Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Saya baru saja selesai membaca buku karya Brendon Burchard berjudul Life’s Golden Ticket dalam edisi terjemahannya, Tiket Emas Kehidupan. Burchard menulis buku ini setelah dia mengalami kecelakaan mobil sepuluh tahun yang lalu (buku ini diterbitkan tahun 2007) saat dia hendak mengunjungi sebuah negara berkembang. Bagi Burchard, kecelakaan itu seperti metafora sempurna yang menggambarkan kehidupannya saat itu: perjalanan melintasi jalan gelap, tikungan tajam dan kehilangan kendali.

Buku ini dimulai dengan pertanyaan. Bagaimana seandainya kau diberi tiket ajaib yang dapat membuat Anda menjalani hidup dari awal lagi? Apakah Anda akan mengulangnya kembali?

Ceritanya bermula saat Mary Higgins akhirnya ditemukan terkapar di wilayah Bowman’s Park. Mary telah menghilang selama empat puluh hari setelah terlibat pertengkaran dengan suaminya. Saat dibawa ke rumah sakit, dalam kondisinya yang kritis, Mary menyerahkan sebuah amplop tertutup pada suaminya, Mr.Higgins, dan memintanya agar pergi ke Bowman’s Park jika suaminya ingin mengetahui apa yang terjadi padanya.

Dengan berbekal rasa penasaran dan janji pada istrinya, Mr. Higgins tiba di Bowman’s Park. Tempat itu sesungguhnya telah ditutup 20 tahun yang lalu, setelah seorang anak jatuh dan tewas saat bermain di wahana Kincir Ria . Namun secara ajaib dengan cara yang tak bisa dijelaskannya, taman bermain itu kembali hidup. Wahana-wahana nya kembali beroperasi. Orang-orang mulai berdatangan, tempat parkir penuh dengan beraneka macam mobil yang mengantri sambil membunyikan klakson. Semuanya terasa begitu nyata.

Dipandu oleh Henry, tukang sapu taman yang telah bekerja puluhan tahun disana, Mr. Higgins kemudian menemukan dirinya belajar banyak hal dari wahana-wahana di taman bermain itu. Dan tentu di ujung perjalanannya, akhirnya dia tahu apa yang terjadi pada istrinya, Mary.

Dari 17 wahana yang diceritakan di buku ini, ada setidaknya enam wahana yang saya rasa paling penting untuk ditulis. Enam wahana ini memiliki pesan yang layak untuk dipikirkan dan jika mau, diimplementasikan dalam hidup kita.

1. Bilik Kebenaran

Bagaimana seandainya kalian berada di suatu ruangan kecil yang mengharuskan kalian berkata jujur? Bukan semacam ruang interogasi polisi, karena ruangan itu tidak menghakimi. Bukan juga seperti bilik pengakuan dosa di gereja yang ada di film-film. Di Bilik Kebenaran, kalian hanya akan berpikir dan mengakui kebenaran sebab kebenaran selalu menjadi titik balik yang baik. “Apakah kau bahagia dengan hidupmu?”, “Apakah hidupmu berjalan sesuai dengan yang kau impikan?”, “Jika tidak, dimana kau telah kehilangan arah?”, “Apakah kau sedang jatuh cinta?”, “Apakah kau memperlakukan orang yang kau sayang dengan baik?”. Pertanyaan-pertanyaan itu sederhana namun dapatkah kalian menjawabnya dengan jujur?

2. Ahli Sihir

Banyak dari kita yang tidak puas dengan hidup kita sendiri. Tekanan dari keluarga, masyarakat bahkan teman-teman tempat kita berinteraksi setiap hari, semakin bertambah. Lalu kita mulai membanding-bandingkan. Kita mulai melihat teman kita yang lebih kaya, lebih sukses, lebih bahagia, lebih hebat. Kemudian, tanpa sadar kita mulai mendengar mantra-mantra dari sekeliling kita, “Kau tidak cukup baik”, “Pengecut” atau “Kau menyedihkan”.

Kita tidak dilahirkan untuk merasa buruk tentang diri kita sendiri, kita telah diajarkan untuk merasa seperti itu. But you know, all we can do is break the spell. Patahkan mantra yang berbunyi kita tidak cukup baik. Instead, penuhi diri kita dengan harapan indah. Harapan bahwa kita bisa mulai dari awal lagi dan ada sejuta peluang di luar sana sedang menunggu kita.

3. Komidi Putar

Saat kalian berkunjung ke Wahana Bermain, wahana apa yang paling kalian ingat? Apakah wahana berbahaya dan menegangkan? Wahana yang membuatmu ketakutan hingga menangis? Wahana yang membuatmu berteriak-teriak sampai kehabisan napas? Ataukah wahana yang tenang tapi mampu membuatmu senang, seperti Komidi Putar?

Andai hidup kita bagaikan wahana bermain, wahana berbahaya itu anggaplah masa-masa sulit sedangkan wahana yang tenang adalah masa-masa indah. Namun beberapa dari kita hanya mengingat-ingat masa-masa sulit, seperti layaknya kita mengingat wahana yang membuat jantungmu berhenti. Saat menghadapi masalah, kita jarang mengingat saat-saat bahagia. Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa kita tidak membiarkan masa-masa yang indah memengaruhi hidup kita sama seperti masa-masa yang buruk?

