Teks: Dian Safitri Irawan | Foto: Ifan Aditya 

Menggunakan terma musisi untuk menyebut individu yang menciptakan karya musik, akan lebih menonjolkan kesan artistik daripada membuat musik. Realitanya, walaupun merupakan kunci dari karir seorang musisi, proses artistik hanya sebagian dari proses membangun karir musik itu sendiri. Sisanya: manajemen, strategi marketing, dan overall business decision dari pelaku-pelaku industri. Ada “kerja” selain “karya” pada musik yang butuh dipahami oleh musisi—dan perkara itu membutuhkan skill, fokus, juga disiplin yang mungkin lebih besar daripada porsi membuat musik sebagai produk akhir.

Untuk sesuatu yang dimulai dari hobi dan proyek iseng-iseng bersama teman-teman dekat, pernyataan saya mungkin mengganggu bayangan kalian mengenai dunia musik yang penuh warna. Namun, perlu direnungkan lebih dalam bahwa karya tidak pernah sanggup menjual dirinya sendiri. Perlu kerja keras untuk membuat karya terjual. Dalam bentuk fisik, digital, hingga live performance.

Memahami bahwa kerja adalah salah satu kegiatan paling penting dari membangun karir di dunia musik bisa membuat karyamu jauh lebih bernilai. Jika proses membuat lirik dan aransemen adalah proses berkarya, maka menjual produk musik dalam bentuk live performance, distribusi digital dan fisik, serta kegiatan branding dan pembangunan komunitas musik sebagai proses bekerja. Dalam bekerja, tinggalkan pembenaran-pembenaran klise seperti suasana hati di dalam kamarmu. Seperti bekerja, buatlah target, performance indicator, strategi marketing, dan action plan yang dapat membuat produkmu bernilai seiring waktu. Perlakukan karir musikmu seperti karir yang sebenar-benarnya, yang membutuhkan segala perencanaan dan pemikiran matang dari pelakunya untuk mencapai target tertentu. Dalam rangka merayakan Hari Musik Nasional yang jatuh pada 9 Maret 2018 ini, sebagai musisi, pikirkan karirmu dengan serius.

Tanpa dorongan industri yang serius terhadap dirimu sebagai musisi, saya yakin, kamu akan selamanya menganggap musikmu hiburan semata—bagimu dan juga bagi pelaku industri lain.

Sebelum band saya bergabung dengan FastForward Records sebagai label rekaman dan distribusi, saya tidak punya pemikiran serius mengenai aspek bisnis karir musik saya. Selama 3 tahun sebelumnya saya berkarya dan bekerja di atas panggung demi fee yang tidak seberapa. Pada 2006, di Bandung, fee pendatang baru untuk 30-45 menit waktu tampil: lima ratus ribu rupiah! Karena kami bersenang senang, kami terima saja dan menghabiskannya untuk bersenang-senang juga. Tidak ada pemikiran matang untuk dibawa ke mana karir musik kami. Setelah beberapa tahun tampil dengan fee yang semakin meningkat karena jam terbang yang juga semakin banyak, tidak juga mengubah pandangan saya terhadap faktor senang-senang dan berkarya dalam musik. Hal ini membuat banyak sekali miskonsepsi dan pengambilan keputusan yang keliru dalam bekerja—atau manggung—yang mencerminkan ketidakpahaman kami bahwa manggung adalah bekerja.

Baru setelah menandatangani kontrak dengan FastForward Records, saya membuka mata dan pikiran. Orang-orang yang bertahan dan berkembang di industri ini hanyalah mereka yang menyadari bahwa bekerja sama pentingnya dengan berkarya. Bagaimana tidak? Pelaku industri lain, seperti perusahaan rekaman dan distribusi, event organizer, pemilik usaha kafe, pemilik brand besar memperlakukan musik sebagai bisnis. Selama tidak mengikuti alur dan mengubah mindset berkarirnya, musisi tidak akan dianggap serius. Nilai tidak akan naik, dan karya yang kamu banggakan itu barangkali akan sia-sia belaka.

Tulisan ini tidak akan membahas perkembangan industri musik Indonesia, nilai investasi pemerintah terhadap industri musik, maupun perjuangan yang dialami musisi untuk berjualan karya fisik karena bombardir platform digital. Dalam kapasitas sebagai pemerhati human resources, saya hanya akan membahas bagaimana para musisi bisa membawa perubahan hanya dengan mengubah mindset dalam berkarya dan bekerja.

