Arman Dhani, salah satu pria paling berpengaruh di jagad Internet di Indonesia, sedang sedih. Di Twitter, barangkali sambil menyimak lagu kesukaan barunya dan membayangkan wajah seseorang dari masa lalunya, dia menulis satu keresahan yang dalam hitungan menit sudah diritwit ratusan penggemar:

Bukan cuma Dhani yang resah. Jika mengetik empati di kolom penelusuran Twitter, kita akan menemukan kenyataan bahwa nyaris semua orang yang menulis kata tersebut mengeluhkan kian kurangnya empati. Mengharukan. Tetapi kelangkaan empati bagi banyak orang tidak lebih penting daripada doa Presiden SBY; tidak lebih genting daripada menghilangnya seekor anjing mahal milik entah siapa.

Kita mengangguk. Kita sepakat. Kita juga sedih. Empati penting, tetapi, sudahlah, untuk apa memikirkannya. Lebih baik lanjut terbahak-bahak di hadapan twit-twit Mas dan Mbak junjungan kita yang maha lucu. Oh, demi apa pun, merekalah pahlawan abad keduapuluh satu; mereka susah-payah mengamati hal-hal kecil di sekitar mereka dan menuliskannya di media sosial untuk membuat kita tertawa!

Jangan bikin hidup kian susah. Salah satu tujuan bumi diciptakan adalah tempat bermain, bersenang-senang, dan ngikik di muka derita orang lain. Sesekali bolehlah meritwit kejadian yang mengiris-iris ulu hati supaya para follower percaya bahwa kita belum sepenuhnya jadi robot. Toh, mereka tiap hari menyaksikan kita marah-marah di timeline karena banyak bajingan intoleran tidak tahu diri yang hendak menghancurkan peradaban. Cukuplah itu.

Apabila setuju dengan hal-hal yang aku sebutkan di dua alinea sebelumnya, barangkali kamu termasuk orang yang terancam mengalami krisis empati yang membuat Dhani sedih. Mohon jangan terlalu sering bikin Dhani sedih.

Omong-omong, apa sih empati itu sebetulnya? Simon Baron-Cohen (penulis yang bikin kuisioner untuk mengukur The Empathy Quotient), melalui buku The Science of Evil: On Empathy and the Origins of Cruelty, mengatakan: “Empathy is the art of stepping imaginatively into the shoes of another person, understanding their feeling and perspectives, and using that understanding to guide your actions.”

Empati berbeda dengan simpati — kasihan atau sedih menyaksikan derita seseorang — yang tidak berusaha memahami perasaan dan cara pandang orang lain. Empati berbeda dengan “memperlakukan orang lain seperti kamu ingin diperlakukan”, sebab pandangan itu menganggap kepentingan diri sendiri sama dengan orang lain.

*

AKU sejujurnya juga sedih dan sepakat dengan Dhani bahwa empati kini menjadi kemewahan yang karena saking mewahnya barangkali hanya anggota masyarakat kelas paling tertindas yang sanggup memilikinya. Para penguasa dan pengusaha tidak bisa — apalagi masyarakat kelas menengah yang cuma fasih ngehek di mana-mana seperti kita.

Kabar baik: Frans de Waal, di bukunya The Age of Empathy: Nature’s Lessons for a Kinder Society, menunjukkan lewat berbagai penelitian bahwa primata — hewan seperti monyet, kera, lemur, tarsius, simpanse, dan kita manusia — adalah mahluk penuh empati. (Lain kali, jika ada orang menyebutmu anjing atau tapir, mestinya kamu marah karena mereka bukan primata!)

Dua simpanse, misalnya, diminta bersaing menekan tombol tertentu agar bisa mendapatkan makanan. Simpanse yang lebih awal menekan tombol akan diberi makanan. Sementara itu, simpanse yang telat — mungkin karena hidupnya selow — akan dihukum dengan setruman listrik. Setelah beberapa kali diulang, simpanse akan menolak menekan tombol karena tidak tega melihat simpanse lain menderita.

Kabar buruk: berbeda dengan jenis primata lainnya, manusia memiliki sesuatu yang dengan senang hati selalu mereka bangga-banggakan: Akal. Manusia pandai membangun beragam macam benteng untuk menjauhkan diri dari sifat empati. Tujuannya: supaya kita tidak perlu merasa bersalah melihat penderitaan manusia lain.

*

DONALD Winnicott bilang akal kita sehat jika memiliki kemampuan masuk secara imajinatif dan akurat ke dalam pikiran dan perasaan dan harapan dan ketakutan orang lain; juga sanggup membiarkan orang lain melakukan perihal yang sama kepada kita.

Empati adalah perangkat yang amat vital bagi manusia. Jika empati sangat penting, mengapa menjadi kian langka? Alasannya, kata Roman Krznaric di bukunya, Empathy: Why It Matters, and How to Get It, secara sosial dan politis kita menghadapi empat penghalang utama.

Kita, pada umumnya, dengan mudah dihinggapi asumsi atas orang lain. Dan, bagi kita, semua orang adalah orang lain. Itulah rintangan pertama empati: prasangka.

Kita senang berlomba memberi penilaian. Siapa cepat dia hebat. Kita hidup di tengah masyarakat yang mudah curiga dan susah mengindar dari prasangka. Hanya dengan satu pertemuan — kadang kala tidak perlu bertemu — , kita bisa yakin seseorang jahat. Dengan satu twit, umpama, kita percaya terhadap label tertentu atas orang lain. Dengan sekadar membaca sebaris judul buku, kita jadi fasih menjelaskan keburukan penulisnya.

