Teks: Damar Tri A | Foto: Armin Hari

Representasi tentang kota, adalah gugatan-gugatan: upaya simbolik melalui kesenian atau peristiwa kebudayaan. Kelompok Kala Teater Makassar menjadi bagian dari representasi-representasi terhadap makna dan posisi kota.

Melalui riset dan pendekatan dokumenter, teater dengan judul Beri Aku Pantai Yang Dulu, Jangan Mati Sebelum Dia Tiba, dan Gila Orang Gila arahan Shinta Febriany membaca kehadiran kota dalam konteks yang telah terintervensi berbagai kepentingan. Tubuh dan puisi, dua kendaraan untuk melintasi ‘kota’ dan problematisasinya.

Pertunjukan yang menerapkan tiga segmen (meruang di tiga titik tempat), menarasikan kota dengan isu-isu mendasar yang partikular. Diangkat berdasarkan kegelisahan dan kegentingan kota yang semakin diselimuti hiruk-pikuk kapitalis ekonom dan perwajahan kota secara sepihak.

Panggung dibagi menjadi tiga area—memanfaatkan dua lorong dan panggung terbuka Gedung Kesenian Societeit De Harmonie Makassar—menyiratkan bahwa narasi cerita terdiri tiga fragmen (fragmen = memudahkan istilah pembagian).

Fragmen awal, dibuka dengan rangkain tali-tali menggantung yang diikat seolah menyediakan peristiwa bunuh diri. Aktor-aktor (terdiri dari lima orang) menyiapkan tubuh-tubuh mereka dalam sebuah kesakitan-kesakitan. Dengan ruang yang terhimpit, aktor-aktor menarasikan melalui ketubuhan yang telah dieksplorasi dan puisi-puisi yang telah diindetifikasi sesuai dengan gugatan akan “kota”. Tubuh aktor bergerak, meruang, dan sesekali umpatan metaforik dengan mengalir sesuai dengan kesakitan masing-masing aktor.

Fragmen kedua, penonton digiring ke sisi lorong untuk menuju komplikasi cerita. Puluhan pakaian yang tak beraturan menjadi bahan untuk melontarkan aksi-aksi tokoh. Disharmoni semakin jelas, situasi chaos perlahan menjalar dalam beberapa adegan. Pakaian-pakaian diberi kesempatan untuk hidup oleh aktor, dikenakan sampai penuh, dihempaskan hingga tak tersisa.

Ketubuhan dan puisi masih menjadi soundtack dalam fragmen kedua. Seperti mozaik kehidupan urban dan mengemukakan paradoks di sisi kota. Gila dan waras, kaya-miskin, berteriak-diam, cinta-benci, damai-anarkis seperti tak lagi terdefiniskan tepat di antara keduanya. Semakin menuju keterputusan antara realitas dan harapan atau meminjam istilah estetika postmodern yaitu schizoprenia.

Fragmen ketiga yang menggunakan teater terbuka dari gedung pertunjukan, seolah menguraikan permasalahan-permasalahan. Kain putih tersorot gambar senja di tepi pantai disambung dengan video-video dokumenter reklamasi pantai Losari, menjadi penerang gugatan-gugatan pada fragmen sebelumnya. Aktor tetap setia dengan eksplorasi ketubuhan dan puisi di depan layar. Fragmen ini menawarkan dua fokus perhatian pada koreo-koreo aktor dan dokumenter observasional dangan voice over cuplikan waawancara terkait reklamasi.

Ruang Ekokritisme

Kota yang menjadi gagasan Teater Kala tentu adalah ‘teks’ yang kemudian terus berkembang sebagaimana kota itu sendiri yang tak pernah senyap. Reklamasi adalah aksentuasi klimaks dari pembacan kota dan pada akhirnya didudukkan sebagai paradoks. Reklamasi pantai Losari tentu tidak luput dari paradoks yang terjadi di masyarakat antara perwajahan kota semakin indah atau hilangnya sunset serta biota laut di sekitar pantai.

Dari ‘teks-teks’ tersebut, Teater Kala melempar gagasan secara emosional melalui aktor-aktor lewat pendekatan teater dokumenter. Dari perspektif tersebut, tidak berlebihan jika Kala Teater sedang menciptakan ruang ekokritisme. Ekokritisme seturut pengertian dari Carmen L. Flys (2010: 114), sebuah paham atau gerakan sebagai sebuah bagian yang integral dengan humaniora lingkungan.

