Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Ada yang cukup berat dengan dialog panjang sebuah film seperti Spotlight (2015). Film terbaik dalam penyelenggaraan piala Oscars 2016 itu bercerita tentang kisah nyata  sekelompok jurnalis bernama Spotlight. Dan, berhasil mengungkap kejahatan seksual yang tersistematis oleh para pastur-pastur Katolik. Hasil dari ivestigasi itu membuka fakta-fakta baru yang mencengangkan bahwa pelecehan seksual sudah terjadi dalam skala besar pada saat itu. Film lain yang hampir serupa adalah All The President’s Men (1976). Film ini menceritakan kisah nyata dua wartawan bernama Bob Woodward dan Carl Bernstein. Keduanya merupakan jurnalis Washington Post yang berhasil meliput kasus Watergate yang memaksa mantan Presiden AS, Richard Nixon mundur dari jabatannya.

Ada yang lebih ringan dan bisa dinikmati semua umur yaitu Scooby-Doo. Kartun ini berkisah tentang seekor anjing yang mampu berbicara dan empat orang remaja: Fred “Freddie” Jones, Daphne Blake, Velma Dinkley, dan Norville “Shaggy” Rogers. Kelima tokoh ini (secara resmi dikenal bersama sebagai “Mystery, Inc.”) memecahkan berbagai misteri yang berhubungan dengan hantu dan kekuatan gaib. Pada akhir tiap episode-nya, kekuatan gaib itu ternyata memiliki suatu penjelasan yang masuk akal, biasanya mengenai rencana-rencana kriminal yang menggunakan kostum dan efek mekanis khusus dengan tujuan untuk menakut-nakuti atau mengalihkan perhatian.

Ada kesamaan dari ketiga film di atas: investigasi. Dalam buku Jurnalisme Investigasi, karya  Dandhy Dwi Laksono, Jurnalisme Investigasi adalah kegiatan mengumpulkan, menulis, mengedit, dan menerbitkan berita yang bersifat  atau sebuah penelusuran panjang dan mendalam terhadap sebuah kasus yang dianggap memiliki kejanggalan. Dalam buku tersebut juga disebutkan secara  garis besar proses perencanaan dalam sebuah proyek investigasi: dimulai dari membentuk tim (multi spesialisasi), melakukan riset, observasi awal, atau survey, menentukan angle (fokus) juga merumuskan hipotesis, merancang strategi eksekusi (Teknik, logistic, menulis dll) dan terakhir menyiapkan skenario pasca-publikasi.

Jadi pada intinya, tujuan utama dari jurnalisme Investigasi adalah mengungkap kesaksian dan bukti secara fisik dari suatu persoalan yang kontroversial. Karena itu, proses kerja jurnalis dalam liputan investigasi, melakukan kerja-kerja detektif: mengendus informasi tersembunyi dari banyak sisi dan mengungkapkannya

Dari penjelasan tersebut, saya makin paham kerumitan dalam Investigasi. Melakukan pencarian data secara mendalam, mempunyai resiko, melibatkan emosi untuk membongkar sebuah kejanggalan, dan  memakan waktu yang tidak sedikit. Namun semua kesimpulan saya tersebut dalam sekejap terbantahkan setelah melihat beberapa tayangan di televisi yang menjual kata atau “mengaku” melakukan Investigasi di dalamnya.

Investigasi samar-samar

Reportase Investigasi  di Trans TV sebenarnya bila dilihat dari membongkar jaringan pedagang-pedagang makanan nakal, atau praktek prostitusi usia muda, dan lain-lain. Membuat orang-orang lebih waspada dan selektif dalam memilih apa yang akan dikonsumsi sampai bagaimana lebih bijak dalam mendidik juga memperhatikan anak. Acara ini  bisa dibilang termasuk bermanfaat bagi masyarakat secara umum, sebagaimana tujuan yang dibahas di atas. Namun di sisi lain, terlalu seringnya acara ini menampillkan pedagang kecil sebagai objeknya, membuatnya seperti membawa misi mematikan pedagang kecil juga pasar tradisional. Lalu menggiring masyarakat luas untuk lebih memilih belanja ke Supermarket atau sejenisnya. Hal ini juga tambah mencurigakan mengingat sekarang sudah ada supermarket juga pusat perbelanjaan yang berawalan sama dengan nama stasiun TV tersebut.

Berikutnya adalah terlalu seringnya  latar belakang ekonomi menjadi alasan para pelaku melakukan perbuatannya. Menurut saya ini bisa saja jadi boomerang yang berbalik kepada khalayak yang menonton acara ini. Di mana dalam tingkatan ekonomi tertentu mencari kehidupan dengan cara yang tidak baik adalah hal lumrah.

Investigasi Infotainment

Dalam beberapa kesempatan, tema yang diangkat memang tema-tema yang sedang hangat di masyarakat. Contoh kasus “tikus” pesawat atau petugas bandara dan maskapai yang sering mencuri bagasi penumpang. Hal ini sempat heboh beberapa bulan lalu. Dalam tayangannya ditampilkan wawancara dari beberapa artis, baik hanya pendapat ataupun yang pernah mengalami. Namun jika itu saja tidak perlu lah hal ini dimasukkan embel-embel investigasi di nama acaranya. Ini terlihat sama saja dengan Insert biasa bedanya hanya musik yang lebih didramatisir.

