Oleh: Al-Fian Dippahatang(@pentilmerah)* | Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Jika aku terbangun lebih awal,
selain dari hari libur.

Kupahami jendela kupenuhi Pericoli.
Keduanya berpadu hilangkan sesatnya arah.
Tubuhku senang menangkap cahaya
yang terkesiap hangatkanku
memburu gigil—membunuh penyakit.

Aku keseringan lupa membawa mantel.
Jangan bilang aku senang dengan hal demikian.
Justru aku membutuhkan orang yang bisa mengingatkanku.
Barangkali kau, tapi semuanya sia-sia.
Kau lebih bergairah menunggu seseorang turun dari mobilnya
menjemputmu yang telah kau nantikan di halte.

Kau senang berlindung di dalam mobil.
Sekali lagi, payung yang pernah kau lihat kutenteng
pun sebenarnya telah berganti menjadi mantel.
Lebih simpel dan membuatmu leluasa melangkah.
Namun, sejak kehadirannya—jiwa anak-anakmu
yang sepaham denganku, tiba-tiba menghilang.
Tak ada rona dilema yang berkerumun di mukamu.
Kau malah menikmatinya.

Bulan ini, musim kesibukanku juga hujan menggenangi jalan-jalan.
Mengenangkanku pada pipimu yang selalu basah.
Jika kau marahan, senang hatimu menumpahkannya padaku.
Padahal aku tak cukup mampu mendengarkannya.

Hujan teramat deras mengguyur di dalam tubuhku.
Bukan berarti mobil salah satu pelindung yang ingin mengganti semua posisi.
Baik payung dan mantel sama-sama menyatu keakrabannya padaku.

Makassar, 2014

*Penulis adalah Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin (Unhas) angkatan 2014 yang pernah kuliah selama dua tahun di Sastra Indonesia Universitas Negeri Makassar (UNM). Tulisannya ikut dalam antologi pemenang (Jejak Sajak di Mahakam, 2013 Lanjong Art Festival) dan (Ground Zero, 2014 Diva Press). Beberapa essai, cerpen dan puisinya pernah dimuat di koran. Bisa di sapa di akun twitter-nya: @pentilmerah.