Foto: Mohammad Fajar Dwi A.( @mohfajardwi )

Di tengah hari September dengan angin yang berhawa panas, tampak beberapa mahasiswa sibuk mengerjakan beberapa hal di area Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unhas. Sore itu, mereka berkutat di sekeliling area dengan trap dan kain hitam yang mereka buat menjadi panggung mini. Tepat di depan boulder climbing wall. Mereka adalah mahasiswa yang tergabung dalam Lingkar Advokasi Mahasiswa Unhas atau yang biasa disebut LAW Unhas, sebuah organisasi mahasiswa independen di dalam lingkup kampus Unhas yang fokus melakukan advokasi berupa pelatihan, riset, dan pendampingan hukum terhadap mahasiswa dan masyarakat yang membutuhkan.

Sudah hampir pukul 16.00 WITA, teman-teman LAW Unhas masih sibuk menyiapkan diri untuk memulai acara. Saya ingat ketika menonton video publikasi yang mereka post lewat akun channel youtube Law Unhas, acara rencananya dimulai pukul 15.00 WITA namun mereka masih belum merampungkan persiapan. Beberapa orang menyiapkan sound system, ada yang merapikan meja untuk lapakan, ada yang menempel beberapa poster untuk pameran data, dan tiga orang lainnya memanjat sisi belakang boulder untuk memasang sebuah spanduk secara vertikal. Spanduk dengan lebar 1.5 meter dan panjang sekitar 6 meter yang dibuat secara manual dengan warna dasar merah dengan tulisan dengan font sederhana, KAMI MENOLAK DIGUSUR.

Waktu sudah mendekati pukul 17.00 WITA ketika acara dibuka. Seseorang naik ke panggung dan mulai mengajak orang-orang yang berada di sekitar lapangan PKM untuk mendekat. Meja-meja sudah diisi oleh beberapa lapak makanan dan di depannya sebaris meja diisi oleh lapak buku. Pengunjung tampak masih malu-malu mendekat ke lapakan, hanya garage sale yang cukup ramai. Beberapa duduk berkelompok di area tangga, dan lainnya berdiri di depan papan di mana data-data menyoal penggusuran di daerah Makassar bisa mereka baca dan berfoto di photo booth yang disediakan penyelenggara.

Garage sale hadir untuk bersolidaritas menggalang dana untuk warga Bulogading.

Garage sale hadir untuk bersolidaritas menggalang dana untuk warga Bulogading.

Selepas senja, pengunjung makin ramai. Stand makanan menjadi tempat yang paling banyak dikunjungi. Secara bergantian beberapa penampilan musik akustik dan pembacaan puisi terlaksana di panggung. Pertunjukan, bazaar makanan, garage sale, testimoni warga, photo booth serta pameran data adalah item kegiatan yang dikemas sebagai kegiatan solidaritas untuk warga Bulogading yang tertimpa kasus penggusuran dalam event yang dinamakan Instalasi Perlawanan Kreatif (IPK).

Testimoni warga, photo booth dan pameran data terkait penggusuran warga Bulogading menjadi sajian utama dalam Instalasi Perlawanan Kreatif.

Testimoni warga, photo booth dan pameran data terkait penggusuran warga Bulogading menjadi sajian utama dalam Instalasi Perlawanan Kreatif.

IPK adalah salah satu kegiatan yang dilaksanakan LAW Unhas sebagai wadah kreatif dalam memberikan info krusial dan detail dari isu yang sedang LAW Unhas kawal. IPK yang dilaksanakan pada tanggal 10-11 September lalu merupakan kegiatan ketiga. Melakukan kegiatan untuk mengampanyekan sebuah isu yang tidak menarik untuk kebanyakan orang membuat teman-teman LAW Unhas harus berpikir lebih kreatif. Dan hal tersebut dipaparkan oleh Nurhidayah Rahim, seorang mahasiswa magister jurusan Akuntansi selaku kordinator IPK, “Kami ingin mengampanyekan anti penggusuran makanya kami memakai konsep kekinian. Orang-orang suka ketika datang ke suatu tempat dan tahu tempat apa yang mereka datangi. Kenapa kami memilih tempat ini (lapangan PKM Unhas), karena kalau sore ramai sekali. Dan menurut kami sasarannya sampai karena bukan hanya mahasiswa Unhas yang datang.”

Pembacaan puisi dan sajak bertema perlawanan di Instalasi Perlawanan Kreatif menjadi semacam pemicu untuk merawat ingatan tentang penggusuran di Bulogading.

Pembacaan puisi dan sajak bertema perlawanan di Instalasi Perlawanan Kreatif menjadi semacam momen yang krusial untuk merawat ingatan tentang penggusuran di Bulogading.

Bulogading adalah kawasan perkampungan di daerah jalan Somba Opu di mana pada 12 Agustus kemarin Pengadilan Negeri Makassar berencana melakukan eksekusi terhadap pemukiman warga. Kasus sengketa tanah di Bulogading sudah bergulir sejak lama dan menimbulkan banyak keganjalan. Mengenai keanehan dan fakta yang tidak sesuai dalam kasus penggusuran bukanlah hal baru. Secara geografis perkampungan Bulogading termasuk kawasan kelas A dan dekat ke beberapa tempat wisata kota Makassar menjadikannya incaran banyak pengusaha. Kondisi tersebut menjadi alasan utama mengapa perkampungan Bulogading hendak digusur.

Mempertanyakan posisi negara dalam perkara seperti ini sudah sangat melelahkan. Hingga pada penyelenggaraan Asean Mayors Forum (AMF) beberapa minggu lalu pemerintah kota meminta warga menertibkan spanduk dan pataka perlawanan mereka. Nurhidayah mengungkapkan kekecewaannya terhadap pemerintah kota Makassar, “Melihat event yang dilaksanakan pemerintah saya jadi miris karena pemerintah lebih menghargai tamunya ketimbang warganya sendiri.”

Jika kamu penasaran pada kasus sengketa tanah Bulogading atau kasus penggusuran lainnya di kota Makassar, silakan ikuti perkembangannya di LAW Unhas dan Perhimpunan Merdeka.

https://lawunhas.wordpress.com/
https://perhimpunanmerdeka.wordpress.com/

Simak video dokumentasi LAW Unhas tentang Perlawanan Rakyat Bulogading terhadap penggusuran berikut ini.


Tulisan Lainnya Berkaitan dengan Ajakan Bersolidaritas

Nada Gerilya untuk Pandang Raya

Tumbangnya Pandang Raya

Pandang Raya Takkan Menyerah!

Rembang Butuh Doa dan Dukungan Kita

Karena Hasil Bumi Tidak Bisa Ditukar dengan Beton

(Bukan) Aksi Melulu