Oleh: Anhar Dana Putra ( @anhardanaputra )

Jika budaya membaca adalah seorang pasien Rumah Sakit, maka budaya membaca masyarakat Indonesia adalah seorang pasien yang sedang kritis di ruang ICU. Tidak berat sebetulnya untuk dapat mengangguk pada analogi tersebut. Telah dikutip berkali-kali, oleh para penulis, pegiat dan penggiat literasi, serta aktivis pendidikan tentang temuan terakhir UNESCO bahwa indeks minat baca masyarakat Indonesia berada pada skala 0,001. Angka 0,001 pada temuan tersebut berarti bahwa di antara seribu orang Indonesia hanya ada satu orang yang gemar membaca buku. Saya ulangi, hanya ada satu orang yang gemar membaca buku di antara seribu orang Indonesia.

Jadi, jika malam ini kita kebetulan diajak pacar berkencan ke pusat perbelanjaan atau nonton konser musik, cobalah untuk menghitung jumlah para pengunjung yang ada di tempat itu. Jika sudah genap seribu orang, maka berdasarkan indeks tersebut, Anda sudah bisa menduga bahwa hanya ada satu orang di antara mereka yang gemar membaca buku. Jika kebetulan Anda adalah seorang yang gemar membaca buku, maka sudah bisa diduga, pacar Anda bukan seseorang yang gemar membaca buku. Sayang sekali memang.

Data temuan UNESCO tersebut boleh jadi tidak masuk akal atau berlebihan menurut Anda. Tapi jika sempat berkunjung ke rumah-rumah setiap orang Indonesia, entah itu di kota-kota besar atau di desa-desa, maka besar kemungkinan Anda akan menemukan orang-orang akan lebih sering menghabiskan waktu senggangnya menonton televisi atau bermain gadget ditimbang membaca buku. Apa itu salah? Masih bisa diperdebatkan, tergantung dari sudut mana Anda memandang. Tapi apa itu masalah? Ayolah! Anda tidak perlu menjadi seorang aktivis pendidikan untuk bisa mengakui bahwa itu sah sebagai sebuah masalah.

Dalam keadaan normal dan tipikal, sangat menggiurkan dan terkesan heroik memang untuk kemudian maju dengan lantang berteriak mengutuki bangsa ini atau sekadar diam berpangku tangan dan putus harapan. Namun, sebelum menuliskan sesuatu yang buruk dan pesimis mengenai bangsa ini di akun media sosial yang berpengikut ratusan orang itu, Anda layak tahu bahwa sebetulnya berbagai upaya telah dilakukan untuk menumbuh-kembangkan budaya membaca di Indonesia sampai saat ini oleh berbagai pihak, baik itu dari pemerintah, hingga swadaya dari masyarakat secara mandiri melalui komunitas.

Salah satu upaya yang patut diperhatikan dari sekian banyak upaya penanggulangan masalah rendahnya budaya membaca yang telah dilakukan di Indonesia adalah pembangunan perpustakaan-perpustakaan alternatif oleh komunitas-komunitas atau pegiat-pegiat literasi secara swadaya dan mandiri oleh pemuda-pemuda Indonesia di berbagai wilayah, khususnya di daerah. Pada tanggal 11 Mei 2016 kemarin, upaya kampanye budaya membaca oleh komunitas secara swadaya tersebut kemudian diangkat sebagai topik obrolan di sebuah stasiun televisi nasional, tidak tanggung-tanggung melalui sebuah program yang begitu kredibel dan kita tahu ditonton oleh begitu banyak orang dari setiap lapisan masyarakat, Mata Najwa.

Dengan tema “Tidak Sekadar Membaca”, Najwa Shihab yang lazimnya mewawancara para politikus, malam itu justru diplot untuk mewawancarai Ridwan Alimuddin (Perahu Pustaka), Ridwan Sururi (Kuda Pustaka), Okky Madasari (Rumah Muara), Aan Mansyur (Kata Kerja) dan Anies Baswedan selaku Menteri Pendidikan.

Bagi para pegiat literasi, aktivis pendidikan, atau siapa saja yang peduli dengan isu literasi, menyaksikan obrolan di Mata Najwa malam itu tentu saja terasa seperti dielus-elus angin segar di bagian tengkuk setelah lama berjemur di tengah bara kemarau. Menyejukkan dan membangun harapan. Lantas muncul sebuah perenungan; apa kiranya yang bisa dilakukan oleh seorang individu, yang bukan aktivis pendidikan atau pegiat literasi, untuk membuat perbedaan?

Hanya ada satu kata; Obrolkan!

Rendahnya budaya membaca masyarakat, kurangnya minat berkunjung ke perpustakaan, serta pentingnya menghabiskan waktu senggang dengan membaca buku, alih-alih menonton televisi dan bermain gadget, harus terus menjadi obrolan semua orang dalam skala nasional. Siapapun, entah itu politikus, anggota parlemen, penulis, dokter, mahasiswa, alim ulama, tukang cukur, supir angkot, ibu rumah tangga, atau aktivis lingkungan hingga aktivis militan multilevel marketing, harus terus menjadikan isu rendahnya budaya membaca sebagai bahan obrolan di manapun kita bercengkerama.

Sebab hanya dengan begitu, masyarakat Indonesia baru bisa sadar bahwa masalah rendahnya budaya membaca sebetulnya juga merupakan masalah yang tak kalah krusialnya dibanding masalah-masalah lain di Indonesia, dan juga mesti diatasi sesegera mungkin. Sebab hanya dengan begitu, political will dalam diri para elit pemangku kebijakan negara dapat terpantik untuk kemudian merumuskan secara serius kebijakan-kebijakan atau regulasi-regulasi yang dapat mendukung pengembangan budaya membaca pada masyarakat.

Sebab hanya dengan begitu, hanya dengan menasionalnya obrolan tentang isu rendahnya budaya membaca, lapisan masyarakat terkecil yakni orang tua baru bisa sadar untuk mulai membiasakan budaya membaca dalam keluarga sebagai institusi pendidikan pertama dan utama. Sebab betapa pun anak-anak diajak untuk gemar membaca buku di sekolah atau di luar rumah, ketika di rumahnya orang tuanya tidak gemar membaca buku, maka kecil kemungkinan anak tersebut akan tumbuh dewasa menjadi seorang yang gemar membaca buku.

Jika sudah begitu. Jika obrolan tentang budaya membaca, buku-buku, literasi dan perpustakaan sudah menjadi obrolan nasional, tidaklah muluk-muluk rasanya untuk membayangkan bangsa ini, beberapa tahun mendatang, sebentar lagi, akan bangkit dari keterpurukan serta menjadi bangsa yang lebih maju dan beradab. Sama-sama kita harus percaya akan hal itu, dan mulai membaca lalu mengobrolkannya malam hari ini.

Selamat hari buku nasional!

Sumber ilustrasi: Kompasiana.com


Baca tulisan lainnya

#Barrumembaca: Budaya Literasi dan Kebangkitan Gerakan Positif Anak Muda

Membaca Konsumerisme

Membaca Rumah Baca

Terbebas dari Konsumtif, Orang Tua adalah Kunci

Berapa Buku yang Sudah Kamu Baca Tahun ini?