Foto: Katakerja ( @katakerja65 )

“Agama adalah sebuah krisis kemanusiaan”. Itulah yang dilontarkan oleh pemikir dan ahli matematika gaek Inggris, Bertrand Russel dalam kumpulan esainya Why I Am Not a Christian. Keberadaan agama sering menjadi sasaran kritik para pemikir dan ilmuwan. Salah satunya, tentang ancaman adanya diskriminasi dan prasangka memakai dalil nubuat dan ayat serta kebebasan dalam bertindak. Nyatanya, diskriminasi dan prasangkalah yang kemudian meluluhlantahkan sebuah peradaban, menghancurkan tatanan hingga semangat kebersamaan yang terjalin lama. Merusak silaturahmi yang tentu saja setiap keyakinan melarangnya.

Maka lewat buku ini Mohamad Guntur Romli, seorang nahdiyin dan aktivis perdamaian, mengajak kita melihat lebih jauh sekaligus memberikan wacana alternatif akan tafsir keagamaan. Seakan menjawab kritik Bertrand Russel, buku Islam Tanpa Diksriminasi terbitan Rehal Pustaka ini, menjadi sebuah rujukan akan berbagai polemik yang terjadi seputar perbedaan-perbedaan di masyarakat. Terlebih dengan kondisi masyarakat sekarang, khususnya dalam Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia.

Masyarakat saat ini sedang dilanda berbagai serangan dari kelompok fundamentalis yang mengatasnamakan mayoritas, juga berbagai prasangka dan diskriminasi. Hate speech masih senantiasa berkibar di bumi yang menjunjung kebebasan berkeyakinan dan berkelompok dalam undang-undangnya. Anda bisa mengecek bagaimana pengusiran terhadap Ahmadiyah masih terjadi–yang terbaru di Bangka. Pelarangan beribadah seperti GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia, tuduhan sesat masih ditujukan kepada para kawan Syiah dan penganut agama lokal, tuduhan komunis pada korban 1965, bagaimana terorisme kini bermunculan, hingga yang terakhir bagaimana prasangka berlebihan terhadap para rekan LGBT.

Dalam buku ini Guntur Romli membaginya menjadi dua. Bagian pertama menjelaskan mengenai “Enam Rukun Islam Tanpa Diskriminasi”; keimanan kepada Tuhan, kemuliaan manusia, kebebasan dan penghargaan terhadap pilihan, kesetaraan dan keadilan, kasih sayang dan tanpa kekerasan, serta yang terakhir kepedulian, keberpihakan, dan keterlibatan dalam perjuangan. Dan bagian kedua yang menjelaskan bagaimana lima jalan menuju Islam tanpa diksriminasi.

Kalau Anda membayangkan sebuah buku agama, yang kemudian hanya berisi doktrin kaku dan keharusan Ilahiah, hal yang itu sepertinya tidak berlaku di buku ini. Gus Guntur, panggilan Guntur Romli, mengajak kita melihat dari berbagai macam perspektif, mulai dari hasil penelitian, bacaan dari wacana lainnya, pengalaman pribadinya, hingga referensi yang sempat terlarang. Itulah yang membuat buku ini holistik dan mudah dibaca. Buku ini sangat jauh dari bahasa–bahasa yang njelimet khas penulis agama dan filsafat.

Sebagai seorang lulusan pesantren dan lulusan Fakultas Ushluhuddin, sudah menjadi kelayakan baginya untuk mengulas bagaimana terjemahan atas kafir, sesat, dan murtad. Bagaimana melihat definisi secara komprehensif jilbab dan aurat–saya sepakat dengan Chairiza–saat ini terbatas untuk menutupi kepala saja—Gus Guntur adalah orang kedua yang membahas topik ini, setelah sebelumnya dilakukan oleh Quraish Shihab. Pengalaman penulis sebagai manajer program untuk Yayasan Jurnal Perempuan, cukup tergambar dalam sebuah sub-bab “Kritik Studi Jender di Indonesia”. Pertama, studi gender yang masih diringkus oleh kepentingan heteroseksual yang berkaitan dengan proyek negara—pengaturan politik seksual: seks untuk reproduksi, pengaturan kelahiran, perkawinan, dst. Kedua, krisis dalam studi agama khususnya terhadap lesbian dan gay yang hanya melihat dalam persepktif hukum Islam—halal, haram, wajib, sunnah, makruh, dan mubah. Nyatanya memang Islam masih sering dipandang pemaksaan budaya, seperti kelompok musik punk, Milisi Kecoa dan Fami Redwan katakan, “Ini bukan Arab, bung!”

