Foto: Kedai Buku Jenny ( @kedaibukujenny )

Kerap kali kita menyaksikan di layar kaca maupun media daring yang memberitakan tentang perampasan tanah maupun pembabatan lahan pertanian milik para petani di beberapa daerah.  Salah satunya yang terjadi di Rembang yang membuat publik geram, karena di balik itu akan  dibuat sebuah industri tambang atau apapun yang mensyaratkan perampasan tanah petani. Akibatnya, para petani harus berjuang mempertahankan tanahnya dengan berbagai cara, mulai dari aksi protes sampai harus berjibaku dengan aparat yang dikendalikan oleh pemangku kuasa.

Semakin ironisnya lagi, beberapa kasus tersebut mengakibatkan negara membutuhkan pangan dengan cara mengimpor pangan yang tentunya lebih mahal dibandingkan yang dihasilkan di negara sendiri. Jumlah petani pun mulai berkurang, karena merasa tidak sejahtera dengan mata pencahariannya dan mencari profesi baru dengan cara urbanisasi ke kota untuk mencari nafkah. Lahan pertanian pun akhirnya harus takluk dengan didirikannya bangunan-bangunan industri di pedesaan.

Inilah yang membuat kesenjangan sosial sangat tinggi di setiap daerah diakibatkan ketahanan pangan yang tidak merata diatur oleh negara. “Ya, karena padi atau hasil bumi tidak bisa digantikan dengan beton.” ujar Ari yang sempat saya tangkap ketika mengakhiri bahasan tentang ketahanan pangan dan pergerakan petani.

Problema yang terjadi sekarang ini merupakan salah satu bahasan yang didiskusikan dalam (Bukan) Ujian Meja edisi pertama yang diadakan Kedai Buku Jenny pada 20 Februari 2015. Pada edisi pertama ini, Kedai Buku Jenny mengundang Asy’ari Mukrim, S.IP., MA, salah satu lulusan pascasarjana Universitas Gajah Mada untuk menyajikan kembali hasil penelitian magisternya yang bertajuk “Gerakan Petani Transnasional di Indonesia“.

Ari, begitu sapaan akrab dari Asy’ari Mukrim, diberikan kesempatan untuk kembali membagikan intisari disertasi, pengalaman serta proses-proses yang dialaminya selama melakukan penelitian pascasarjananya. Penelitian yang dilakukan Ari berlatar keberadaan gerakan petani transnasional dan keterlibatan gerakan petani lokal Indonesia dalam politik agraria transnasional. Penelitian ini mengambil studi kasus afiliasi Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) dengan Asian Peasant Coalition (APC) sebagai organisasi tani transnasional yang mengusung satu kampanye global Anti Perampasan Tanah sebagai respon terhadap maraknya isu perampasan tanah dan konflik agraria yang terjadi di Indonesia.

 Pada edisi pertama ini, Kedai Buku Jenny mengundang Asy'ari Mukrim, S.IP., MA, salah satu lulusan pascasarjana Universitas Gajahmada untuk menyajikan kembali hasil penelitian magisternya yang bertajuk "Gerakan Petani Transnasional di Indonesia".

Pada edisi pertama ini, Kedai Buku Jenny mengundang Asy’ari Mukrim, S.IP., MA, salah satu lulusan pascasarjana Universitas Gajahmada untuk menyajikan kembali hasil penelitian magisternya yang bertajuk “Gerakan Petani Transnasional di Indonesia”.

Penelitian ini berusaha menganalisa dan menjelasakan latar belakang kemunculan gerakan petani transnasional dan aktivitasnya di tingkatan local yang melahirkan model advokasi transnasional dalam mengusung isu bersama. Selain itu penelitian ini juga berusaha menyimpulkan implikasi hadirnya gerakan transnasional pada aras lokal. Selain itu, penelitian ini berusaha menemukan pola perlawanan yang dibangun serta model advokasi yang diusung oleh beragam organisasi tani local dan nasional dalam menentang isu perampasan tanah yang banyak terjadi di banyak negara dunia ketiga. Hadirnya aktivitas transnasional pada aras lokal dan munculnya solidaritas terhadap perlawanan gerakan petani di Indonesia adalah hal terpenting dalam penelitian ini.

Munculnya gerakan petani transnasional didorong oleh konstruksi solidaritas gerakan serta perlawanan petani pada aras lokal di banyak negara sebagai gerakan sosial paling tua yang lahir dari kontradiksi masyarakat pedesaan yang bertumpu pada kondisi agraria atau ketersediaan tanah di seluruh dunia. Gerakan petani adalah bagian dari aksi perlawanan masayarakat agraria atas ketimpangan yang mereka alami pada setiap babakan sejarah perkembanganya masyarakatnya.

Pada konteks Indonesia, sejarah gerakan petani adalah sejarah yang penuh konflik dimulai dari zaman Kolonialisme hingga pasca Reformasi. Kontradiski utama yang menjadi pendorong munculnya perlawanan ialah adanya perebutan akses terhadap sumber produksi berupa tanah yang sering kali disertai bentuk ekspolitasi serta kekerasan terhadap rakyat yang mengelolah tanah tersebut oleh institusi kekuasaan yang ada.

Pertarungan kekuasaan yang terjadi di pedesaan telah berlangsung dalam rentang waktu yang lama. Pada tahan selanjutnya, ekspansi modal dan praktik kapitalisme ke dalam kehidupan masyarakat pedesaan telah merubah tatanan sosial-ekonomi di desa. Terjadi perubahan corak konflik menuju bentuk yang baru, tuan tanah klasik sebagai musuh petani kecil, digantikan oleh perusahaan perusahaan pemilik modal yang berasal dari luar desa.

