Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Tak bisa dipungkiri, dunia literasi di Indonesia Timur sangat maskulin. Kehadiran Irma Agryanti dengan karyanya yang kuat membuat kami, kurator, langsung memilihnya.” Demikian yang diungkapkan salah satu kurator tentang karya Irma. Irma Agryanti, penulis muda Mataram, Lombok. Karyanya berupa cerpen dan puisi dimuat beberapa media. Dia juga bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram. Kini, dia adalah salah satu penulis yang terpilih sebagai Emerging Writers di MIWF 2016. 

Sepertinya, Irma baru berjodoh menjadi Emerging Writers di MIWF 2016. Karena diakui kurator, selama beberapa tahun belakangan mereka aktif memantau perkembangan penulis muda di kawasan Indonesia Timur, dan Irma masuk dalam radar mereka. “Sebenarnya saat pertama kali mengirim karyanya untuk MIWF kami sudah ingin memilihnya, hanya saja pada kesempatan pertama karya Irma terlambat masuk ke kami. Makanya bisa dikatakan kami tinggal menunggu dia datang dan membawa kembali karyanya. Karena kami tidak mungkin memilihnya begitu saja tanpa dia mendaftar terlebih dulu.” Revius pun berkesempatan berbincang dengannya.

Latar belakang menulis

Aku pertama kali mempublikasikan cerpen pada 2009 di sebuah mingguan di Jogja. Ketika itu, aku masih menjadi mahasiswi. Kemudian menyusul terbit di media lainnya seperti Kompas, majalah Horison, Media Indonesia, Indopos, Jurnal Nasional, dan lainnya. Barangkali sama seperti penulis lainnya, aku kira ketika puisiku dimuat di Kompas pertama kali pada 2012 kemudian orang baru mulai mengenalku. Aku memutuskan menulis untuk merespon situasi di sekitar yang kacau. Aku kira gesekan di luar dengan di dalam diriku membuat aku kehabisan akal atau lebih baik bunuh diri, dan menulis adalah satu-satunya jalan keluar, jalan tengah di antara keduanya.

Aku percaya sastra satu-satunya alat yang bisa kembali memanusiakan manusia. Melihat perkembangan jaman, peradaban manusia yang kian canggih membuat semuanya kemudian tampak seragam, seperti mesin, rasa kepekaan semakin hilang, dan manusia semakin tak menyadari bahwa ia telah kehilangan personalitas kemanusiaannya. Aku percaya sastra mampu mengembalikan kepekaan manusia, bagian paling penting dari diri manusia dan aku ingin orang-orang memahami ini.

Siapa yang menginspirasimu menulis?

Kiki Sulistyo, dia penyair dan cerpenis yang membimbingku. Aku banyak belajar darinya. Baginya, menulis bukan soal hanya menghasilkan karya melainkan jalan hidup dan itu yang membuat saya termotivasi untuk tetap konsisten menulis.

Kegiatan kamu sehari-hari apa?

Setiap harinya saya terbiasa membagi diri. Pagi hingga sore saya bekerja di salah satu instansi pemerintah, malamnya saya gunakan untuk menulis, membaca, atau menonton film. Setiap satu minggu sekali, saya dan beberapa kawan Komunitas Akarpohon menggelar kelas menulis. Di lain hari saya juga bertemu kawan-kawan komunitas untuk berdiskusi.

Cerita dong soal Komunitas Akarpohon!

Aku bergabung dengan Akarpohon sejak 2011. Komunitas ini digawangi Kiki Sulistyo yang tidak cuma fokus di sastra tapi juga teater dan musik. Waktu itu di divisi sastra hanya tiga orang, satu penyair dan dua cerpenis. Sekarang sudah sekitar 20 orang kalau tidak salah. Komunitas ini mengadakan kelas menulis setiap satu kali seminggu. Beberapa kali juga menggelar acara dengan mengudang penulis senior seperti Afrizal Malna untuk mengisi workshop dan diskusi. Beberapa kali juga mengadakan launching buku penulis luar di Mataram.

