Oleh: Saleh Hariwibowo (@salehhariwibowo)

Music gives a soul to the universe, wings to the mind, flight to the imagination, and life to everything. –Plato

*
Musik, seperti kata Plato, membawa saya ke mana saja; ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi; ke perasaan-perasaan yang belum pernah saya cicipi. Banyak kota di Indonesia belum pernah saya datangi. Namun, saya percaya, musik bisa mendeskripsikan kota dengan baik.

Berbeda dengan Plato, setiap karya seni, bagi saya, pasti dibuat berdasarkan basis materil (bukan alam ide). Jika seseorang membuat lagu, apa yang ia temui di kehidupan sehari-hari akan memengaruhi nada dan lirik yang dihasilkan. Lagu-lagu yang fiktif dan imajinatif pun selalu punya landasan materil untuk membuatnya seperti itu. Itulah yang membut satu lagu dapat menjelaskan kota dan keresahan orang-orang di dalamnya.

Kok berat, ya? Padahal niatnya liburan.

 

Pergi

Earphone terpasang, tanda perjalanan segera dimulai. Saya berangkat dari Makassar. Seperti biasa, saya mengawali playlist berisi lagu-lagu dari band saya, Kapal Udara. Lagu pertama: Melaut.

Layar, gerak berirama. Laut menyapu. Tenang bersuara. Mengayuh perahu. Jaring. Mekar. Tarik. Ulur. 

Lagu ini selalu mengingatkan saya pada cerita tentang orang Bugis-Makassar yang sejak dulu memang dikenal sebagai pelaut ulung: berlayar, mencari ikan, dan berdagang. Lagu ini belum membuat saya pergi ke mana-mana. Mendengar lagu Melaut seperti sedang memandang cermin sebelum berpergian. Saya masih di Makassar namun dengan latar waktu yang berbeda.

Lagu kedua: Merantau. Masih dari Kapal Udara.

Suatu hari, sebelum menua. Kau pergi. Pergi. Dalam hati kau menghibur diri. Bernyanyi. Lalalala. Hey! 

Saat mendengarkan lagu ini, saya betul-betul merasakan bahwa perjalanan sudah dimulai. Saya merasakan bunyi mesin kendaraan yang sedang dipanaskan. Saya merasakan keraguan di dalam diri para penumpang yang meninggalkan ‘rumah’ mereka. Dari jendela saya melihat lambaian tangan yang mengantar saya ke perjalanan jauh dan penuh pertanyaan.

Dari Makassar saya harus ke mana?

 

Jakarta

Sebenarnya saya belum menentukan seluruh rute perjalanan. Playlist di hape belum saya atur sepenuhnya. Namun, tiba-tiba, saya teringat Jakarta. Saya harus ke Jakarta! Di acara-acara teve, Jakarta punya banyak tempat liburan yang menggiurkan. Jakarta punya banyak wahana yang memporak-porandakan adrenalin. Di sana banyak gedung pencakar langit. Tidak seperti di Makassar. Di sana banyak acara musik yang bisa saya datangi, dan bertemu band-band favorit saya.

Saya memilih White Shoes and the Couples Company (WSATCC) untuk mengajak saya berkeliling di Jakarta. Saya menemui WSATCC sedang galau di lagu Dana Express.

Pak Direktur, kami lelah. Kandas harapan berlibur. Senja indah di akhir tahun. Kami pun ingin bersuka. Besar harapanku menggunung, semoga tempo lembur tidak sia-sia. Tiap hari, pagi berangkat kerja menabung impian besar bersama. Pak direktur lelah aku menunggu gajimu. Tipis sudah harapan berlibur di akhir tahun.

Ternyata Jakarta adalah pilihan yang buruk untuk liburan. Jakarta terlalu sibuk! Teriakan di tengah lagu Dana Express membuat saya ikut stres dan merasakan hidup yang semrawut dan berdesak-desakan.

Duo Banda Neira, di lagu selanjutnya, meminta saya memaafkan Jakarta dan menyarankan untuk liburan dengan bersepeda di Jakarta.

