Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Tak banyak peserta bertepuk tangan ketika Luna Vidya menyebut nama Kamila Andini sebagai salah satu pembicara di International Symposium on Regional Cinema yang digelar di Gedung Phinisi awal bulan ini. Tak sebanyak tepukan tangan yang Riri Riza terima, tentu saja. Tapi begitu Luna Vidya menyebut bahwa Kamila Andini adalah putri Garin Nugroho, tepuk tangan yang ia dapat sedikit lebih meriah. Ya, Kamila Andini, sutradara perempuan tanah air yang walau sudah pernah mendapat tepuk tangan meriah di Toronto International Film Festival 2015 karena film pendek Sendiri Diana Sendiri-nya menuai banyak pujian, dia masih tetap bergelut dengan kenyataan bahwa nama ayahnya mendahului bakatnya.

Ketika terpilih menjadi mentor untuk yang kedua kalinya di SEAscreen Academy yang selalu mengedepankan tema lokalitas, Kamila tidak hanya aware akan popularitas ayahnya, ia juga aware dengan kota dari mana ia berasal ketika menginjakkan kakinya lagi ke Makassar. “Saya terlahir di Jakarta, kota yang dianggap pusat industri perfilman Indonesia, jadi begitu saya terjun di dunia penyutradaraan, saya sudah punya pakem yang harus saya patuhi dan saya tidak bisa keluar dari situ. Beruntunglah orang-orang yang bisa membuat film di daerahnya sendiri, karena mereka bisa membuat film dengan tema apa saja, tanpa batas, tanpa ada pakem yang mengikat”, ungkapnya ketika ditanya oleh Benny Wahyu atas kesannya bergabung kembali sebagai mentor di SEAscreen.

Sendiri Diana Sendiri menjadi film pertama yang mengenalkan saya dengan kemampuan penyutradaraan Kamila Andini, sebuah potret nyata poligami di Indonesia. Menarik sekali bahwa melalui Diana, Kamila memberi protes, memberi pernyataan bahwa semua orang punya pilihan, termasuk perempuan, bahkan ketika mereka terikat dengan tradisi patriarki. Kekuatan Sendiri Diana Sendiri, lalu statusnya sebagai sutradara perempuan di negara yang didominasi sutradara laki-laki, serta terlahir sebagai putri dari salah satu sutradara terpenting yang Indonesia miliki, membawa saya untuk mengobrol lebih dekat dengan Kamila Andini.

Percakapan mengenai kesetaraan gender, feminisme, kini sedang ramai juga di Indonesia. Walau belum sampai ke ranah perfilman, apakah Kamila merasa bahwa ada kesenjangan antara sutradara perempuan dengan sutradara laki-laki yang lebih banyak dikenal di Indonesia?

Buat saya tidak. Berbicara mengenai filmmaker, sama saja antara laki-laki dengan perempuan. Indonesia bahkan selalu terbuka untuk sutradara perempuan, utamanya yang masih baru. Bahkan jika dilihat dari sejarahnya, ketika perfilman Indonesia bisa dibilang mati suri, muncullah Kuldesak, orang-orang bisa menonton film Indonesia lagi di bioskop berkat film ini. Dan salah satu pioneer Kuldesak adalah perempuan, ada Mira Lesmana dan Nan T. Achnas sebagai sutradaranya. Lalu di era 80′-an ketika perfilman Indonesia bisa dibilang cuma punya dua nama di pasar Internasional, ada Garin Nugroho dan Christine Hakim, berarti ada perempuan juga di situ. Perempuan selalu hidup di perfilman Indonesia, selalu punya ruang yang besar bagi perempuan, Dan itu harus kita lihat sebagai hal yang positif.

Namun secara kuantitas saat ini?

Secara kuantitas mungkin tidak lebih banyak dari laki-laki, tapi bukan berarti secara profesi kita mengalami keterbedaan. Ini dipengaruhi banyak faktor, bukan cuma di industri film, di berbagai profesi lainnya, laki-laki memang selalu lebih banyak ketimbang perempuan. Tapi buat saya dalam profesi filmmaker, tak ada yang membedakan. Yang lebih menarik perhatian saya adalah bagaimana menggambarkan sosok perempuan dalam film, itu selalu menjadi tema yang saya senangi.

Mirror Never Lies, kemudian Sendiri Diana Sendiri, Kamila selalu menggunakan sosok perempuan sebagai karakter utama di film-filmnya, apakah karena Kamila juga adalah perempuan?

Karakter perempuan dalam sebuah film dari dulu selalu jadi karakter yang menarik. Dalam film, ada istilah male gaze, yang menggambarkan perempuan sebagai objek pandang laki-laki. Itu yang memotivasi saya ingin juga membuat karakter perempuan dari sudut pandang perempuan. Dan usaha itu tidak mudah, apalagi ketika karakternya adalah perempuan timur, seperti dalam Diana Sendiri Diana. Tidak mudah memasukkan perempuan timur dalam sebuah film di mana male gaze menjadi hal yang sudah lumrah, tapi usaha untuk melihat perempuan dari sudut padangan perempuan juga haruslah dilumrahkan. Dan sebenarnya terbukti, Sendiri Diana Sendiri menjadi lebih relate dengan penonton-penonton perempuan di Indonesia. Penting untuk mengeksplor peremuan dari sudut pandang perempuan juga.

Ketika perempuan menjadi karakter utama dalam film yang di-direct sutradara laki-laki, adakah semacam ketidakpuasan?