Dengan asosiasi klise, kita kerap menganggap seseorang yang berprofesi tertentu otomatis memiliki sifat dan perilaku tertentu pula. Kita cenderung menilai orang lain dan menempatkannya di kotak berlabel buruk karena identitas sosial mereka. Kita gampang jatuh di kubangan stereotipe; karena beragama atau bersuku blablabla, maka dia pasti blebleble. Kecenderungan-kecenderungan semacam itu menghalangi kita melihat setiap orang sebagai manusia yang unik, memiliki pandangan dan perasaan berbeda, atau punya cerita personal di balik sikap atau pernyataan mereka.

Mengubah prasangka kita terhadap orang lain, malangnya, tidak seenteng menyembunyikan bulatan upil di balik meja kerja. Sebab, selain terkait pandangan politik dan kepercayaan kita, sering kali ditambah pula trauma psikologis tertentu.

*

KEKUASAAN merupakan tembok kedua yang bikin kita tidak berempati. Pola kerjanya sederhana. Kita kerap menemukan penindasan dan para pelaku bisa lari dari tanggung jawab dengan mengatakan: “Saya hanya menjalankan perintah.” Bayangkan jumlah korban kasus 65. Para dalang peristiwa pembantaian itu pasti tidak sanggup melakukannya sendiri.

Jika kamu terlalu sulit membayangkan peristiwa yang berlangsung separuh abad lalu itu, di sekitar kita sudah terlalu sering terjadi penggusuran dalam beragam bentuk dan cara. Mereka yang menggusur, jika ditanya sering kali berlindung di balik: “Saya tahu salah, tetapi saya hanya menjalankan tugas.” Atau, tidak perlu terlalu jauh, kita sering berlaku tidak adil kepada orang lain karena kita tidak mau atau tidak mampu melawan atasan.

Kedengarannya sepele. Tetapi, tentu saja, bisa amat berbahaya. Kian sering melakukannya, kita akan kian terbiasa. Dan, pada akhirnya, kita akan menganggapnya wajar. Kita lupa: kekuasaan bekerja menindas dengan sempurna justru ketika sesuatu terlihat biasa-biasa saja.

Untuk membantu memahami perkara satu ini, kamu bisa membaca ihwal percobaan ilmiah di bidang psikologi sosial yang pernah begitu heboh: Milgram Experiment.

Selain prasangka dan kekuasaan, jarak juga bisa bikin kita tidak berempati. Kita mungkin bisa berempati kepada keluarga atau tetangga, tapi tidak akan mudah melakukan perihal serupa kepada anak-anak gelandangan di kota lain. Kita barangkali bisa berempati kepada saudara, tapi tentu saja sulit melakukannya kepada anak-anak korban perang di benua lain.

Jarak tak melulu spasial. Jarak juga berbentuk identitas dan latar belakang sosial berbeda. Kita mungkin lebih mudah berempati kepada penderitaan orang-orang yang seiman dengan kita, tetapi sulit jika menimpa pemeluk agama lain. Kita tidak sanggup dengan gampang melepaskan pakaian suku, agama, dan identitas orang lain dan berusaha semata memandang mereka sebagai manusia. Sungguh tidak mudah.

Dan, jarak yang paling menantang imajinasi kita untuk berempati adalah jarak waktu. Tidak semua orang mau dan mampu berpikir bahwa sesuatu yang mereka lakukan hari ini bisa jadi adalah penindasan bagi generasi berikutnya.

Empati mestinya mampu menerabas ketiga batas jarak tersebut.

*

DI hadapan mata kita kini dengan mudah terhampar gambar-gambar yang bisa membuat kita secara psikologis kelesuan. Foto dan video yang menunjukkan anak-anak kelaparan atau mati karena perang. Setiap saat media menayangkan hal-hal semacam itu dan membuat kita mengalami kelelahan empati. Susan Sontag menyebut bahwa gambar-gambar semacam itu bisa menganestesi kita, membuat kita tiba pada kondisi seperti judul lagu Pink Floyd, Comfortably Numb.

Manusia adalah mahluk yang dengan segala kecanggihan akalnya mampu melindungi diri mereka dengan menciptakan penyangkalan-penyangkalan. Inilah hal keempat yang merintangi kita dari empati: penyangkalan.

Karena terlalu sering membaca berita-berita mengenai penderitaan orang lain di mana-mana. Misalnya: kita melihat foto-foto banjir bandang di salah satu kota di Asia Selatan yang menewaskan ribuan manusia. Kita mungkin bersedih, tetapi kemudian berpikir hampir tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menolong mereka. Kita punya uang lebih untuk didonasikan, tetapi kita selalu diganggu pikiran uang tersebut mungkin akan diselewengkan orang-orang yang mengurus bantuan.

Begitulah, pada akhirnya, kita tidak melakukan apa-apa dan tidak merasa bersalah karena tidak melakukan apa-apa. Mungkin sedikit bersalah, tetapi kemudian kita ingat ada Mas dan Mbak junjungan yang maha lucu dengan segala twit dan meme-nya yang segar. Oh, sungguh, merekalah pahlawan yang telah menghibur dan melepaskan umat manusia dari rasa bersalah!

Setelah puas tertawa, mari kita lanjut marah-marah karena ada bajingan intoleran baru yang ingin menghancurkan peradaban.

Ilustrasi: Aisyah Azalya