Bersepeda keliling kota. Kanan Kiri, ramai jalanan. Arungi lautan kendaraan. Maafkan kota Jakarta.

Pesan Banda Neira tidak cukup menguatkan niat saya untuk melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Membayangkan Jakarta saja sudah cukup membuat saya stres.

 

Bali

Ingin menghilangkan stres, saya mengingat Nosstress. Dari namanya sudah tercermin lagu-lagunya santai dan bisa memijat-mijat pundak saya sambil berbaring di bibir pantai. Sepertinya Bali lebih menjanjikan daripada Jakarta.

I don’t want to grow old. To think about all the things I didn’t do and regret. So, I am gonna help you smile today. Help you forget everything you’ve been silently screaming.

Di Bali, Nosstress berhasil menyelamatkan liburan tahun baru saya. Meskipun kata Nosstress:

Tahun baru lagi. Angan semakin tinggi. Tak kunjung terpenuhi. Semakin kupikir semakin pening saja otak ini. Tahun baru lagi sudah mulai ditanya hal yang sama lagi. Kapan menikah? Cepat tua kamu nanti! 

Setelah mendengarkan lagu-lagu Nosstress, saya terus menikmati Bali bersama band lainnya seperti Navicula, Dialog Dini Hari, dan The Hydrant. Sebagian besar lagu mereka bercerita tentang perlawanan dan ratapan atas kondisi ekologi-politik Bali. Mendengarkan lagu-lagu mereka membuat saya tahu bahwa ternyata Bali tidak hanya berisi orang asing dan pantai yang indah. Ternyata Bali juga dirundung masalah seperti reklamasi dan sebagainya.

Terasa berat meninggalkan Bali, tapi saya harus mengunjungi tempat-tempat liburan lain. Di perjalanan, saya kembali memutar lagu Kapal Udara.

Hingga kini, separuh usia. Pulang tak lagi menjadi mimpi. Tak lagi menjadi mimpi (Kapal Udara, Merantau).

 

Surabaya

Saya memilih Surabaya sebagai destinasi liburan selanjutnya. Malam telah jatuh ketika saya sampai di sana. Silampukau menyambut kedatangan saya dengan manis.

Magrib mengambang. Lirih dan terabaikan. Tuhan kalah di riuh jalan. Orkes jahanam. Mesin dan Umpatan. Malam jatuh di Surabaya. (Silampukau, Malam Jatuh di Surabaya).

Silampukau sangat baik hati membawa saya berkeliling Surabaya bersama album “Dosa, Kota, dan Kenangan.” Saya melihat detail dunia-pinggiran kota. Anak-anak bermain bola di jalan raya. Tongkrongan para pemuda yang sedang mabuk tuak. Musisi yang duduk manis menjaga distro. Pemuda yang ditinggal kekasihnya ke luar negeri. Para perantau yang sulit mencari kerja. Yang paling mudah saya ingat: Dolly.

Setelah lelah berkeliling Surabaya, masih ditemani Silampukau, saya duduk di salah satu bangku warung kopi. Lampu yang lebih remang dari lampu jalan. Orang-orang dan kendaraan berlalu-lalang. Di masing-masing meja yang lain, obrolan, tawa, berserakan dengan bahasa Jawa yang tidak saya pahami. Silampukau mengajak saya merenung.

Seperti takdir yang panjang dan pedih. Dalam hidup yang muram dan letih. Aku masih di sini. Ku duduk menanti. Hanya menanti. Tak bergegas mencari. Hanya bersedih. Dalam sunyi. Duduk menanti dalam letih mimpi.

Silampukau telah membawa saya berkeliling. Bukan hanya ke sudut-sudut kota, tapi juga ke perasaan-perasaan yang pernah saya alami sebagai perantau di Makassar. Silampukau membuat saya merasa asing di tengah keramaian.

Di pagi hari saya meninggalkan Surabaya. Silampukau memberi pesan perpisahan: Jauh-jauh puan kembara, sedang dunia punya luka yang sama. 

