Oleh: Nurhady Sirimorok | Ilustrasi: Aisyah Azalya

Di pantai itu kami duduk menghadap utara. Tak ada perahu mengapung di depan kami, hanya pantulan cahaya siang menyiksa mata. Para nelayan tidak sedang melaut. Seorang dari mereka baru saja menarik sampan ke pantai, ia tak menenteng seekor pun ikan di tangannya yang basah oleh air laut. Ia langsung duduk menemani kami di bawah rindang pohon ketapang. Masjid mulai melantunkan suara.

“Nelayan di sini harus pergi jauh kalau mau cari ikan. Berjam-jam atau berhari-hari,” katanya. Wilayah tangkapan di sekitar pulau sudah habis, tambahnya. Sehari sebelumnya kami menempuh perjalanan sejam ke pulau itu, Kodingareng, menumpang perahu bemesin dari Kota Makassar.

“Dulu juku eja banyak sekali. Kita hanya perlu ke sana.” Nelayan yang duduk di samping kami menunjuk sebuah tonggak sekitar seratus meter dari garis pantai. “Orang di rumah bisa pesan ikan. Mereka tunggu di rumah, kami pergi sebentar naik sampan, lalu pulang dengan beberapa ekor juku eja untuk dimasak, atau dibakar.”

Juku eja, ikan merah, merupakan salah satu ikan kegemaran warga Makassar dan sekitarnya. Ikan yang memiliki nama latin Lutjanus capprchanus ini juga menjadi satu dari sedikit julukan bagi tim sepakbola Kota Makassar, Persatuan Sepakbola Makassar, PSM.

Pada dasawarsa 1950-an, tim sepakbola nasional Indonesia dianugerahi beberapa bakat cemerlang dari kota ini, dari PSM. Satu dari pemain hebat itu bernama Ramang. Pesepakbola ini pernah menjadi ikon, patungnya dibuat dan dipasang di alun-alun kota, namanya menjadi kosakata. Semua orang dewasa di Kota Makassar tahu frasa “toami Ramang” yang digunakan sebagai kelakar untuk mengatakan kepada kawan yang tak sanggup lagi melakukan apa yang dulu bisa mereka lakukan, tak lagi punya kualitas fisik yang dulu mereka punyai.

Seorang kawan, warga Jepang yang meneliti tentang PSM, pernah menantang saya dengan pertanyaan: “kenapa banyak pesepakbola berbakat muncul dari Makassar tahun-tahun itu?” Setelah beberapa jawaban ngawur dari saya, dia akhirnya membantu dengan jawaban dari hasil penelusurannya di arsip-arsip lama.

“Waktu itu ada banyak lapangan bola di Makasssar. Banyak sekali. Kota ini dulunya bisa disebut sebagai kota tangsi bagi tentara Kolonial, jadi ada banyak lapangan untuk beraneka macam latihan serdadu. Setelah Indonesia merdeka, anak-anak mulai bermain bola di sana. Pada dasawarsa 50-an ada sekitar lima puluh lapangan bola di Makassar.” Saya tercekat membayangkan betapa semua bakat yang mungkin terselip di kampung-kampung kota ini bisa muncul bermekaran sebab mereka tak susah mencari lapangan bola.

“Mungkin sejak pertengahan 1990-an, pukat harimau datang ke sini. Mereka tidak hanya mengambil ikan. Semua karang di dasar laut juga ikut terangkat jaring,” kata sang nelayan. Usianya mungkin akhir 50-an. Tubuhnya masih kekar, kulitnya tegas tersepuh matahari.

Sementara di daratan, Kota Makassar kian penuh ditumbuhi bangunan dalam kecepatan tinggi. Perumahan, perkantoran, mall berlomba menyesaki ruang-ruang kota. Dan yang paling fenomenal, kotak persegi panjang pertokoan. Dengan gencar jajaran kotak membosankan itu terus dibangun sampai mendominasi nyaris semua tepi jalan di Kota Makassar. Hingga akhirnya, setidaknya sejak awal 2000-an, bangunan-bangunan hasil dari selera yang buruk itu sudah mendefinisikan kota. Orang-orang mulai menyebut Makassar sebagai Kota Ruko.

Orang-orang yang bersorak di lapangan atau di depan radio maupun televisi, menyaksikan Kurniawan Dwi Yulianto dan kolega memenangkan pertandingan demi pertandingan, untuk akhirnya mengangkat tropi juara Liga Indonesia. Itu terakhir kali para penggemar PSM merasakan sensasi juara. Itu terjadi tahun 2000. Saya langsung teringat momen meriah itu ketika duduk mendengarkan sang nelayan Kodingareng mengeluh di hadapan laut yang kosong.

“Gara-gara pukat itu, sejak awal 2000-an tak ada lagi juku eja di sini.” Sejak itu pula perahu-perahu besar yang membawa pukat harimau lenyap dari perairan Kodingareng. Karang yang rusak telah mengusir Juku Eja dan koleganya.

Mungkinkah, perahu-perahu besar itu bukan hanya mengusir juku eja, tapi juga tropi-tropi liga dari markas PSM? Begitu pikiran saya berkeliaran.

Tapi nasib tim PSM tentu bisa saja lebih baik daripada Juku Eja Kodingareng. Berada di tengah kota, dicintai banyak penggemar setia, disorot media, disokong para pejabat, PSM masih mungkin bangkit lagi. Tapi, bagaimana dengan anak-anak berbakat dari Makassar, para calon penerus Ramang yang kehilangan ruang? Bagaimana pula dengan Juku Eja Kodingareng yang kehilangan karang?

Sayangnya, Juku Eja bukan PSM.