Petani dilepaskan hubungannya dari kepemilikan tanah, dan bergeser menjadi buruh tani, petani tak bertanah atau menjadi buruh industri. Perubahan bentuk eksploitasi tersebut berakibat pada perubahan karakteristik konflik serta bentuk-bentuk resistensi yang terjadi di pedesaan. Sehingga bentuk-bentuk umum tindakan kolektif yang menjadi dasar lahirnya gerakan petani turut berubah dan membentuk konstruksi solidaritas sebagai alat perjuangan petani di tingkat lokal yang dibawa dan direpresentasi secara bertingkat hingga ke pusaran transnasional.

Penelitian yang dilakukan Ari ini menemukan dan menyimpulkan bahwa menyebarnya isu lokal pada aras global dan meningkatnya solidaritas terhadap gerakan petani lokal dibentuk melalui mobilisasi dukungan politik dan pembukaan ruang interaksi bersama antara organisasi-organisasi tani lokal yang ada dalam APC.

Penelitian yang dilakukan Ari ini menemukan dan menyimpulkan bahwa menyebarnya isu lokal pada aras global dan meningkatnya solidaritas terhadap gerakan petani lokal dibentuk melalui mobilisasi dukungan politik dan pembukaan ruang interaksi bersama antara organisasi-organisasi tani lokal yang ada dalam APC.

Intisari dari hasil tesis yang dijelaskan Ari di atas pun membuat saya ikut takjub dengan penjelasannya yang gamblang tentang yang ditelitinya. Saya pun merasa kembali ikut dalam suasana ujian meja, tapi dalam gelaran ini sudah pasti merasakan suasana yang lebih nyaman karena kita bisa saling menimpali ucapan Ari layak seorang teman yang asyik diajak ngobrol apa saja, tanpa ada tendensi dan pretensi tertentu.

Suasana lesehan saat  (Bukan) Ujian Meja hadir di halaman depan Kedai Buku Jenny.  (Bukan) Ujian Meja juga merupakan gelaran pertama dari Kedai Buku Jenny setelah berpindah tempat dari Budi Daya Permai ke BTN Pesona Kampus.

Suasana lesehan saat (Bukan) Ujian Meja pun hadir di halaman depan Kedai Buku Jenny. (Bukan) Ujian Meja juga merupakan gelaran pertama dari Kedai Buku Jenny setelah berpindah tempat dari Budi Daya Permai ke BTN Pesona Kampus.

Sederhananya, riset untuk penelitian pasti mengeluarkan biaya yang cukup besar. Kita pun harus serius dalam mengumpulkan data atau pun mempelajari metode maupun tinjauan pustakanya. Tapi ternyata, setelah kita sudah mempersiapkan segala hal untuk bertarung di ruang ujian, seringkali pengujinya justru bertanya atau mempermasalahkan sesuatu yg tidak berkaitan sama sekali dengan riset yang kita teliti.

Ditambah lagi persoalan durasi waktu yang terlalu sempit, yang membuat kita cukup diliputi perasaan campur aduk, tegang, takut salah menjawab, berusaha fokus yang memakan seluruh tenaga untuk membuat badan rileks meladeni segala hal yang dipertanyakan oleh penguji. Begitulah ide awalnya diadakannya helatan (Bukan) Ujian Meja oleh Kedai Buku Jenny, yang baru saja berpindah tempat dari Komp. Budi Daya Permai ke BTN Pesona Kampus saat ini.

Bayu merupakan salah satu yang tertarik dengan sajian riset dari Ari di (Bukan) Ujian Meja. Dia tertarik menanyakan tentang sejarah pergerakan petani transnasional di Indonesia yang pastinya dijawab dengan sigap oleh Ari.

Bayu merupakan salah satu yang tertarik dengan sajian riset dari Ari di (Bukan) Ujian Meja. Dia tertarik menanyakan tentang sejarah pergerakan petani transnasional di Indonesia yang pastinya dijawab dengan sigap oleh Ari.

Bobhy, salah satu awak Kedai Buku Jenny yang sempat merasakan hal yang sama saat ujian meja, merasakan kalau ujian meja untuk skripsi dan disertasi tidak cukup memberi ruang untuk mengeksplorasi temuan penelitian. Bobhy sering mengamati banyak hasil atau temuan riset yang tidak mendapatkan ruang untuk dibagi. Karena alasan-alasan itu maka Kedai Buku Jenny coba membuka ruang alternatif dimana para peneliti bisa lebih leluasa menyampaikan dan mengeksplorasi hasil risetnya dengan diadakannya (Bukan) Ujian Meja ini.

Kamu bisa ketemu dengan Suar, salah satu awak Kedai Buku Jenny, yang memiliki potensi menjadi pemain drum kalau sering berkunjung ke Kedai Buku Jenny :-D

Seandainya kamu bertandang ke Kedai Buku Jenny saat (Bukan) Ujian Meja edisi pertama, kamu bisa ketemu dengan Suar, salah satu awak Kedai Buku Jenny, yang suka menyimak dan memiliki potensi jadi pemain drum handal 😀

(Bukan) Ujian Meja edisi pertama ini sepertinya bisa memberi ruang untuk kamu yang berjiwa peneliti dan mau menemukan hal-hal baru untuk mau membagikan pengalaman serta proses maupun metode yang kamu gunakan selama meneliti. Daripada skripsi atau disertasi kamu hanya ditumpuk di rak buku atau disimpan sebagai arsip perpustakaan jurusan, lebih baik kamu membaginya dalam suasana keramahan bersama pustakawan dan pengunjung Kedai Buku Jenny di (Bukan) Ujian Meja berikutnya. Mari ki’! []