Oleh : Sitti Fathimah Herdarina Darsim ( @herdarina )

Selalu saya katakan kepada diri sendiri, ketika ada pertemuan, bersiaplah untuk sebuah perpisahan. Minggu ini adalah minggu terakhir saya di negara dengan populasi terpadat kedua di dunia. Ketika saya sebut India, orang-orang mungkin akan berpikir tentang Taj Mahal, Bollywood, atau bahkan kriminalitas yang banyak diberitakan media. Tapi yang perlu orang-orang tahu, India lebih dari itu semua.

Awal semester 3, saya menandatangani sebuah kontrak untuk melaksanakan sebuah proyek organisasi bernama AIESEC. Sebuah organisasi non-politik yang dikelola oleh para pemuda di seluruh dunia untuk membangun dunia menjadi lebih baik melalui pengembangan di beberapa bidang. Saya sendiri memilih mengembangkan dunia dalam bidang pendidikan dan memilih India sebagai negara pertama (selain Indonesia) yang ingin saya bangun. Saya melihat India sebagai negara dengan budaya yang begitu kental.

Di New Delhi, ibu kota negara ini, tempat saya melangkahkan kaki pertama kali. Saya melihat lelaki-lelaki India memakai ikat kepala yang begitu berbeda dengan negara-negara lain. Mereka menyebutnya dastar. Lalu, perempuan-perempuan India menggunakan saree dengan rambut kepangnya. Delhi menuju Patiala, kota tempat saya akan bekerja, memakan waktu 4 hingga 5 jam. Patiala merupakan sebuah kota di daerah Punjab yang terkenal dengan kerajaannya yang masih hidup hingga saat demokrasi ini. Patiala, kota yang tidak begitu besar. Namun, begitu indah dengan orang-orang sederhana yang begitu memegang budaya Punjab. Saya dapat melihat di mana-mana hampir setiap orang menggunakan Patiala salwar, celana khas di Patiala dan jutti, sepasang sepatu khas seperti yang dipakai Aladin. Bahkan dikenakan oleh muda-mudi di Patiala. Tentang transportasi, saya sering menyusuri sudut-sudut kota dengan auto atau cycle rickshaw. Sebuah kendaraan seperti bajaj dan becak. Namun, dapat dikendarai oleh 4 orang atau bahkan lebih. Tidak mahal, untuk sebuah auto rickshaw cukup membayar sepuluh Rupee sekali jalan jika jaraknya hanya sekitar 1 hingga 4 kilometer. Akan tetapi, jika lebih dari itu, saya akan mengutamakan taksi. Ola Cabs taxi merupakan taksi yang dapat dipesan secara online melalui aplikasi di handphone seperti Gojek. Tarifnya pun cukup terjangkau walaupun dibuat menunggu berjam-jam karena tarifnya dihitung per kilometer. Atau untuk jarak di bawah 3 kilometer, saya terkadang lebih memilih untuk berjalan kaki. Patiala sangat aman dibanding kota-kota lain di India.

Mengenai makanan, saya tidak mendapatkan masalah yang berarti. Sebagian besar orang India adalah vegetarian. Oleh karena itu, saya tidak perlu khawatir masalah daging babi. Saya hanya kesulitan di minggu pertama karena tidak dapat menemukan daging selain di restoran cepat saji seperti KFC atau McDonalds. Di sana pun, mereka hanya menyediakan ayam. Tidak ada daging lain. Roti atau tandoori yang orang-orang Indonesia biasa menyebutnya dengan roti Maryam bisa saya dapatkan di mana-mana, tidak lupa dengan berbagai jenis kari yang bisa saya pilih. Ketika saya memesan segelas teh, mereka akan menyajikannya dengan campuran susu dan mungkin sedikit jahe. Rasa baru yang unik dan terasa sangat hangat di musim dingin yang bisa mencapai 3 derajat Celsius di daerah saya.

Springles Pre School adalah sekolah di mana saya bekerja sebagai seorang relawan asing selama kurang lebih 3 minggu. Saya dikelilingi oleh anak-anak cantik dan ganteng India berumur 2 hingga 5 tahun. Pekerjaan saya mudah. Menunggu anak-anak dan mengucapkan selamat pagi, mengarahkan mereka dalam mengerjakan tugas, bermain, mendengarkan keluhan, melihat tawa, membantu mereka menyelesaikan makan siang, lalu mengucapkan sampai jumpa ketika mereka pulang. Pekerjaan yang begitu saya nikmati dan bermanfaat dalam bidang yang saya dalami sekarang.

india_herdarina_1_revius

Mengajar adik-adik Springles Pre School selama kurang 3 minggu yang sangat bermanfaat untuk bidang keilmuan yang saya dalami sekarang.

Bersama adik-adik Springles Pre School ini mulai dari mereka datang bersekolah di pagi hari hingga waktu pulang.

Pada akhirnya, saya akan merindukan setiap hal di negara di mana yoga berasal. Makanan vegetarian, bumbu-bumbu India, rickshaw, kedinginan di suhu 3 derajat celsius, pemandangan orang-orang yang memakai dastar, salwar, saree, bindi atau jutti, asrama Play Ways School, Springles Pre School, dan tentu saja orang-orang di AIESEC Universitas Thapar. India, saya (pada akhirnya) jatuh cinta.

Herdarina_India_Revius (2)

Teman-teman AIESEC di Universitas Thapar, India.


Baca artikel City Review lainnya

Lima Warung Bakso Paling Syahdu

Kita dan Kota Perlu Berteman dengan Lebih Banyak Taman

Lingkaran Setan Lalu Lintas Makassar

Kampung Melayu yang Dijaga Santo Petrus

Mengapa Ruang Terbuka Hijau Sangat Penting?

Makassar Mencakar Langit

5 Tipe Kafe Gaul di Jepang

5 Hal yang Nyeleneh yang Mudah Ditemukan di Kyoto

Saya, Korea, dan AIESEC

Toko Alat dan Bahan Kriya Favorit di Makassar