Bagian yang paling menarik adalah bagaimana penulis membahas Islam dan LGBT. Setidaknya seorang Guntur Romli bisa menjawab pertanyaan dari Mega Irawan. Guntur Romli menuliskan dalam sebuah bab mengenai bantahan atas mitos-mitos seputar homoseksualitas; kepunahan manusia, homoseksual itu menular, identik dengan HIV-AIDS, penyakit jiwa, dan budaya atau produk dari Barat. Kita diajak melihat budaya nusantara jauh sebelum konsep LGBT tergaung. Seperti kisah Srikandi, perempuan yang berpakaian dan bersikap seperti laki-laki ataupun Candra Kirana yang menyamar menjadi Panji Semirang. Bissu, calabai, dan calalai dalam masyarakat Bugis. Di masyarakat Jawa dikenal istilah wandu. Di Jawa Timur ada budaya warok dan gemblak. Di lingkungan pesantren ada mairil dan dalaq. Hingga yang paling jelas yaitu pada Serat Centhini, kitab sastra Jawa yang ditulis tahun 1814 M. Bahkan ada isyarat-isyarat gairah sesama jenis dalam Al-Qur’an melalui ayat yang berkisah tentang ghulman dan wildan–remaja laki-laki di surga nanti.

Kalangan transgender yang disebut al-khutsa atau al-mukhannats tidak boleh didiskriminasi. Menurut penulis, hadis dan kisah Nabi Luth yang sering jadi dalih untuk pengucilan kalangan transgender, menurutnya tidak dipahami secara benar, bahkan menggunakan hadis lemah dan palsu. Lanjutnya, homofobia yang kini menjangkiti lebih menggunakan “mata benci” atau ayn- al-sukhthi dan an-nasu a’da’u ma jahilu (manusia lebih cenderung memusuhi yang tidak ia ketahui).

Saya harus mengakui sisi positif lainnya dari Gus Guntur. Jika buku tentang agama senantiasa meyakinkan diri sebagai paling benar dan cenderung otoritatif terhadap teks, penulis buku ini berusaha menghindarinya, bahkan sangat tidak berkesan egois akan suatu tafsiran. Salah satunya adalah kutipan ini:

“…Meskipun mengaitkan isu homoseksual dengan Islam, tapi saya tidak hendak mencari–cari “justifikasi tekstual”: menerima atau menolak homoseksual. Atau tak ingin seperti mencari–cari hukum: halal, haram, mubah, dst. Karena justifikasi tekstual sebenarnya sangat bias pada penafsirnya. Tergantung apa niat si penafsir itu…” (hal. 133)

Selain LGBT, gagasan di sini sudah hampir seluruhnya pernah dilakukan oleh banyak cendekiawan muslim Indonesia progresif dari Gus Dur, Nurcholish Madjid, Zuhairi Misrawi, Musda Mulia, atau Ulil Abshar Abdalla. Buku ini menarik untuk dibaca bagi penggemar wacana Islam, pluralisme, budaya, hingga para pembaca pemerhati LGBT. Minimal buku ini menjadi khazanah wacana alternatif terhadap wacana keislaman, khususnya buat kita-kita yang muda, ganteng, dan berbahaya. Buku ini turut di-endorse oleh Denny JA –lupakan sejenak polemik sastranya– sebagai penggiat Indonesia Tanpa Diskriminasi, Yuniyanti Chuzalifah sebagai aktivis perempuan, dan Riri Riza.

Apalah arti tujuan terbitan ini selain penyampaian seperti dalam kata pengantarnya, “Wa ma arsalnaka illa rahmatan-lil-alamin, kami mengutus kau semata–mata sebagai rahmat bagi seru sekalian alam. Juga berkurangnya para sok moralis penjual nama Tuhan.” []

Islam Tanpa Diskriminasi_ReviusJudul: Islam Tanpa Diskriminasi: Mewujudkan Islam Rahmatan lil Alamin | Penulis: Mohamad Guntur Romli | Penerbit: Rehal Pustaka | Terbit: Juni, 2013 | Tebal: 231 halaman | ISBN : 978-602-19450-1-8

Baca tulisan lainnya dari Dhihram Tenrisau

Iip: Sebuah Obituari

Yang Terpelajar, Yang (Seharusnya) Menghargai Musik

Berimaji dengan John

Ber’haji’ di Festival Musik

Saya dan Cak Nur