Sebagai musisi, banyak sekali yang perlu dipelajari untuk dapat membangun karir. Profesionalisme kerja, termasuk kedisiplinan waktu, riset mendalam, pembangunan strategi, dan penentuan target adalah yang paling penting. Kelola band-mu seperti kamu mengelola perusahaan. Ada investasi, ada cost, ada salary, dan tentu ada income source. Perusahaan yang berhasil adalah perusahaan yang bisa mengelola semua hal di atas sesuai dengan kebutuhan dan targetnya. Kenali industri dan pelakunya. Kenali cost dan nilai setiap aktivitasnya. Bangun komunitasnya. Pecahkan masalah dengan solusi yang sesuai. Industri musik Makassar terlalu kecil, berakibat harga menjadi murah dan statis? Buat action plan yang sesuai dan bisa diterapkan untuk isu ini. Komunitas musik Makassar yang sedang berkembang ini sangat berpotensi untuk memecahkan isu-isu industri musik kota. Jadikan sebagai sarana diskusi yang memecahkan isu-isu itu, bukan hanya sebagai ajang berkumpul dan bersenang-senang.

Sekali lagi, pelaku lain menentukan hargamu berdasarkan perhitungan bisnisnya. Event organizer menilai hargamu dengan kalkulasi jumlah pengunjung yang datang karena keterlibatanmu dalam event mereka. Kalau kamu hanya dibayar satu juta rupiah, salah satunya adalah karena perhitungan tersebut. Bukan sepenuhnya karena merendahkan nilaimu. Mereka tidak perlu memikirkan cost yang kamu keluarkan untuk tampil di event mereka. Itu tugasmu. Tidak sesuai dengan cost yang kamu keluarkan? Pikirkan nilai tak terhitung yang bisa kamu dapatkan dengan keterlibatanmu dalam event yang mereka adakan. Apakah penampilan di acara itu akan menaikkan nilaimu sebagai band ke depannya? Terima dengan menganggap ini adalah investasi branding. Tidak menaikkan nilai? Tidak menambah income? Ambil keputusan yang bijak dengan tidak ikut serta.

Saat ini perusahaan berbondong-bondong mengubah strategi marketing mereka dengan lebih personal dan unconventional. Dulu iklan adalah satu-satunya jalan paling lebar untuk marketing produk. Saat ini, banyak sekali perusahaan yang beralih ke marketing melalui brand ambassador, influencer. Dengan maraknya personal value yang bisa kamu manfaatkan melalui media sosial, membuat nilaimu bisa diukur dengan jumlah follower dan engagement measurement. Manfaatkan itu. Termasuk juga digital platform yang membuat kamu bisa mengukur sebanyak apa pendengarmu, di mana mereka berada, dan melalui perangkat apa mereka mendengarkan musikmu. Manfaatkan. Buat marketing kit yang mengandalkan data-data terukur untuk memudahkan pelaku industri lain mengukur nilaimu. Dengan melakukan itu saja, kamu sudah menaikkan nilaimu sebagai pelaku industri.

Banyak sekali pekerjaan rumah musisi lokal. Di sini pentingnya forum-forum diskusi dalam komunitas untuk bisa secara nyata mendukung keseriusan musisi. Tidak ada tradisi dan kebiasaan menahun yang dapat diubah hanya dengan berkeluh kesah. Hanya dengan memecahkan isu satu demi satu, mengembangkan kebiasaan baru yang lebih baik, baru individu dapat mengubah tradisi seiring waktu.

Jadi, tanyakan kepada dirimu sebagai musisi. Apakah kamu terlibat dalam kerja nyata mengembangkan skena musik kota? Tanyakan kepada teman-teman komunitas, apa yang mereka lakukan untuk mengembangkan skena musik kota?

Setelah membaca tulisan ini, coba ambil kertas kosong dan tuliskan isu-isu yang kalian hadapi selama berkarir di industri musik. Tuliskan juga opsi solusi yang bisa dilakukan olehmu sendiri, oleh komunitas, dan selamat bekerja!

Catatan: Sebagai pemerhati skena musik, penulis secara rutin setiap bulan membuka kelab musik di Sepetak Ruang sebagai forum diskusi skena musik di Makassar melalui pengembangan kualitas individu sebagai pelaku.