Foto: Muhammad Iqbal (@Iqbalimages)

Dia adalah seniman muda alumni Universitas Negeri Makassar (UNM) yang karyanya dipamerkan di Rethinking Local Heroes baru-baru ini. Rumi, begitu panggilan akrabnya, menginterpretasikan Opu Daeng Risadju, seorang pahlawan perempuan asal Luwu ke dalam karya visual intermedia canvas dan cermin. Karyanya berada di salah satu sudut tembok Rumata’. Saat melihat karyanya saya bingung dibuatnya dan bertanya-tanya “Kenapa pake kanvas dan cermin? Apa maksudnya ini? Apa yang mau dia sampaikan?”

Di tengah-tengah berlangsungnya Rethinking Local Heroes, saya dan Rumi bertemu di Rumata’ Artspace setelah membuat janji untuk wawancara. Ia begitu mencolok malam itu, satu-satunya orang yang memakai topi di Rumata’, sehingga tidak sulit untuk menemukannya.

Saya lalu menghampirinya dan berjabat tangan. Ia menyambut tangan saya dengan ramah dan dengan tambahan senyuman. Setelah kami resmi berkenalan, mata kami melihat-lihat tempat yang cocok untuk bercerita.   

“Di situ saja di’?” Tunjuk Rumi pada salah satu sudut Rumata’.

“Iya, di situ saja, Bro.” jawab saya sambil mencari kursi.

Kami duduk tidak jauh dari karyanya.

Kursi dan posisi nyaman sudah kami dapatkan, saya meminta Rumi untuk bercerita mengenai perjalanannya di seni rupa.

“Setelah lulus kuliah, saya ke kediri…” Rumi membuka pembicaraan.

“Dalam rangka pameran?” Potong saya penuh rasa sotta.

“Bukan” lalu ia tertawa. “Saya ke sana untuk belajar Bahasa Inggris. Baru setelah itu, saya ke Jakarta dan Jogja, jalan-jalan liat pameran sambil cari-cari referensi, melihat bagaiamana  keadaan seni rupa di sana dan membandingkannya dengan di sini. Pas kembali ke Makassar, ada gagasan tentang Laborartorial yang fokus pada manajemen seni dan proyek-proyek seni di Makassar, tapi lebih ke seni rupa,” jawab Rumi.

Rasa sukanya pada seni rupa, membawa Rumi untuk mengambil studi seni rupa di UNM. “Saya menyelesaikan studi saya hampir 7 tahun, karena saya fokus kepada seni murninya, bukan pada pendidikannya. Kalo saya fokus pada pendidikannya, kuliah saya bisa lebih cepat selesai, tapi jika fokus  pada seni murninya, biasanya memakan waktu lama hingga 7 tahun,” katanya dengan tenang.

“Pendidikan seni? Seni murni?” Tanya saya bingung.

“Kalau pendidikan itu jatuhnya ke pengajaran seni, kalau seni murni itu pembuatan karya, seperti seni lukis ini,” sambil menunjuk karyanya. “itu istilahnyaji,” tambahnya lagi.

Saya diam, mengangguk dan berkata pada diri sendiri “you’re not alone.” Di era sekarang, kecepatan adalah tuntutan dan pujaan, bahkan untuk jangka waktu menyelesaikan studi. Makin cepat, makin baik, kata mereka. Semoga mereka tidak ejakulasi dini. Rumi menjadi antitesis anggapan mereka, walaupun menempuh proses yang lama dalam studinya, setidaknya, ia tidak menjadi sarjana yang prematur, karya-karyanya adalah bukti.

Rumi menyukai budaya lokal, sekaligus mencintainya. Perasaan cinta sepaket dengan rasa takut kehilangan. Di era globalisasi ini, budaya-budaya dari luar dengan cepat memasuki masyarakat kita dan menggantikan tempat budaya-budaya lokal. Mungkin itulah yang menjadi kekhawatiran Rumi dan mengatasinya dengan berkarya. “Angkatan-angkatan sekarang sudah akrab dengan gadget dan teknologi lainnya, saya ingin merespon itu, saya ingin generasi sekarang tidak kehilangan karakter budayanya sendiri. Jadi, ide-ide awalnya itu tentu budaya lokal, tapi saya bentuk sesuai dengan selera generasi sekarang.” Terdengar seperti ada kekhawatiran dan rasa bangga saat ia mengatakan itu.

“Terus?” tanya saya yang masih penasaran.

Ia memperbaiki posisi duduknya lalu melanjutkan, “Saya ingin mengenal budaya saya sendiri, membawanya keluar dan mengenalkannya ke luar. Ada istilah seperti ini, suku dan budaya Indonesia menjadi lumbung penelitian orang di luar negeri, setelah itu saya mencari tahu kebenarannya, dan memang itu benar adanya. Kita punya budaya yang masih segar, sumber daya alam yang keren, tapi sumber daya manusianya sangat sedikit yang mengkaji itu, dan saya ingin tahu lebih dalam mengenai budaya saya sendiri.”

“Lalu, apa kesulitan dalam mengangkat konsep budaya lokal dalam berkarya?”

