Ilustrasi: Andi Wirangga L. ( @andiwirangga )

Berita tentang pengeboman di Jakarta baru saja menggemparkan seluruh Indonesia. Kekhawatiran berlebihan mulai ditunjukkan oleh warga yang juga menempati kota-kota besar selain Jakarta. Pengeboman yang menewaskan orang-orang yang tidak bersalah, mulai bersarang di kepala masyarakat. Ketakutan untuk dibom secara tiba-tiba juga menjadi sangat besar. Lucu sekali. Iya, orang-orang yang mengebom di Sarinah itu lucu sekali. Mereka seperti kurang kerjaan. Susah payah merakit bom dan membunuh dirinya sendiri. Padahal mereka harusnya duduk tenang saja. Kami toh tidak akan lupa, kalau mati adalah sesuatu yang pasti. Sekarang pun kami sedang menjalani itu. Mati pelan-pelan dengan asap kotor yang dijejali setiap harinya ke paru-paru kami. Jadi seharusnya mereka tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk merakit bom dan sejenisnya. Lebih berguna bila dibelikan berliter-liter beras untuk istri di rumah, bukan?

Di lain tempat, Makassar tengah menggodok dirinya untuk menjadi kota dunia. Membereskan apa saja dan membangun semuanya. Megaproyek bertebaran di mana-mana. Sebutlah saja dibuatnya kawasan komersial yang akan dinamakan “CitraLand City Losari” dengan luas 1.000 hektare (ha). Pemerintah dengan sigap mendukung hal tersebut. Semua dilakukan demi kemaslahatan para konglomerat dan masyarakat elit yang akan menggunakan seluruh sarananya. Tentu saja ini penting dilakukan demi tercapainya cita-cita besar kota Makassar selama ini. Kota dunia dengan segala yang mendunia. Masyarakat seperti kita yang hanya tahu mengajar, bertani dan menangkap ikan harusnya memang diam saja. Toh ini sebagai langkah besar demi Makassar ke depan, bukan?

Menjadi ketakutan terbesar bagi saya ketika mengetahui pemerintah membangun setinggi-tingginya gedung. Hingga melupakan perpustakaan dan taman-taman. Suatu ketika setelah membaca cerpen Peter Pan milik Eka Kurniawan, saya juga berpikir bahwa apa jadinya ketika Peter Pan juga ada di kota seperti Makassar. Mencuri ribuan buku tanpa ditangkap oleh pemerintah—karena mereka sepertinya memang tidak peduli pada hal semacam itu. Bagaimana jika ada banyak orang yang menjelma Peter Pan dan ada banyak buku yang dicuri dan pemerintah masih tinggal diam? Sungguh malang, nasib Makassar di masa depan.

Saya mahasiswa yang sebentar lagi memasuki semester 6 ketika menulis ini. Berumur 20 tahun dan merasa tidak memberikan kontribusi yang berarti untuk kota ini. Tiga tahun yang lalu, saya berangkat dari kota Sengkang menuju Makassar dengan sebuah cita-cita luhur—untuk berkuliah dan mapan dan menikah. Namun semakin berkembangnya kota ini, semakin berpikir pula saya bahwa saya menjadi satu dari banyak mahasiswa perantau yang hanya menjadi sampah dari kota yang ingin segera mendunia.

Saya berangkat kuliah menggunakan sepeda motor, menghabiskan banyak bensin, dan mencemari udara dengan asap dari kendaraan saya. Memenuhi jalan raya yang semakin sempit semenjak keberadaan saya. Memakan sesuatu dengan bungkus berplastik dan susah untuk diolah. Menambah jumlah kubik sampah di kota Makassar. Saya pun menggunakan listrik di rumah. Menjadi salah satu ancaman untuk kebakaran di kota ini. Saya juga sakit-sakitan. Hingga sering membeli banyak obat dan membuang bungkusnya yang berplastik sekali lagi. Dalam perjalanan menuju kampus, saya juga sangat sering mengeluh ketika hujan di luar. Karena pengendara mobil seenaknya saja mencipratkan sesuatu dan tidak mengenal rem ketika membawa kendaraannya. Saya membuat pencemaran suara. Saya sering memaki dalam hati ketika disalip asal-asalan sama pengendara motor yang berjenis kelamin laki-laki. Menambah dosa tentu saja.

Tapi dari itu semua, saya tetap mencintai Makassar. Karena Makassar menjadi salah satu kota di Indonesia dengan senja yang cantik. Namun alasan macam itu belum cukup untuk meyakinkan kamu (sebagai pembaca) bahwa saya sungguh-sungguh mengatakannya. Saya pikir seperti itu wujud cinta—susah diungkapkan hingga terkadang dianggap orang justru adalah sebaliknya.

Karena menganggap diri sebagai salah satu penghasil sampah dan kemacetan di jalan raya, maka saya akan memilih bunuh diri untuk menebus dosa pada kota ini. Bunuh diri macam apa yang akan saya lakukan? Sampai saat tulisan ini dibuat, saya juga masih memikirkannya dengan saksama. Mungkin saya akan bunuh diri dengan cara menabrakkan diri ke motor polisi yang sedang patroli. Atau memilih digantung saja oleh negara. Atau ditembak tentara, atau apa saja yang tidak terlalu menyakitkan. Tapi tunggu, apa kamu ada saran?


Baca tulisan lainnya dari Nurul Fadhillah

Menatap Kembali Wajah Makassar

Bus Mamminasata’ dan Orang-Orang yang Menunggu

10 Lagu Yang Bisa Kamu Siapkan Saat Hujan Turun

Bahasa Indonesia, Sehat?

Untuk Kamu yang Masih Peduli Kepada Bumi

Menangis dan Belajar Berbahagia

Panggung Menjadi Ruang-Ruang Kebebasan

Tentang Keheningan di Sela Acara Tawa

Ketakutan Saya tentang Makassar di Masa Depan

Sebut Saja ini Keberuntungan Pemula

Belajar Mengingat Hari Bersama Yetti