 

Yogyakarta

Dari Surabaya, saya tiba di Yogyakarta. Di sini saya langsung menyaksikan ratusan demonstran yang memprotes penggusuran rumah dan sawah-sawah milik rakyat. Di ujung malam, mahasiswa berkumpul menyampaikan keresahan mereka lewat seni.

Sisir Tanah mengantar saya melihat pemandangan-pemandangan yang saya tulis di atas.

Diseret-seret waktu kita berjalan saja. Masih terus berjalan. Meskipun kita tak tau. Berapa jauh jalan ini nanti. Dan kita tak juga rela tunduk pada jarak. ..Meskipun kita tak kunjung tahu ujung jalan ini. Dan kita tak juga kan terhenti.

Kita akan slalu butuh tanah. Kita akan selalu butuh air. Kita akan selalu butuh udara. Jadi teruslah merawat. Jika kau masih cinta kawan dan saudara. Jika kau masih cinta kampung halamanmu. Jika kau cinta jiwa raga yang merdeka. Tetap saling melindungi. Dan harus berani. Jika orang-orang serakah datang. Harus di hadang. Harus berani. Jika orang-orang itu menyakiti. Harus bersatu menghadapi.

Sisir Tanah membuat saya teringat berita-berita di TV. Di Rembang dan Kulon Progo. Di tempat-tempat buldoser menggaruk rumah dan sawah.

Saat bersama Sisir Tanah, saya membatalkan niat untuk mengunjungi tempat liburan di Yogyakarta. Saya batal merasakan Summer Fall bersama Stars and Rabbit. Saya batal ke Sayidan bersama Shaggydog. Saya batal bersuka cita bersama lagu-lagu Summer in Vienna. Saya justru ikut “Menangisi Akhir Pekan” bersama FSTVLT.

Teman dan pencerita. Panggung dan pertunjukan. Cairan dan pendosa. Rayakan dengan asap di hela nafas. Jalan dan pencarian jawaban. Ingatan dan penyesalan. Tangisi akhir pekanmu. 

Sisir tanah dan FSTVLST mengantar saya pulang ke Makassar. Mereka telah berbagi cerita tentang kepedulian dan perlawanan.

Yogyakarta menutup liburan akhir tahun saya kali ini.

 

Pulang

Tiba di Makassar, sebelum mengakhiri liburan tahun baru, saya kembali mendengarkan Kapal Udara.

Menanam. Menanam. Menanam Harapan. Penantian. Penantian. Tanam Harapan.

Saya harus menanam harapan bahwa liburan tahun baru ini tidak ditutup dengan gembira. Seperti yang saya katakan di awal, musik telah membawa saya ke mana saja. Ke perasaan tertekan (WSATCC, Dana Espress), senang (Nosstress, Shine), sendu (Silampukau, Malam Jatuh di Surabaya), dan Sedih (Sisir Tanah, Lagu Hidup).

Sebetulnya masih banyak tempat atau lagu yang ingin saya datangi saat berlibur kali ini. Namun, dokter menyarankan saya menggunakan earphone dengan waktu lama itu berbahaya buat telinga.

Semoga liburan tahun depan makin banyak lagu yang bisa membawa saya, atau kita ke perjalanan-perjalanan yang lebih seru.

Sebagai catatan tambahan: Jika kau tertarik berlibur ke Makassar, tapi belum punya waktu dan uang yang cukup. Kau bisa mengikuti apa yang sedang saya lakukan: membaca lagu. Lagu-lagu di bawah ini bisa kau dengarkan dan turut merasakan Anging Mammiri.

  1. Kapal Udara – Melaut
  2. Theory of Discoustic – Alkisah
  3. KPJ – Gammara
  4. Art2tonic – Ambemuami Ngoa
  5. Clementine – Jelaga Kota
  6. Front X Side – Di Mata Badik
  7. Bhulu Ayam – Brownies (Barongko Manis)

 

 

*Tulisan ini terinspirasi dari lagu Liburan Indie karya Endah and Reza, dan interpretasi bebas atas lagu-lagu dalam tulisan ini.