa yang renyah ini mengingatkan saya kepada Kodaline. Band dari Irlandia tersebut saya anggap biasa pada awalnya. Bagi saya, Coldplay dan Radiohead sudah cukup. Tapi setelah menonton video klipnya, saya menyerah. Pada kombinasi suara dan visual yang memikat, saya bertekuk lutut. Dan, Ina Waloni memiliki itu.

“Kalau di perupa-perupa muda, seperti apa kompetisinya?” Akhirnya, setelah mengetuk-ngetukkan jari dan berusaha keras membuka laci-laci di dalam kepala, Saya menemukan pertanyaan tersebut.

“Biasanya dalam hal pekerjaan. Terutama side job. Misalnya ada yang minta untuk dibuatkan lukisan. Saling sikut itu ada. Saling rebut begitulah.”

“Pandanganmu tentang mereka?”

“Masih ragu-ragu. Banyak yang disuguhkan terutama referensi tapi masih sangat ragu. Satu orang biasa berkarya, terus sudah. Tidak ada. Terus banyak yang masih ikut-ikutan. Kurang explore. Saya sering dengar, terutama dari teman-teman di kampus yang khusus belajar kesenian. Banyak yang kalau lihat seniornya berkarya, misalnya realis, realis semuami. Nda maumi explore. Padahal referensi berhamburan.”

“Terus, biasanya, biasanya ini nah. Menurut pengamatanku ji, banyak seniman muda yang agak gagap kalau dikritik. Kalau menurutmu sendiri?”

Kritik karya saya pribadi menganggap itu bagus. Sepedis apapun. Kembali ke pengalaman sebelum hadir di sini, saya bermodalkan nekat tapi serius. Jadi, niat untuk menerima kritik itu pasti ada.

“kalau rencanamu? Apa dalam waktu dekat?”

“Masih berkarya meskipun tidak ada pameran. Untuk itu, memberi pengaruh berkarya”

“Proyek personal?”

“Ada. Nanti Insya Allah sama Adi Gunawan. Temanya masih rahasia.” Nama yang Ia sebut adalah kekasihnya. Salah satu nama yang akan hadir jika menyebut perupa muda di Makassar.

“Pendapatmu tentang Rumata’?”

Menurutku, masih kurang. Apalagi untuk berpameran. Susah menemukan tempat yang cukup memadai sebagai galeri standar. Rumata’ sudah mumpuni sebenarnya untuk seniman yang baru bergelut di dunia seni. Rumata terobosan baru yang bagus.”

“Kalau Revius?”

“Alternatif bacaan yang bagus di internet. Saya mau baca tentang kotaku, dan Revius hadir menyegarkan kita yang suka membaca dan mampu merangkul anak-anak muda terutama.”

Saya pun menutup obrolan sambil berterima kasih kepada Ina. Keluar ke halaman belakang, saya membakar rokok. Mengingat-ingat pembicaraan tadi. Terutama pertanyaan-pertanyaan terakhir. Ina, Rumata’, dan Revius saya pikir ada di jalur yang sama. Dan, entah dari mana, ada ketakutan tersendiri, jika saja suatu hari mereka justru menjadi sesuatu yang mereka benci hari ini. Pertanyaan tersebut mungkin lebih penting daripada mempertanyakan adakah hubungan antara dominasi laki-laki dan persoalan “seniman mapan” di dunia kesenian Makassar.