Ada beberapa hal penting dan memorable yang terjadi dalam hidup saya setahun ini. Saya berhasil menanggalkan status mahasiswa pada 2015, tepatnya terpaksa sarjana karena pilihan lainnya hanya DO. Selain itu, satu dari moment penting tersebut adalah menjadi bagian dari Revius. Setelah menyisihkan tulisan saya di rubrik Reading, maka tersisa 17 dari 24 yang saya seleksi menjadi lima terbaik. Tidak ada kriteria baku yang saya gunakan dalam memilihnya, makanya tidak akan ada ranking apalagi poin penilaian. Jika kamu belum membaca buku-buku yang direkomendasikan di daftar tulisan ini, belum terlambat memasukkannya dalam daftar bacaanmu pada tahun mendatang.

1. Jean ‘Scout’ Louise dan Feminisme

IMG_1277

Go Set A Watchman adalah salah satu buku terbaik yang terbit pada September tahun ini. Buku ini karya Nelle Harper Lee yang ceritanya berpusat pada Jean Louise, putri Atticus Finch, yang merupakan protagonis dalam buku Lee yang terbit 55 tahun sebelumnya, To Kill a Mockingbird.

Review ini ditulis oleh Yulaika Ramadhani dengan cara mengulas yang sebenarnya is not Revius style. Tapi saya menyukainya! Ulasannya fokus pada feminisme yang merupakan tema utama novel ini dan juga melengkapinya dengan To Kill a Mockingbird–Alasan utama mengapa saya memilih buku ini buku yang disebut Classic Book of A Modern American Literature dan membuat nama Harper Lee memenangkan Pulitzer.

2. Seperti Memindahkan Pabrik Popcorn ke Dalam Kepala

kamu taksi

Karena sebuah ‘musibah’ beberapa bulan lalu, saya sempat berhenti membaca. Kadang bacaan saya menjadi trigger yang membuat saya keseringan diam dan mengurung diri di dalam kamar lebih lama. Akbar Zakaria, sang teman curhat yang baik hati dan Editor in Chief Revius pada saat itu, menyarankan saya membaca jenis buku yang berbeda dengan yang biasa saya baca. Saya percaya Akbar menyarankan demikian agar saya kembali membaca dan menunaikan tugas saya menulis review buku.

Belakangan saya tidak lagi selektif dalam membaca buku karena tidak ada lagi tuntutan tugas kuliah atau bahan untuk tugas akhir. Akhirnya saya meminta rekomendasi bacaan kepada seorang teman dan pilihannya jatuh kepada buku imut bersampul biru yang sebelumnya digilir-baca oleh beberapa teman Pustakawan katakerja.

Buku tersebut adalah Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya karya Sabda Armandio. Pada bulan April, buku tersebut telah di-review oleh Ashari Ramadana T, yang membuat saya harus memilih buku lain untuk diulas. Untuk mengetahui kenapa buku ini menjadi “tukang baikin mood” saya pada saat itu, silakan baca review-nya. Apa yang ditulis Ashari menghimpun sebagian dari hal yang menjadikan Kamu berkesan bagi saya.

Teruntuk Dio, meskipun saya tidak menuliskan review bukumu ini untuk Revius, saya tetap merekomendasikannya kepada beberapa teman dan pengunjung Perpustakaan katakerja. Jika dirimu menginginkan saya mengulasnya, akan saya lakukan dengan senang hati. Buat kamu yang juga suka tulisan Dio, sambil menunggu novel kedua yang dengar-dengar akan terbit di 2016, coba mampir di https://agrariafolks.wordpress.com, mungkin kita bisa bertemu di sana.

3. Kuntilanak Jatuh Cinta (Dan Cerita-cerita Lainnya)

ilustrasi: Herman Pawellangi (@chimankorus)

ilustrasi: Herman Pawellangi (@chimankorus)

Tulisan ini adalah ulasan Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri karya Bernard Batubara oleh Novidia, Chairiza, dan Barzak. Jujur, saya belum membaca buku ini. Tapi dengan membaca review-nya saya yakin saya akan menyukainya. Saya merasa merugi karena belum membacanya apalagi katanya Perpustakaan katakerja punya koleksi buku ini. Saya yang kurang jeli sepertinya. Atau mungkin warna ungu tidak lagi menarik perhatian saya.

Novidia menuliskan, “Konflik dan jalan ceritanya dilatar belakangi oleh hal-hal yang biasa kita temui di keseharian”. Keywords-nya adalah “hal biasa”. Belakangan saya selalu senang ketika membaca hal sederhana. Penyebabnya adalah seorang sahabat, pembaca dan juragan Bokboksob Book yang menghadiahkan buku berisi beberapa cerpen Guy de Maupassant. Hal lain yang membuat saya akan membaca buku ini adalah satu dari tiga hal yang ditemukan Barzak, karakter-karakter yang misterius. Secara naluriah, hal yang misterius selalu menimbulkan rasa penasaran. Seperti yang saya rasakan saat ini pada seorang misterius. Duh curhat.