Dengan cepat ia menaggapi, “Kesulitannya itu, budaya tulis kita sangat kurang. Budaya tulis itu bukan sekadar tulisan, tetapi ada penelitian dan landasan penelitian. Kalaupun ada yang berlandaskan penelitian, pasti dalam bahasa Inggris, makanya saya ke kediri untuk belajar bahasa Inggris.” Dia tertawa, lalu melanjutkan, “hal itu juga yang saya alami ketika menyelesaikan skripsi saya, semua buku yang menyangkut fokus kajian saya pada waktu itu sangat kurang, itu pun sampai sekarang hanya dua buku yang relevan yang berbahasa Indonesia, yang berhasil saya dapatkan, selebihnya bahasa Inggris. Tulisan-tulisan yang menyangkut Rethinking Local Heroes saja, saya dapatnya dari Google, tahulah Google seperti apa, Google bisa menjawab semuanya, tapi jawabannya belum tentu benar.” Sekali lagi kalimatnya Ia akhiri dengan tertawa.

Seorang pengunjung berpose dengan karya Jalaluddin Rumi.

“Oh begitu. Jadi, di Rethinking Local Heroes ini, kenapa memilih Opu…?”

“Opu Daeng Risaju” dengan cepat ia menanggapi. “Sebenarnya, saya tertarik dengan pahlawan yang humanis dan berpengetahuan luas. Kalau pahlawan yang seperti itu pastilah Karaeng Pattingalloang. Cuma, sangat susah mencari literatur yang membahas Karaeng Pattingalloang. Sangat susah.” Jawabnya penuh tekanan. “Itu mural-mural yang di belakang sini,” sambil menunjuk bagian belakang Rumata’, “itukan tentang Karaeng Pattingalloang, tapi pembahasannya, yah dari Google, penggambarannya masih seperti itu, belum bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dari kesusahan mendapatkan literatur Karaeng Pattingalloang itu akhirnya tebersit, oh kenapa bukan dari kaum perempuan saja, apalagi sekarang isu tentang feminisme lagi marak, maka saya pilihlah Opu Daeng Risadju. Dan saya pernah memerankan Opu Daeng Risadju pada pementasan SMA dulu. Opu Daeng Risadju menarik buat saya, karena sangat kontras dengan budaya Makassar, tapi sangat menggambarkan budaya Makassar.” Ia diam sejenak, lalu melanjutkan, “Maksud saya begini, kan seperti ini, orang-orang di Sulawesi Selatan itu menganggap kebangsawanan adalah harga mati, tapi bagi Opu Daeng Risadju, dia rela melepaskan kebangsawanannya demi persatuan NKRI.”

Saya bergumam dan kembali bertanya, ”Apakah kendala dalam menginterpretasikan Opu Daeng Risadju juga masih sama? Di literatur?”

“Iya. Untung ada saran dari kak Abdi (Karya) untuk ke kak Syaifuddin. Kak Syaifuddin sendiri pernah meneliti Opu Daeng Risadju secara mendalam dan membuat sebuah naskah. Saya mendapat banyak data mengenai Opu Daeng Risadju dari kak Syaifuddin itu. Dan kak Syaifuddin sendiri tertarik dengannya karena itu juga, Opu Daeng Risadju rela melepaskan kebangsawanannya demi Indonesia yang lebih besar. Dan dia cewek.”

“Anda mendukung feminisme?”

“Bisa saja. Kalau mayoritas bergerak, yang minoritas juga harus bergeraklah,” kali ini Rumi tersenyum.

Saya ikut tersenyum mendengar jawabannya, lalu diam. Rasa penasaran saya di awal saat melihat karyanya akhirnya muncul lagi. “Bisa ceritakan tentang karya ini?” Sambil menunjuk karyanya.

Ia memperbaiki posisi duduknya, juga topinya. “Ini judulnya ‘Harga Diri, Harga Mati.’ Kenapa kayak semacam dua judulnya, karena ada dua respon yang ingin saya minta. Sudut, karena itu tadi, antara keterjepitan Opu Daeng Risadju memilih kebangsawanan atau nasionalismenya. Yang satu sisi, di kanvas, bagaimana ia bisa berdiri sendiri di buminya sendiri, kemudian dengan pergulatan-pergulatan dengan banyak cat disana itu buat saya merepresentasikan pergulatannya dia. Kemudian kain yang terikat dan terlilit, terlepas ke cermin, itu buat saya sudah melepaskan diri dari ke-aku-annya, saya bukan saya lagi, saya ini untuk bumi saya sendiri. Nah, ke cermin, itu buat orang yang melihatya, itu menggambarkan si generasi sekarang bagaimana sih, si generasi sekarang melihat dirinya sendiri.”

Saya tersenyum dan berkata pada diri sendiri, “akhirnya saya taumi apa maksudnya.”

Obrolan kami berlangsung santai di Rumata’. Rumi begitu berharap kegiatan berkesenian di Makassar lebih aktif dan bisa maju seperti di kota-kota lain di Indonesia. Di akhir Rumi bercerita tentang project selanjutnya, “sementara mau penelitian awal untuk bikin pameran Sabbe Synthesist, kita lihat saja nanti,” tutupnya sambil tersenyum.

“Okay, sampai jumpa!”