Beberapa tahun terakhir ini Mama susah tidur. Awalnya Mama pikir ini insomnia. Belakangan Mama sadar kalau Mama sudah tidak bisa terlalu banyak tidur karena tidur Mama sudah diwakili oleh anggota DPR ketika mereka sidang paripurna.

Nak, Mama sudah bosan melihat update-an teman-teman di jejaring social ketika lewat tengah malam. Pembicaraan hanya terbagi dua: galau tentang pasangan atau galau tentang tugas kantor. Mama juga sudah bosan menonton berita tengah malam. Isinya hampir beragam. Kalau bukan pembunuhan, ya pemerkosaan. kadang-kadang juga tentang teroris yang berhasil ditangkap. Mama mulai benci tak bisa tidur tepat pukul Sembilan malam seperti yang dianjurkan oleh Nenekmu.

Tapi syukurlah, malam hari tak selebar layar smartphone atau televisi. Mama bersyukur bisa bertemu teman-teman yang mengajak Mama ke Gedung Kesenian hari minggu tanggal 14 lalu. Di sana, Mama bisa melihat sesuatu yang lebih menarik pada malam hari daripada memandangi dua layar membosankan itu.

Kalau kamu sudah di dunia nanti, Mama janji akan mengajakmu menonton pertunjukan seperti ini. Sinetron dan film kartun belakangan ini sangat tidak baik untuk perkembangan anak-anak. Dengan menonton pertunjukan teater seperti yang Mama tonton waktu itu, kamu bisa mengerti mengapa banyak orang yang terbunuh karena politik.

Mama ingat jelas, ada empat orang yang beradu akting dengan tata panggung yang menawan. Keempat orang tersebut terlihat sangat antusias untuk mendapatkan kekuasaan. Mereka jatuh bangun berkali-kali sebelum akhirnya berusaha meyakinkan orang tentang arti hati nurani dan dibunuh oleh teman sesama pencari kursi kekuasaan.

Mama sebenarnya ingin berterimakasih secara langsung kepada orang-orang yang membuat pertunjukan tersebut. Tapi asal kamu tahu saja nak, orang-orang yang membuat pertunjukan ini, mereka tergabung dalam sebuah kelompok yang mereka sebut Kala Teater dan membuat siapapun yang ingin bertemu dengan mereka harus rela berkeringat dingin terlebih dahulu.

Ada dua orang yang wajahnya sering muncul dimana-mana. Ialah Shinta Febriany dan Aslan Abidin. Mereka adalah dua orang yang menulis puisi kemudian menjadikannya sebagai teks pertunjukan teater “Sepuluh adegan dari Politik yang membunuh”. Tak bisa dipungkiri, kedua orang ini menyumbang banyak terhadap selera seni masyarakat Makassar.

Mama rasa, Shinta Febriany itu orang baik. Di akhir tulisannya tentang pertunjukan teater itu, ia menyarankan Mama untuk menjaga jiwa Mama baik-baik. Karena mamamu ini tergolong orang yang penakut, maka Mama memilih untuk tidak menyampaikan rasa terimakasih secara langsung melainkan melalui tulisan ini.

Semoga di masamu hidup nanti, akan tetap ada pertunjukan seni yang membuatmu merasa bersyukur tidak bisa tidur lebih awal di malam hari.

salam sayang,
Mama.


P.S. Mama punya oleh-oleh buat kamu berupa foto-foto hasil jepretan Sofyan Syamsul atau Pepeng. Dia baik sekali mau mengijinkan Mama untuk menunjukkan foto-fotonya padamu. Kamu harus berterima kasih padanya nanti.

Sepuluh Adegan dari Politik yang Membunuh (3) Sepuluh Adegan dari Politik yang Membunuh (4) Sepuluh Adegan dari Politik yang Membunuh (5) Sepuluh Adegan dari Politik yang Membunuh (6)Sepuluh Adegan dari Politik yang Membunuh (9) Sepuluh Adegan dari Politik yang Membunuh (10)Sepuluh Adegan dari Politik yang Membunuh (8)Sepuluh Adegan dari Politik yang Membunuh (2)