Foto: Charles Peterson*

“Anarkisme bukan Bom, ketidakteraturan, atau kekacauan. Bukan perampokan dan pembunuhan. Bukan pula sebuah perang di antara yang sedikit melawan semua. Bukan berarti kembali ke kehidupan barbarisme atau kondisi yang liar dari manusia. Anarkisme adalah kebalikan dari itu semua. Anarkisme berarti bahwa anda harus bebas. Bahwa tidak ada seorangpun boleh memperbudak anda, menjadi majikan anda, merampok anda, ataupun memaksa anda. Itu berarti bahwa anda harus bebas untuk melakukan apa yang anda mau, memiliki kesempatan untuk memilih jenis kehidupan yang anda mau serta hidup di dalamnya tanpa ada yang mengganggu, memiliki persamaan hak, serta hidup dalam perdamaian dan harmoni seperti saudara. Berarti tidak boleh ada perang, kekerasan, monopoli, kemiskinan, penindasan, serta menikmati kesempatan hidup bersama-sama dalam kesetaraan.” – Alexander Berkman

Saya mengutip pernyataan Alexander Berkman ini disebabkan karena artikel berjudul Konser Musik Ini Berubah Jadi Ajang Karate, Terpaksa Dibubarkan yang dinarasikan oleh Ibnu Kasir Amahoru di sebuah portal berita. Saya membaca artikel itu sambil geleng-geleng kepala dan membuat saya gelisah (bukan geli-geli basah, ya) karena ada kata anarkis dan karate yang termuat di dalamnya. Jika teman-teman belum membaca beritanya, silahkan klik di sini: http://news.rakyatku.com/read/729/2016/04/18/konser-musik-ini-berubah-jadi-ajang-karate-terpaksa-dibubarkan-.  Jelas sekali bahwa penggunaan kata anarkis dalam artikel tersebut salah kaprah. Perlu penjelasan lagi? Baca kembali pernyataan Berkman di atas. Lalu, bagaimana dengan kata “karate” di artikel itu?

Hari itu, saat acara berlangsung di Warkop Pa’de pada 18 April 2016, saya pun berada di sana walau tidak berada di tengah lantai dansa bersama orang-orang yang sedang “karate” ketika The Hotdogs tampil. Para penonton yang memadati area konser mengeluarkan seluruh ekpresinya menyambut lagu-lagu yang dibawakan The Hotdogs. Dari pengamatan saya, hal itu wajar-wajar saja terlihat bila band punk rock yang bermain dan suasana moshpit penonton begitu ekspresif.

Seperti yang kita ketahui, setiap penikmat musik punya ekspresi sendiri saat menonton konser. Misalnya, musik Dangdut dengan jogetnya yang beraneka ragam (goyang itik, ngebor, goyang patah-patah, goyang bang jali, dan lain-lain), musik Reggae dengan jamming-nya, musik Metal dan headbang-nya, musik DJ ala klub malam dengan goyangan dan angkat-angkat tangannya yang khas, atau mungkin yang paling akrab dengan beliau acara musik pagi hari di televisi dengan joget la la la…ye ye ye… atau akrab disebut joget kucek-kucek, jemur-jemur. Begitu pula dengan musik Punk dengan pogo-nya, kalau lingkar pergaulan yang pernah saya gauli mereka menyebutnya “senam saki’-saki’ badan”.

Jadi, “karate” yang Ibnu maksud itu sebenarnya bernama Pogo atau chaos. Sekali lagi, orang-orang yang sedang “karate” itu adalah hal biasa dalam pertunjukan musik, apalagi dalam acara musik Punk. Itu merupakan bentuk ekspresi mereka bersenang-senang dalam menikmati musiknya. Teman-teman yang lain pasti punya cara tersendiri saat menikmati konser, bukan? Seperti saya misalnya, saat menikmati konser band-band tertentu, saya menikmatinya seperti mendengar khotbah Jum’at, saya berada di barisan terdepan, mendengar secara khusyuk dan diam. Tetapi tidak mandi junub dulu, tentunya. So, it’s a normal thing, right?

Melihat pemberitaan yang ditulis oleh Ibnu, saya juga tiba-tiba teringat sebuah twit dari @arman_dhani yang begini bunyinya:

“kalo anda pikir media cuma cari sensasi. Barangkali anda follow atau baca media yang salah. Ada media yang bicara esensi ketimbang sensasi.”

Jika boleh saya berpendapat sedikit bahwa yang terjadi pada saat konser itu bukan diakibatkan karena pogo atau gerakan “karate” yang dimaksud Ibnu, tetapi dari kapasitas tempat acaranya yang kurang mendukung. Selain itu, teman-teman dari pelaksana acara sepertinya tidak memprediksi sejak awal kalau poster yang mereka edarkan itu berderet nama-nama band indie lokal keren yang bisa mengundang banyak pengunjung, yang mayoritas punker. Mereka tidak siap mengantisipasi massa yang siap berpogo saat band punk rock seperti The Hotdogs tampil.

Saya paham dan berempati terhadap pemilik Warkop Pa’de tersebut yang gelasnya ada yang pecah, kursinya ada yang rusak, dan pengunjungnya ada yang pulang. Mungkin Bapak atau Ibu pemilik kaget melihat kejadian tersebut karena belum “akrab”. Jika ingin lebih akrab, silakan datang pada gig-gig underground yang sederhana. Tetapi yakinlah, Bapak, Ibu, jikalau kejadian tersebut adalah hal yang biasa terjadi di arena pogo. Seriuska’.

Tulisan ini saya buat bukan untuk mencari siapa yang salah dan juga masalah baru. Bukan juga karena saya punya teman punker atau saya menyukai band pengisi acara. Sekali lagi, tulisan ini hadir sebagai buah dari geleng-geleng kepala dan kegelisahan saya saat membaca headline dan isi berita tersebut. Percayalah. Dengan segala kerendahan hati, saya minta maaf jika ada salah kata dan jikalau tak ada, Alhamdulillah. Salama’ki, Cheers!

N.B.: Saya menulis ini sambil mendengar lagu The Hotdogs – Kekalahan Terbaik.

*Charles Peterson adalah fotografer kawakan asal AS yang rajin memotret panggung-panggung musik di Seattle, terutama saat gelombang Seattle Sound bergemuruh di awal era 90-an. Kunjungi situs webnya di http://www.charlespeterson.net/


Baca tulisan lainnya

Sekali Tolak, Tetap Tolak!

Pembangunan untuk (Tontonan) Rakyat?

Dunia Ji Ini!

Yang Mengkhawatirkan dari Muda-Mudi Kekinian

Antara Manusia, Anjing, dan Hyena