Mengawali tahun 2017, bagi tim divisi musik Revius, ternyata tak semudah yang diperkirakan. Setelah memuat edisi perdana Music Mixtape di bulan Desember tahun lalu dan menghelat Revius Music Awards 2016 di awal Januari 2017, tim musik Revius justru disibukkan berbagai hal sepanjang Januari dan menyebabkan rubrik Music Mixtape ditelantarkan.

Lebih baik telat daripada tidak sama sekali, maka untuk Music Mixtape bulan Januari 2017, tim musik Revius memilih lima lagu dari musisi Makassar yang termuat dari album mereka yang resmi dirilis pada tahun 2016, baik dirilis secara fisik maupun digital. Lima lagu rilisan 2016 ini dipilih karena tim musik menganggap masih perlu menyelesaikan review-nya, sembari menunggu review rilisan-rilisan teranyar skena musik Makassar di 2017. Bersama mixtape ini, kami menyertakan review singkat tentang lagu masing-masing sesuai urutan track dalam mixtape ini.

Selamat mendengarkan, selamat menikmati Music Mixtape Januari 2017.


Eddington – Road to the Bright 

Setelah merilis video klipnya untuk lagu Bodytalks pada Record Store Day 2016, kuartet post-punk asal Makassar, Eddington akhirnya menyempurnakan dengan merilis album penuhnya bertajuk Minimalism pada Desember 2016 lalu. Untuk sementara, Eddington yang sekarang beranggotakan Asnur (vokal), Agus (bass), dan Noak (drum) merilis album ini secara digital. Kabar itu tentu saja tidak mengurangi rasa antusias saya untuk bisa mendengar secara keseluruhan album ini. Terutama track favorit yang bertajuk Road to the Bright yang juga termuat dalam EP mereka terdahulu, EST.2013.

Sampul album Minimalism yang dirilis Desember 2016 lalu.

Bila mendengar lirik yang dinyanyikan Asnur, saya merasakan Road to The Bright bercerita tentang jalan hidup dengan berbagai masalah yang ditemui manusia dari lahir hingga tiada. Sedangkan untuk aransemennya sendiri, Road to the Bright mengalami sedikit perubahan dengan menambahkan elemen loop dan synth new wave yang gelap ala Joy Division dan New Order.

Bersama aransemen lagunya yang rapi serta menambah optimisme dan direkam dengan sangat bagus oleh Chapung (Rucs Records),  Road to the Bright beserta album Minimalism sangat layak didengar dan menambah bukti nyata untuk musisi Makassar yang semakin rajin merilis karyanya sendiri. Dan, saya pun semakin tidak sabar melihat rilisan fisik untuk album Minimalism ini.

Idiot Einstein – Kedegilan Sarang Penyamun

Mari kita kutip sebagian lirik lagu ini: “Luar biasa semua misteri-misteri dirincikan. Berita sukacita ingin kau patahkan,dengan konspirasi domba kau racuni. Gembala mohon berikan penawarmu. Terimakasih sains, ini hampir jadi masuk akal, tapi sepertinya umurmu takkan dapat membuktikan karya keselamatan.” Sekilas mata saya menangkap makna-makna yang serupa dengan apa yang disyi’arkan oleh MxPx atau POD. Religious rock. Rocker ber-Tuhan. Versi punk rock dari gerakan metal satu jari. Atau kebalikannya? Bisa saja. Karena menurut selera pribadi saya terhadap musik punk, ada perbedaan fundamental antara lirik lagu yang dinyanyikan dan yang diteriakkan.

E.P Koala and Owl yang memuat 4 lagu, salah satunya Kedegilan Sarang Penyamun.

Yang bernyanyi cenderung mengedepankan intelektualita, sedangkan yang berteriak cenderung mengedepankan emosi. Tentu saja lagu cinta tidak dihitung. Jadi, apakah Kedegilan Sarang Penyamun adalah lagu yang menganjurkan hadirnya Tuhan pada semua misteri kehidupan yang belum terpecahkan? Atau justru mendorong ilmu pengetahuan untuk membongkar semua misteri di alam semesta ini? Apapun itu, keduanya merupakan komitmen yang sangat berat. Di luar departemen lirik, punk rock bertempo medium dengan nada-nada gembira adalah formula paling bersahabat untuk semua jenis telinga. Semua orang menyukai pop punk. Itulah mengapa saya lebih suka menganalisa lirik lagunya. Semoga konsistensinya terjaga, kawan-kawan Idiot Einstein.