4. Anjungan Ternak

Hidup terlalu pendek untuk dihabiskan dengan melewatkan hari-harinya dengan melakukan sesuatu yang sejujurnya tak berarti. Kita bukan anak sapi yang dibesarkan di anjungan ternak. Sapi-sapi hidup berkelompok. Mereka ketakutan setengah mati jika sendirian atau jika tak ada yang mengurusi. Para anak sapi kemudian mengikut kemanapun kelompok mereka pergi. Mereka melakukan apa yang diperintahkan atau apa yang dilakukan semua orang. Jangan sampai kita seperti anak sapi yang mengikuti kelompok agar tak berdiri sendirian. Jangan sampai kau hanya berusaha membuat orang lain terkesan, lantas menjadi alasanmu untuk misalnya, menerima suatu pekerjaan.

Tapi bukan berarti juga setelah kau membaca ini besoknya kau harus resign, bukan. Hanya saja, pertanyakanlah lagi: mengapa kau menerima pekerjaanmu sekarang? Apakah itu yang kau mau? Apakah kariermu adalah impianmu? Apakah saat bangun di pagi hari kau bisa mandi sambil bernyanyi di kamar mandi?

5. Perahu Bom Bom

Ada dua jenis orang yang bisa kita lihat saat menyaksikan adu Perahu Bom Bom; pertama, tipe pelaut dan kedua, tipe bukan pelaut. Tipe pelaut adalah orang yang begitu melompat ke perahu, mereka langsung menuju perairan bebas. Mereka yang punya impian dan langsung mengejarnya. Mereka tahu persis apa yang mereka inginkan dan cara meraih impiannya. Mereka tak peduli apa pun yang akan menabrak, mereka terus berteriak, “Minggir! Minggir!” Mereka menyuarakan apa yang mereka mau. Mereka begitu senang saat perahu mereka bertabrakan dengan perahu lain.

Tipe bukan pelaut adalah mereka yang begitu melompat ke perahu, mereka juga menuju ke perairan bebas. Hanya saja, begitu mereka menyadari begitu banyak perahu yang ada di kolam, mereka lalu berpikir, “Betapa sulitnya mencapai perairan tanpa menabrak satu perahu pun.” Lalu mereka pun hanya berputar-putar di kolam dan menabrakkan perahunya pada perahu yang menuju perairan bebas.

Mungkin ada saat-saat di mana kau menjadi pelaut dan menjadi bukan pelaut. Apapun itu, jangan sampai kau menyerah dan tidak melakukan apa yang kau inginkan sebab kau berasumsi bakal ada terlalu banyak gelombang yang menerpamu. Lakukan apapun dan berlayarlah ke lautan bebas!

6. Gelanggang Tengah

Beberapa diantara kita senang berada di Gelanggang Tengah, dikelilingi penonton yang memuja-muja kita. Seakan-akan dunia siap memberikan tepuk tangan yang paling meriah setelah kita menampilkan yang terbaik. Namun ada beberapa orang yang saat mereka berada disana, di pusat perhatian, mereka memanfaatkannya untuk membantu orang menembus kegelapan. Mereka membuat orang lain tersenyum.

Pernahkah kau bertanya, “apa yang telah kuberikan pada orang lain? Apakah kau sempat tersenyum pada orangtuamu dan membuat mereka merasa berharga” Pernahkah kau mengucap terimakasih pada sopir angkot yang mengantarmu ke tempat tujuan atau pada penjaga tangki bensin yang telah membuat kendaraan kita berfungsi? Kebanyakan kita terlalu fokus pada “apa yang akan kudapatkan esok?” instead of “apa yang bisa kuberikan hari ini?”

Sungguh, jika kau ingin agar pengalaman hidupmu cemerlang, pilihlah untuk berkontribusi.

***

Membaca buku Burchard mengingatkan saya pada buku-buku Mitch Albom. Jenis buku self-help yang diramu dengan drama yang amat baik, dengan percakapan yang rapi dan menggugah hati. Buku yang tidak begitu meluap-luap dengan misteri dan keajaiban dengan berbagai pesan hidup yang menggurui. Buku yang menawarkan pesan sederhana tentang keberanian untuk memaafkan diri sendiri dan mengkonfrontasi masa lalu, demi meraih kehidupan yang diinginkan. Buku yang saat kau selesai membaca bab demi bab, kau bisa menemukan sesuatu yang membuat kita berpikir ulang tentang hidup kita. Kalau kau suka dengan cerita fantasi dengan bumbu-bumbu misteri dan magis yang penuh makna, kau akan menyukai Life’s Golden Ticket.

Burchard kini mempersembahkan hidupnya untuk menolong orang, kelompok, dan organisasi untuk menciptakan serta menguasai cara mencapai perubahan. Dia menyumbangkan sebagian dari hasil penjualan buku ini kepada Kiwanis International, Junior Achievement dan YMCA. Tulisan-tulisannya termasuk The Millionaire Messenger (2011), The Charge: Activating the 10 Human Drives That Make You Feel Alive (2012) dan The Motivation Manifesto: 9 Declarations to Claim Your Personal Power (2014). Have a nice reading! []

life's_golden_ticket_reading_reviusJudul: Tiket Emas Kehidupan | Judul Asli: Life's Golden Ticket | Penulis: Brendon Burchard | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama| Tahun Terbit: 2008 (Indonesia)| Jumlah Halaman: 320| ISBN13: 978-979-223-853-2

Baca tulisan lainnya dari Riana Anwar

Hadiah Terindah adalah Hidup itu Sendiri

Mengenal Louis Zamperini

What’s Inside Your Head?

Belajar Tentang Hidup dari Pangeran Kecil

Menghargai Karya Seni Lewat Film