Oleh: Louie Buana* ( @hey_louie )

Saya ingin mengajak pembaca sekalian untuk sejenak  berimajinasi. Berimajinasi tentang sebuah tempat yang jaraknya sungguh jauh namun sebagai seorang Indonesia, begitu dekat di hati.

Coba bayangkan sebuah tempat di dunia ini, di mana sekumpulan naskah kuno yang ditulis oleh leluhur bangsa kita dari beragam suku bangsa yang ada di tanah air terkumpul dan terawat dengan baik. Tidak ada yang tersobek-sobek atau termakan kutu, tidak ada yang diletakkan mengenaskan sebagai pengganjal pintu. Ada bermacam jenis babad Jawa,bergulung-gulung kakawin lontar dari Bali, berlembar-lembar pustaka Batak serta berjilid-jilid kitab tebal bertuliskan Arab Melayu. Di tempat ini, beragam perkakas logam seperti keris, tombak, dan pedang yang berasal dari zaman kerajaan terpajang rapi. Perhiasan-perhiasan emas yang berkilauan ditimpa cahaya neon memamerkan masa-masa kejayaan yang kita pelajari di buku-buku sejarah. Di tempat ini pula arca-arca batu maupun prasasti-prasasti yang usianya sudah ratusan tahun masih berdiri tegak dengan pahatan-pahatan aksaranya yang masih terbaca dengan jelas.

Di tempat ini, baiklah mulai sekarang kita sebut saja sebagai “kota kecil”, mengalir sebuah sungai yang kemudian airnya dipecah-pecah oleh teknologi menjadi kanal-kanal cantik. Di tepi kanal-kanal tersebut, jalan-jalan berbatu terbentang memanjang dari utara ke selatan, dari barat ke timur.

In one foggy morning, René took us to see the commencement of Leidens Ontzet at van de Werf park. Then we continued our journey to Lakenhal Museum and watched the parade!

Pagi yang berkabut di kanal-kanal cantik “kota kecil” ini.

Dulu bapak-bapak bangsa kita berjalan di atas jalan-jalan tersebut seraya menenteng buku catatan menuju ke sebuah gedung universitas tua untuk menuntut ilmu. Kala siang hari, ketika waktu makan tiba, mereka duduk-duduk di tepi kanal –atau kadang-kadang jika uangnya cukup mereka akan memilih untuk masuk ke salah satu cafe di pinggiran kanal- seraya menyantap bekal.

Apalah kami ini yang hanya Anak Kanal. Mejeng di depan rumahnya Snouck Hurgronje. Anak Kanal Rapenburg banyak gaya tapi berisi lah ya, hihi ~

Apalah kami ini yang hanya Anak Kanal. Mejeng di depan rumahnya Snouck Hurgronje.

Di salah satu rumah bertingkat tiga dengan jendela-jendela yang memanjang yang letaknya di ujung kanal, Achmad Subarjo muda sering memanggil rekan-rekan sebangsanya untuk berdiskusi mengenai bentuk negara, sistem pemerintahan, kekuatan rakyat, sikap anti-kolonialisme, hak asasi manusia serta arti penting kebebasan menjadi diri sendiri. Rumah itu pun menjadi ramai oleh mahasiswa, penuh dengan gejolak dan semangat perjuangan.Tak hanya Achmad Subarjo. Sultan Hamengku Buwono IX, Sjahrir, Ali Sastroamidjojo, Hussein Djayadiningrat, A.A. Maramis, Mas Besar Mertokoesoemo, dan Raden Mas Sasrokartono (kakanda Raden Ajeng Kartini) pun pernah beguru dari nama-nama besar di kota kecil ini.

Kota kecil ini amat bersahaja. Tak hanya karena dogma-dogma ilmu baru dari Barat, namun juga oleh filosofi-filosofi lama milik Timur.Ramalan Ronggowarsito dari kraton Surakarta akan tibanya “Zaman Edan” terpatri di salah satu tembok pada kawasan perumahan sebelah timur. Ditulis dalam aksara Hanacara nan meliuk-liuk indah, setiap hari penghuni kota ini lalu-lalang mengayuh sepeda di hadapan baris-baris petuah sang pujangga.