FreezerStupid Dancing

Stupid Dancing adalah track favorit saya! Intro lagu ini sanggup membuatmu bersemangat untuk membumihanguskan segala kebencian yang kau baca di social media. Beat drum ciamik disambut sahutan gitar gahar menyempurnakan asupan adrenaline yang dihidangkan Freezer di EP Albert Einstein Halo.1. Track ini juga tidak memberimu ruang sedikitpun untuk sekedar  memperbaiki pergeseran posisi tulang leher akibat intensitas anggukan kepala.

EP Albert Einstein Halo.1  pun menegaskan bahwa Charles M Yusuf (sebut saja Alle’) adalah salah satu sosok vokalis rock paling ideal yang dimiliki semesta. Tak ada kesan gele’-gele’ ketika mendengar teriakan seraknya. Semua suara yang keluar dari mulutnya seperti sudah diberi efek Metalzone dengan semua knob mengarah jam 5. Bahkan untuk nyanyian bernada dan kejelasan artikulasi (yang merupakan mimpi buruk bagi siapapun yang mencoba bernyanyi dengan gaya ini) -pun Alle’ terbukti khatam memadu dan memerdukan-nya. Belum lagi kemampuan menulis lirik tak biasa yang kadang menggelitik, menghardik, namun jauh dari kesan mendidik (harusnya ‘menggurui’. Tapi demi rima, apa daya…). Salute!

Holewish – Hail Satan Fire

Holewish, unit stoner/doom asal Makassar  menurut saya terbilang aktif (atau hiperaktif, jika boleh berlebihan) dalam  bergerak mempromosikan karyanya di media sosial sejak terbentuk tahun 2016. Dan, salah satu hasil pergerakan yang berbuah manis adalah merilis sebuah EP yang bertajuk Hail Satan Fire, Demo EP yang dirilis dalam kaset pita oleh Disaster Records.

Hail Satan Fire, Demo EP yang dirilis secara fisik dalam bentuk kaset pita oleh Disaster Records.

Dalam album Hail Satan Fire, Demo EP tersebut mereka merilis sebuah lagu bertajuk Hail Satan Fire yang memuat power riff ala Toni Iommi yang rapat yang berpadu dengan corak musik Holewish yang sangat berdekatan dengan band-band yang menginspirasi mereka dalam memainkan musik ini seperti Black Sabbath, Sleep, Kyuss, Fu Manchu, Earthless dan nuansa Ghost B.C. di dalamnya.

Meski judul lagunya bisa dikatakan garang, namun live recording untuk Hail Satan Fire masih terdengar berantakan. Kritik saya untuk rekaman Hail Satan Fire,  Holewish semestinya menggarap rekaman live untuk lagu ini dengan baik. Mengingat bermain dengan gitar dan bass yang pekat dengan fuzz distortion pun perlu kualitas rekaman yang bagus. Walaupun begitu, saya salut dengan Holewish yang beranggotakan Holis (drum), Wisnu (bassist /vocal), dan Fahri (guitar) ini telah cukup berani merilis karyanya sendiri tanpa perlu takut dikritik karena kualitas rekaman lagunya.

Dead of Destiny – Menghujam Peluru

Menghujam Peluru merupakan lagu kelima dari album The Black milik Dead Of Destiny. Musikalitas yang tidak sekadar garang, tapi memperhatikan sisi logis dari bermusik. Karena bukan hanya pengakuan sangar yang dibutuhkan dalam menciptakan musik, khususnya Metal.

“Menghujam Peluru” yang termuat dalam album The Black.

Akan tetapi, kelogisan diperhatikan agar diterima di telinga tiap pendengarnya. Dengan lantang Rico menyalak, “Siapkan amunisi! Lebarkan sayap, menghentak bumi! Kibarkan jiwa! Hujamkan Mata Melawan Hitam!” diiringi dengan musik yang seakan ingin perang, lagu ini berhasil membuat adrenaline terpacu ditambah komposisi musik yang apik, menghantar sensasi mengarungi sisi liar dan agresifnya kegelapan. Breakdown yang diselipkan sedemikian rupa kemudian masuk permainan double pedal yang menurut saya lebih dari cukup untuk membuat circle pit yang liar.

Tidak perlu basa-basi untuk unjuk taring. Percayalah, lagu ini tidak kalah garang dari badai yang datang dan pergi. Materi lagu dengan kelas dunia, ditambah raungan distorsi, bass yang tidak kalah sangarnya, dan dibarengi dentuman drum yang menghipnotis pendengarnya untuk tidak tinggal diam, minimal menggangguk-anggukkan kepala. Info terbaru yang saya terima, lagu Menghujam Peluru juga sedang digarap video klipnya oleh Dead Of Destiny bersama videografer Reza Yuspa. Mari menunggu bentuk visualisasi untuk lagu ini.

*

Tim Musik Revius Mixtape Januari 2017: Achmad Nirwan, Acoh Wahab, Fami Redwan, dan Brandon Hilton.