Kala Teater membukakan ruang-ruang perenungan dan posisi kita terhadap lingkungan kota. Melalui teater dokumenter, ada gugatan dari berbagai pihak dan juga menghadirkan sebuah kenyamanan terhadap perwajahan kota akan reklamasi di Pantai Losari. Dari situ dapat dilihat sementara, ekokritisme yang diusung Kala Teater bertujuan menghilangkan dikotomi antara alam dan manusia.

Namun, dari hampir keseluruhan pertunjukan, ada bobot yang kurang berimbang ketika mengusung teater dokumenter. Aktor memerankan pada pihak-pihak yang resisten terhadap upaya reklamasi melalui kesakitan dan kegilaan, sedangkan di sana juga terselip pihak yang menikmati dan sangat antusias dengan peristiwa reklamasi tersebut.

Apakah pertunjukan dokumenter harus bersifat netral atau ideologis?

Tubuh Puisi

Hampir semua peristiwa dan adegan menggunakan kendaraan tubuh dan puisi dalam menyampaikan narasi tentang kota. Puluhan tubuh mempersepsi kompleksitas dalam tema pertunjukkan ini. Tubuh kesakitan, tubuh pesimistis, tubuh penyerahan, tubuh menggugat, hingga merasakan tubuh setelah kematian.

Tubuh-tubuh aktor juga dihiasi dengan berbagai macam narasi puitik namun seolah menggugat. Tumpang tindih antara gerak tubuh aktor dan dialog puitik “menggugat” dipadu sedemikian rupa, meskipun secara sengaja menghindari keterpaduan antara naratif dan koreo tubuh.

Tubuh dan puisi tentu adalah dua terma yang menyatu dalam satu keutuhan organisme manusia. Tubuh seolah menjadi wadah bagi teks-teks tentang kota dan kompleksitasnya. Aktor terasa masih belum memilah-milah tubuh mana secara personal dan tubuh yang mempersepsikan tentang kota. Ini sangat riskan ketika tubuh hanya menjadi ‘soundtrack’ puisi-puisi atau dialog dari aktor.

Tubuh haruslah terisi secara empiris tentang persoalan kota, seturut mempersepsikan gejolak-gejolak kota, sehingga tidak hanya bergerak di panggung namun mampu menyeret persoalan kota dan ekologis dalam sebuah ruang (panggung).

Tubuh tentu peristiwa itu sendiri karena tubuh juga merupakan gagasan. Tubuh berperan sentral dalam eksisitensi individu menjadi simbol yang bersifat publik untuk menggali kemampuan memahami, mengetahui, dan mempersepsikan suatu objek, ruang, dan waktunya.

Tubuh yang mempublik sangat terasa dalam aktor-aktor Kala Teater, tentu ini hasil dari riset yang telah diinfornasikan sebelumnya (pada booklet dan video di luar panggung). Persoalannya adalah sejauh mana kesadaran aktor dalam ‘mengisi’ tubuhnya dengan persoalan kota, urban, dan ekologi. Tentu ini butuh proses yang memakan waktu lama, bagaimana tubuh-tubuh tidak hanya entitas yang terintimidasi oleh persoalan, namun sebagai cara membaca persoalan.

Dalam pertunjukkan Kala Teater, pertanyaan bukan lagi: menubuhkan puisi ataukah mempuisikan tubuh? Tetapi melalui tubuh, beragam persoalan mampu terbaca. Tubuh yang bersifat publik, dan tubuh yang mempersepsikan konteks-konteks di sekelilingnya. Tubuh tersirat aktualisasi personal yang bertranformasi menjadi komunal dalam ruang pentas.

*

Rujukan :

Flys, Carmen L. 2010. “The State of Ecocriticism in Europe: panel discussion” dalam Journal Ecozon@ Vol.1 No. 1, hal. 114

Marshall, Lorna & Yoshi Oida 1997. The Inviseble Actor. Routledge: United Kingdom.

  1. Widaryanto. 2015. Ekokritikisme Sardono W. Kusumo: Gagasan, Proses Kreatif, Dan Teks-Teks Ciptaannya. Desertasi: Institut Seni Indonesia Surakarta