Bukan tidak puas, saya sebenarnya sangat menghargai. Itu juga ibarat saya sedang bercermin, bagaimana kalau saya dilihat dari sudut pandang yang lain. Jadi bagi saya tidak ada masalah, interpretasi selalu terbuka dalam sebuah karya. Lagipula semakin ke sini semakin banyak sutradara laki-laki yang feminin, sensitif, keberadaan mereka memperlihatkan sosok perempuan melalui sudut pandang yang berbeda. Tapi saya yakin bahwa suara saya juga memberikan warna yang baru, memberikan hal-hal yang lebih detail mengenai sosok perempuan. In film, it’s all about changing perspective.

Dikenal sebagai sosok putri dari Garin Nugroho, tantangan atau keuntungan?

Ini satu hal yang sudah saya sadari sejak awal memutuskan menjadi sutarada, dan saya memilih untuk menggunakannya sebagai motivasi, bahwa saya harus bekerja lebih awal daripada filmmaker yang lain. Itu sebabnya di umur 21 saya sudah ingin membuat film panjang, karena saya paham saya butuh 5 atau 10 film panjang untuk membuat orang-orang melihat saya sebagai saya, bukan sebagai putri Garin Nugroho. Berbeda dengan Aditya Ahmad misalnya, yang bikin satu film pendek saja orang-orang sudah bisa langsung melihat Aditya sebagai Aditya, saya tidak bisa seperti itu. Tapi sekali lagi itu bukan masalah, itu resiko yang sudah saya sejak terjun di dunia film, toh saya juga tidak bisa memilih orang tua yang melahirkan saya (tertawa). Ini adalah tantangan, dalam artian saya harus lebih konsisten, karena cuma waktu yang akan membuktikan itu.

Kamila Andini saat berbincang di Media Gathering SEAscreen Academy 2016 pada 5 Maret 2016. Ia menjadi mentor untuk yang kedua kalinya di SEAscreen Academy.

Kamila Andini saat berbincang di Media Meeting and Reception SEAscreen Academy 2016. Ia menjadi mentor untuk yang kedua kalinya di SEAscreen Academy.

Sendiri Diana Sendiri merupakan film pendek yang mendapat kritikan sangat baik di Toronto, tapi sampai sekarang di tanah air, Kamila masih tetap saja lebih dikenal sebagai sutradara Mirror Never Lies. Bagaimana tanggapan dengan hal tersebut?

Saya tidak punya ekspektasi apa-apa ketika membuat Mirror Never Lies, tapi begitu filmnya rilis dan ternyata mendapat sambutan yang sangat bagus, rasanya betul-betul anugerah. Mirror Never Lies adalah film panjang pertama saya sampai sekarang, dan jarak pembuatan Mirror Never Lies dengan Sendiri Diana Sendiri memang sangat jauh, jadi wajar saja jika sampai sekarang orang-orang masih mengenal saya lewat Mirror Never Lies. Tapi ini juga menjadi motivasi buat saya, berarti saya harus cepat-cepat membuat film panjang yang lain (tertawa).

Terlahir sebagai anak sutradara, pernahkah bercita-cita menjadi aktris? Lalu, sutradara yang menginspirasi dalam membuat film?

Tidak pernah (tertawa), saya selalu gugup jika di depan kamera. Sutradara yang menginspirasi? Wah, banyak sekali; Yasmin Ahmad, Samira Makhmalbaf, Kim Ki-duk, Chang Dong-lee. Saya memang penyuka film Asia, middle east.

Dalam proses pembuatan film, terutama di Indonesia di mana film indie adalah hal yang sangat sulit, kekhawatiran apa yang biasanya muncul begitu filmnya telah selesai dibuat?

Selalu ada kekhawatiran. Film ini mau diapakan? Mau dikemanakan? Tapi justru karena adanya pertanyaan-pertanyaan seperti ini saya harus mencari jawabannya. Nah, disitulah manfaat jaringan, orang-orang yang kita kenal dalam lingkungan perfilman, mereka selalu bisa menjadi tempat kita bertanya ketika kita sedang kesulitan. Itu sebabnya menjalin banyak jaringan dalam lingkup film juga merupakan hal yang penting. Buat saya, kesulitan merupakan hal yang dibutuhkan, sejak awal membuat film kita harus khawatir, karena dari situ saya bisa mencari banyak sudut pandang untuk melihat dan memecahkannya.

Saya dengar Kamila sedang dalam proses pembuatan film panjang kedua. Bisa diceritakan sedikit? Termasuk bocoran perilisannya.

Ya, saya baru selesai syuting film panjang. Saat ini sedang dalam proses editing. Film ini agak sedikit berbeda dari Sendiri Diana Sendiri dan Mirror Never Lies, tapi punya beberapa kemiripan juga. Ini merupakan proyek yang sudah sangat lama, idenya sudah ada ketika Mirror Never Lies rampung. Judulnya The Seen and Unseen, mengisahkan saudara kembar, laki-laki dan perempuan, yang hidup di desa kecil di Bali. Suatu hari si laki-laki sakit, nah, sakitnya ini kemudian menciptakan banyak imajinasi di sekeliling mereka. Saya berharap bisa rilis di akhir tahun ini atau awal tahun depan, karena budget film ini murni dari international dan crowd funding jadi kami masih dalam masa pencarian dana untuk menyelesaikannya.

Kamila Andini juga memberi kesempatan bagi siapa saja yang tertarik untuk menjadi co-producer di film terbarunya ini. Kamu bisa cari tahu caranya dengan mengunjungi akun resmi filmnya, @theseenandunseen.


Baca artikel lainnya dari Kemal Putra

SEAscreen Academy 2016: Persiapan Sebuah Feature Film Melawan Mainstream

Hukuman dan Perubahan di Penghujung Musim

The Layar Tancap: Satu Lagi Bioskop Alternatif di Makassar

Surat Cinta dari Joko Anwar

5 Film Paling Dinanti yang Bakal Gagal Kamu Saksikan di Bioskop Tahun 2016