Apalagi jika kasus yang diangkat adalah masalah pribadi artis. Sungguh tidak ada nilai kesadaran sama sekali yang bisa dipetik, penggunaan format kamera tersembunyi pun kadang percuma saja bila akhirnya hanya bertemu Asisten Rumah Tangga artis tersebut atau Satpam Kompleks yang bicara “Wah, Ibu/Bapak sudah lama enggak pulang kesini.” Saya merasa mending menonton Boboboi saja, lebih berbobot dan seru.

Investigasi Serba Drama Kebetulan

Dua acara ini memang tidak membawa “Investigasi” dalam nama program acaranya. Akan tetapi dalam tayangannya, host kadang menyebut kata investigasi di dalamnya dan paling sering diucapkan di awal acara, “Gaes kali ini kami akan menginvestigasi laporan dari klien kita si X untuk mencari pacarnya yang akhir-akhir ini bla..bla..bla…”. Jika mereka memang merasa apa yang dilakukannya adalah kegiatan investigasi, maka merekalah orang-orang paling beruntung segalaksi bima sakti. Mereka selalu bertemu kebetulan-kebetulan yang menguntungkan. Saya akan memaparkan polanya secara sederhana.

  1. Host membuka acara, tiba-tiba dapat email dari orang yang ada masalah dan mau ketemuan di hari itu juga dan di dekat lokasi Host shooting opening (kebetulan pertama)
  2. Host bertemu klien, berbicara dengan klien, klien menjelaskan pacarnya akhir-akhir ini bertingkah aneh dan sebagainya dengan ditambah reka-reka adegan, mereka memutuskan untuk meng”investigasi”, tapi besok. (drama pertama)
  3. Hari ke dua dalam acara. Host, klien, dan kru pergi mencari “petunjuk pertama”. Biasanya ke rumah orang tua si pacar klien yang diselidiki. Dan entah bagaimana si laki-laki selalu tidak ada di rumah. Mereka bertemu ibunya atau saudaranya saja. Kadang ditambah bumbu marah-marah, khawatir sampai menangis “Apa-apan ini pakai kamera, anak saya kenapa?”. Setelah itu sang Ibu menjelaskan anaknya sering ke suatu tempat. Akhirnya tim  merencanakan menuju ke tempat yang dimaksud (drama dan kebetulan ke dua)
  4. Setelah dicek ternyata lokasinya dekat dari rumah. Tim pun melanjutkan perjalanan. Sampai di tujuan, mereka diusir pihak tertentu yang merasa terusik dengan keberadaan kamera dan sebagainya. Biasanya host jadi ikut terlibat keributan sampai ditarik oleh kru tv dan sekali lagi si pacar klien tidak berada di sana. (drama ke tiga)
  5. Setelah kecewa dan menemui jalan buntu, ada orang asing yang tiba-tiba datang dan memberi tahu bahwa si pacar klien sudah jarang ke situ, tapi mendapat info kalau dia kerja sambilan di suatu tempat (kebetulan ke empat)
  6. Hari ke tiga, mereka menuju ke tempat yang dikatakan orang asing tersebut. Bermodalkan kamera tersembunyi, mereka memantau dan ternyata yang dicari ada di sana. Terlihat si pacar klien sedang berbincang akrab dengan perempuan lain. Klien dalam mobil pemantau mulai panik, menangis, dan ditenangkan oleh Host. Lalu berpindah lagi ke adegan si pacar klien yang kini lebih jelas seperti kamera ada tepat di sampingnya (drama ke empat dan kebetulan ke lima)
  7. Si klien menggerebek si cowok dan perempuan lain. Adegan marah, menangis campur aduk. Host heboh, klien heboh, si pacar klien heboh, perempuan lain juga heboh. Akhirnya dijelaskan bahwa si pacar klien ini sedang mencari uang tambahan untuk memberi kejutan kepada pacarnya yaitu si pelapor yang sebentar lagi berulang tahun dan perempuan yang diajak ngobrol adalah teman yang dimintai pendapat dan saranya. Semua jelas, semua berpelukan. (kebetulan ke enam)

Kebetulan lagi saat saya menontonnya, acaranya sedang happy ending tapi percaya saja setelah beberapa kali menonton apapun, endingnya secara kebetulan: alur dan pola isinya selalu sama. Dengan banyaknya kebetulan ini, saya jadi berpikir seandainya kasus-kasus yang terjadi sekarang ataupun kasus-kasus lama yang belum jelas ujungnya bisa seberuntung adegan ini, pastilah semuanya bisa selesai lebih cepat dan tidak berlarut-larut bahkan terlupakan.

Yang paling utama, andai saja semua semudah dan serba kebetulan seperti itu, saya akan mulai menyelidiki mengapa harga Indomie bisa mencapai Rp. 2.500,-. Dulu dengan harga segitu kita sudah dapat dua bungkus Indomie dan satu telur. Kenapa?! []

N.B.: Gambar Scooby-Doo di ilustrasi televisi merupakan hak cipta dari Hanna-Barbera Productions dan Warner Bros. Animation.


Baca tulisan lainnya

Komunitas yang Mengundang Kebingungan

Komunitas, Jangan Asal Kumpul-kumpul

Tamparan dari Tulisan Spotlight

Menteri yang Lucu

The Power Syndrome

Zaskia Gotik dan Rasa Syukur yang Kupetik

Yang Mengkhawatirkan dari Muda-Mudi Kekinian