Komunitas ini sudah menerbitkan empat buku, satu kumpulan cerpen, satu kumpulan puisi, satu kumpulan puisi penyair NTB, satu kumpulan puisi penyair perempuan NTB.

Bagaimana dengan proses kreatifmu?

Kebanyakan cerpen atau puisiku itu dari mengalami berbagai peristiwa baik mengalami secara langsung, mengalami dari bacaan atau dari cerita orang lain semisal kawan atau siapa saja. Mengalami peristiwa yang membekas biasanya membuatku ingin menuliskannya. Bisa juga sebaliknya aku tertarik pada satu isu kemudian mencoba mencari tahu dan melakukan riset kecil baru kemudian menjadikannya sebagai referensi untuk menulis, tapi kalau aku selama ini proses kreatifku lebih banyak pada yang pertama.

Cerpen yang kukirim untuk MIWF juga dari pengalamanku mengalami  peristiwa, Jadi semisal ditanya apa itu cerpen atau apa itu puisi, aku akan menjawab cerpen dan puisi itu adalah mengalami.

MIWF dan Emerging Writers

Ini kali kedua aku mengirim karya ke MIWF. Pertama aku coba mengirim puisi tahun 2014, gak lolos kemudian tahun ini aku coba kirim lagi tapi cerpen. Tentu saja terpilih sebagai salah satu Emerging Writers sebuah kebanggaan tersendiri terlebih ini adalah ajang internasional. Artinya setelah ini, orang akan memiliki ekspektasi lebih terhadap karyaku, tentu berat ini sama saja artinya “Aku gak boleh menulis karya yang buruk”, meskipun aku pasti juga banyak menulis karya yang buruk. Hehehe! Tapi ini jadi motivasi juga buatku.

Setelah MIWF, apa rencana kamu selanjutnya?

Setelah MIWF, aku akan menyiapkan dua buku. Satunya buku kumpulan puisi tunggalku yang kedua, yang satu lagi kumpulan cerpen duet dengan mentorku Kiki Sulistyo.

Buku

Buku yang menginspirasi banyak, tapi kalau ditanya buku favoritku itu Trilogi Insiden dari Seno Gumira Adjidarma dan novel Orang Asing dari Albert Camus.

Musik

Kalau musik beberapa bulan terakhir aku sedang mendengarkan lagu-lagu dari Counting Crows dan membuat beberapa puisi dari interpretasi bebasku terhadap pengalaman mendengarkan lagu-lagunya. Beberapa puisi dari lagu itu juga sudah dimuat di dua media. Berhubung aku juga menulis puisi aku kira gaya bahasa cerpenku bisa dibilang secara tak langsung akhirnya cenderung puitis dan melankolis juga.

Film

Wah kalau film hampir semua film yang aku tonton menginspirasi, kecuali film horor. Hehehe! Film juga bisa jadi bahan referensi aku buat nulis. Jadi kalau tidak baca buku aku nonton film. Biasanya tivi di kamar kalau mau nonton film saja baru dinyalakan, selebihnya tivinya nganggur. Hehehe! Film favoritku The Reader.

Website

Mojok.co, lagi hits soalnya.

Ada pesan untuk penulis dan pembaca Revius?

Barangkali sedikit kalimat saja. Semakin banyak menulis akan semakin peka kita, semakin peka kita akan semakin banyak kebaikan yang lahir.


Baca tulisan lainnya

Ibe S. Palogai: Tulis Mi Apa Maumu!

Yang Akan Kamu Temukan dan Semoga yang Kamu Cari di Makassar International Writers Festival 2016

MIWF is For Everyone!

MIWF 2015 Day 1: Tribute to Passion

MIWF 2015 Day 2: Knowledge for Your Imaginations

MIWF 2015 Day 3: Promoting Literature Around the World

MIWF 2015 Day 4: Knowledge & Universe