Di suatu sore yang tenang, seperti biasa, saya menikmati kopi yang baru diseduh. Yang di luar kebiasaan adalah saya menikmatinya sambil menonton televisi. Layar televisi  sedang memutar adegan sepasang kekasih yang baru saja mengakhiri hubungan mereka, “kita udahan aja yah”, kata si perempuan dengan suara dan iringan musik yang sedih kepada kekasihnya yang sedang menikmati coklat dengan damai. Mendengar hal itu, sekonyong-konyong  si pria mendesak dengan pertanyaan, “kenapa?” dengan wajah terkejut dan tampak dibuat-buat. Si perempuan menjelaskan alasannya, “kamu sukanya makan Bengbeng langsung, papa ku sukanya makan Bengbeng dingin,” lalu ia berlari menjauh, memunggungi si pria yang bernasib malang itu. Begitupun saya, berjalan menjauh dari televisi dan meninggalkan pasangan yang malang itu.

Sungguh malang nasib hubungan itu, hanya karena persoalan berbeda selera mereka rela mengakhirinya. Walaupun adegan di atas hanyalah iklan, dan iklan identik dengan melebih-lebihkan, tetapi kali ini benar adanya. Di dunia maya dan nyata, kita berlomba-lomba saling membenci hanya karena berbeda cara melihat dan merasakan sesuatu, mirip dengan iklan coklat itu. Ada banyak hal yang membuat kita terburu-buru untuk membenci. Padahal, memahami saja belum. Parahnya, tidak jarang perbedaan itu berakhir pada laku kekerasan. Akal yang membuat manusia menjadi makhluk istimewa, ternyata tak mampu menyelesaikan masalah tersebut. Padahal perbedaan adalah hal yang niscaya, menghilangkannya kemustahilan belaka, dan menyeragamkannya akan berakhir sia-sia.

Mungkin karena itu, 12 februari 2017 lalu, Peacetival hadir di Makassar yang dilaksanakan oleh Peace Generation. Peacetival seperti menghembuskan udara segar dengan nilai-nilai perdamaian yang mereka anut di tengah polusi kebencian yang diakibatkan oleh pilkada ibu kota yang dampaknya bisa kita rasakan hingga di Makassar.  Ada dua belas nilai yang dibawa oleh Peace generation, Anda bisa membacanya di sini http://www.peace-generation.org/modul. Secara garis besar nilai-nilai itu mengajarkan kita untuk menerima diri, tidak berprasangka buruk ke orang lain, memahami perbedaan, merayakan keberagaman, dan bagaimana menindaki konflik. Sederhana betul, hampir sama sederhananya pelajaran PPKn sewaktu sekolah dulu.

 

Acara yang berlangung di Mall Ratu Indah tersebut mempunyai beberapa rangkaian acara. Mulai dari talkshow : talk the peace hingga pertunjukan seni. Event ini cukup menarik sebagai perpaduan seni dan perdamaian. Membungkus ide-ide perdamaian dengan kemasan yang lebih segar dan mudah dimengerti, sehingga anak-anak yang hadir pada Peacetival dapat menangkap nilai-nilai perdamaian.

Suasana Talkshow tentang Seni dan Perubahan.

Pada sesi talkshow Seni dan Perdamaian yang dibawakan oleh Abdi Karya, Bobby dan Akbar Zakaria, mereka membahas tentang pentingnya melakukan perubahan melalui jalan-jalan kreatif. Mereka membahas juga tentang aksi unjuk rasa yang terkadang berakhir rusuh dan kurang efektif untuk menyampaikan gagasan-gagasan. Maka dari itu, seni sebagai hal yang dekat dengan kemanusiaan dan jauh dari kekerasan, sangat penting sebagai alat untuk membawa perubahan.

My Silver Lining, salah satu band yang mengisi Peacetival kali ini.

Setelah talkshow Seni dan Perubahan selesai, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di venue utama. Penampakan Peacetival ini persis seperti yang dikatakan oleh Abdi Karya dalam sesi talkshow Seni dan perdamaian, “Dalam membuat perubahan, kita harus gunakan jalan-jalan yang kreatif, bukan hanya jalan kekerasan.” Saat pertama kali masuk saya melihat stand figure beberapa tokoh perdamaian seperti Gandhi dan Mandela, lalu ada komik strip yang sarat makna. Perut yang lapar, atau mungkin juga kepala, bisa terbantu oleh tenant yang menjajakan makanan dan buku. Ada juga beberapa komunitas yang hadir dalam acara ini. Di depan panggung, saya melihat orang-orang berkerumun. Ramai. Lalu saya mendengar suara bocah, “teman saya menyukai warna….”, penasaran, saya medekat. Di atas sebuah bangku, berdiri seorang bocah dengan kain warna-warni melilit di tubuhnya. Seorang pria dan wanita berdiri di hadapannya memegang dan mengambil lalu menguraikan kain sesuai warna yang disebutkan oleh bocah itu. Mereka adalah Teater Ketjil dan Teater Ketjil adalah satu keluarga, dan sedang mementaskan naskah Damai Dalam Angkara yang diiring Intro Tantang Tirani milik Homicide dengan sedikit perubahan. Melihat ini saya makin paham tentang apa itu seni dan perubahan juga indahnya punya keluarga. Ehm.

Teater Ketjil yang juga keluarga penggiat Kedai Buku Jenny, mementaskan lakon mereka.

Hoax sebagai salah salah satu hal penyebab konflik, turut menjadi bahan pembicaraan di Peacetival pada talkshow Makassar Anti Hoax yang dibawa oleh Qashim Mathar dan Mochtar Pabottingi. “Tabayyun sangat perlu untuk mengecek setiap kejadian,” kata Qashim Mathar menanggapi cepatnya informasi-informasi di media sosial. Betul saja, banyak dari kita membenamkan diri pada isu-isu yang beredar bebas di media sosial, tanpa pernah mempertimbangkan kebenarannya dari awal. Tabayyun memang melelahkan, tetapi itu lebih baik daripada membenamkan diri dalam kekeliruan.

Talkshow Makassar Anti Hoax dari Qashim Mathar dan Mochtar Pabottingi

Dengan adanya Peacetival di Makassar, diharapkan kota ini menjadi kota welas asih, bukan cuma menurut survei kebahagiaannya yang tinggi, atau menurut pertumbuhan ekonominya yang naik seperti yang dikatakan Danny Pomanto, walikota Makassar saat berpidato di Peacetival, tetapi yang lebih nyata. Makassar yang lebih ramah pada manusianya. Makassar yang lebih adil. Percayalah, sulit menjadi damai jika tidak memerhatikan kedua hal itu.

Pada talkshow sesi ke tiga, banyak tokoh dari berbagai latar belakang yang mengisi panggung utama dan membagikan pengalaman dan ceritanya tentang perdamaian. Seperti Aan Mansyur, Mochtar Pabottingi, Eric, Yongris dan Ocha Alim. Peacetival ditutup dengan pertujukan musik dari beberapa band.

Bulan Februari yang identik dengan bulan kasih sayang, bertambah indah dengan hadirnya Peacetival kali ini. Semoga tidak terbatas di perayaan, namun juga hadir di keseharian. Sampai jumpa di Peacetival selanjutnya.