Satu lagi yang menyebabkan buku ini masuk dalam list bacaan saya pada 2016 adalah judulnya. Sepertinya saya harus segera mencari buku ini di semua rak untuk merefleksi dan menimbang apakah saya sudah siap bunuh diri atau belum.

4. Sejumlah Kumpulan Cerpen Indonesia yang Saya Baca Dua Kali Atau Lebih

Kumpulan Cerpen-Revius

Tulisan ini bukanlah review buku yang lazim di Revius. Yah, sebut saja dia yang menulisnya adalah seorang pembaca handal sehingga ulasan ini menjadi begitu kaya. Jika biasanya review hanya untuk satu buku, di tulisan ini Aan Mansyur merekomendasikan 10 buku kumpulan cerpen Indonesia kesukaannya. Jangan kira dia hanya menyebutkan 10 judul saja, di akhir tulisan dia menambahkan rekomendasi 11 buku lainnya.

Dari 21 list dalam tulisan tersebut, saya hanya membaca sebagian kecil. Dan sebaiknya beberapa dari yang sedikit itu harus saya baca ulang karena dulu saya membacanya saat menjadi siswa SMP.

5. Menjadi Kekinian di Novel Akhir Abad 19

Processed with VSCOcam

Hanya ada dua alasan kenapa saya memilih tulisan ini. Pertama, buku yang direview adalah Malaikat Lereng Tidar karya Remy Sylado. Kedua, pengulasnya adalah Jumardan Muhammad, seorang teman yang menjadi golongan pertama yang kepadanya saya pamerkan karya Remy Sylado yang sedang saya baca atau baru saya koleksi. Yep, saya dan Jumardan adalah penggemar Remy Sylado.

***

Karena ini edisi highlight akhir tahun maka saya rasa perlu memberikan bonus, seperti department store yang selalu memberikan end year sale. Jika dalam list di atas saya memilih lima ulasan terbaik, maka sebagai bonus saya menambahkan dua buku terbaik yang pernah diulas selama 2015.

Dari beberapa alasan kenapa saya memilih kedua buku ini, saya hanya akan membeberkan dua di antaranya. Pertama, buku ini sama-sama terbit di tahun 2015. Dan yang paling utama karena kedua penulisnya adalah sahabat saya.

Aku Ingin Selalu Mekar di Hatimu

26058

Buku ini karya Windah Makkarodda. Saya memanggilnya kak Indah, fasilitator kelompok penelitian saya dalam program Siswa Sebagai Peneliti pada tahun 2006, yang sekarang lebih dikenal sebagai seorang violist. Aku Ingin Selalu Mekar di Hatimu adalah novel debutnya yang terbit di awal tahun. Novel ini bercerita tentang keluarga. Jika penasaran, Arkil Akis telah memberikan beberapa bocoran dalam ulasanya. Silakan dibaca. Jika setelah membaca reviewnya dan makin penasaran, kamu bisa datang ke katakerja untuk meminjam atau membelinya.

Melihat Api Bekerja

Aan Melihat Api Bekerja

Tidak berlebihan jika saya mengatakan kumpulan puisi ini adalah salah satu buku yang hits di tahun 2015. Pertama terbit pada April dan hanya butuh waktu sekitar 3 bulan untuk kembali cetak. Saking hitsnya, saya sering kewalahan saat permintaan untuk buku ini sedang banyak dan stocknya habis. Melihat Api Bekerja merupakan karya kolaborasi penyair Aan Mansyur dan seorang illustrator bernama Emte. Berisi 31 judul dengan interpretasi ilustrasi pada tiap puisi.

Melihat Api Bekerja menjadi satu-satunya buku puisi yang ada dalam list ini. Alasannya jelas, karena buku ini merupakan satu dari dua kumpulan puisi yang direview selama 2015. Another reason is I love poetry! I adore Aan as a poet. I read those poems more than three times, mostly. But still, I stucked. It is never easy to reveal a poem. If it was, that poem isn’t poetry. That’s what my lecturer told me. And if it was, I didn’t need three years to finish my thesis.

*Judul artikel ini terinspirasi dari judul novel “Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya” oleh Sabda Armandio


Baca Revius Review 2015 lainnya

5 Prose Favorit 2015

 Tulisan-tulisan Absurd 2015

5 Film Terbaik 2015 yang Gagal Kamu Saksikan di Bioskop

The Awesomest Awesomer