Lalu, cukup jauh di bagian kota sebelah selatan, letaknya tepat di depan sebuah sekolah menengah pertama yang dikepung oleh deretan pemukiman penduduk, terpahat untaian larik-larik tajam “Aku” milik Chairil Anwar. Masterpiece karya sastrawan kebanggaan Indonesia yang mati muda itu mungkin sengaja diletakkan di sana untuk menggugah jiwa generasi muda agar tak kering oleh kata dan makna.

aku

Puisi Chairil Anwar di sebuah tembok kota Leiden. (foto: Serampai Kata )

Terakhir, sebuah elong Bugis yang ditulis dengan aksara lontaraq terukir indah di pinggir kanal tepat di jantung universitas tua kota kecil ini. Duhai, bangganya engkau jika mengerti bacaan dan makna petuah nenek moyang kita yang terkandung di dalamnya. Polena pelele winruq tenreq kutuju mata padana sulisa. Sungguh di dunia tak ada keindahan yang mataku pernah temukan setara dengan indahnya kebijaksanaan yang tersimpan di tempat ini. Inilah pepatah bagi para pelaut muda yang kehausan di tengah pelayaran mengarungi samudera keilmuan, hingga akhirnya mereka terdampar di pulau tempat intelektual-intelektual mancanegara berkumpul. Di sinilah tempat Barat bertemu Timur.

Tulisan aksara lontaraq di depan gedung KITLV Leiden.

Tulisan aksara lontaraq di depan gedung KITLV Leiden.

Beraneka-rupa manusia dari berbagai penjuru dunia datang ke kota kecil ini untuk belajar Bahasa Indonesia maupun Bahasa Melayu dan Jawa Kuno. Mereka sungguh-sungguh dalam belajar mengeja dan menulis, ingin tahu banyak hal mengenai kearifan lama serta perkembangan baru di tanah air. Tak hanya untuk belajar, di sini tinggal dan mengajar pula cendekiawan-cendekiawan besar yang menulis tentang hukum adat, Islam Nusantara, astronomi tradisional, hingga fenomena-fenomena terbaru seperti musik dangdut dan gejala hijabers.Tak ada lagi sekat di dunia akademisi. Kewarganegaraan memudar ketika mereka yang berbeda-beda ras mendadak berdiskusi di satu meja dengan bahasa ilmu yang sama.

3 Oktober parade and the festivity that we had.

3 Oktober parade and the festivity that we had.

Inilah dia kota kecil yang dijuluki Kampung Melayu. Setiap tahunnya berpuluh-puluh pelajar maupun pekerja dari tanah air datang ke sini untuk menuntut ilmu dan mengadu rejeki. Mereka menjadi penerus Achmad Subarjo dan kawan-kawannya untuk membangun bangsa. Leiden, itulah nama Kampung Melayu tersebut. Dua kunci saling bersilangan yang menjadi simbol Santo Petrus, salah satu hawari Isa Almasih yang dipercaya untuk memegang kunci surga dalam tradisi Katolik Roma, menjadi lambang kota dengan mayoritas penduduk Belanda beragama Protestan. Begitu damai kota kecil dengan tingkat kebhinnekaannya yang tinggi ini. Tak malu ia menjadi penjaga tradisi tulis yang bahkan mungkin telah lama lapuk di negeri asalnya.Dari Leiden berkibar bendera merah-putih yang sama seperti di tanah air. []

*Penulis adalah alumni Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada yang sedang melanjutkan studinya di Universiteit Leiden. Pernah mengikuti pertukaran pelajar ke negeri Paman Sam selama setahun di bawah program Youth Exchange & Study (YES). Lulusan SMA Negeri 5 Makassar ini memiliki hobi jalan-jalan, membaca buku dan karaoke.

Artikel lainnya terkait dengan Louie Buana

Louie Buana: “Do It First, Do It Fast, Do It Your Way”

The Most Memorable Events