Tanggal 28 Mei 2016, skena musik metal khususnya di kota Makassar kembali bergemuruh. Dead Of Destiny meluncurkan album terbaru mereka, The Black, dengan menggelar penampilan di Gedung Veteran Makassar.

Saya datang kira-kira sebelum pukul lima sore dan mendapati Dead Of Destiny melakukan soundcheck. Sempat ada kekhawatiran dari Rico (vokalis) saat mengobrol dengan saya tentang keluaran sound vocal yang dinilai kurang maksimal. Beruntung, sound yang ditangani oleh Oscar LoeJoe dan kak Cada’ sebagai orang yang ahli, menemukan cara yang mampu membuat keluarannya menjadi lebih baik dan maksimal. Ada yang menarik perhatian saya saat Dead Of Destiny melakukan soundcheck. Beberapa anak-anak bergaya ala punk yang juga ikut menyaksikan. Tampak mereka mengangguk-anggukkan kepala mengikuti lagu dan melempar senyum kecil. Selesai sesi soundcheck, mereka pun membubarkan diri. Saya sedikit terkejut melihat di depan gerbang masuk, sudah dipenuhi oleh mereka yang ingin menonton dan menjadi bagian dari skena musik metal di Makassar. Ini menunjukkan bahwa antusiasme, dan hasrat yang besar akan pagelaran musik cadas di kota ini masih ada dan masih membara.

Acara peluncuran album The Black yang diselenggarakan oleh Daeng Bro ini dimulai tepat pada pukul 07.15 malam dan langsung dibuka oleh Eksekutor Mutilasi, band yang menganut paham slam dari Bajoe, Kabupaten Bone. Dibuka dengan intro yang tanpa basa-basi langsung memantik semangat crowd untuk membuat sebuah moshpit yang tidak terlalu besar namun liar. Kemudian semakin hanyut seiring bergemuruhnya musik slam yang dibawakan dan memenuhi seluruh ruang dalam gedung Veteran. Lagu terakhir yang juga menjadi lagu andalan Eksekutor Mutilasi ini adalah Bajoe 1998, lagu yang sebelumnya juga masuk dalam album kompilasi Celebes Extreme Musick Compilation.

Launching album The Black dibuka oleh Eksekutor Mutilasi, band yang menganut paham slam dari Bajoe, Kabupaten Bone.

Launching album The Black dibuka oleh Eksekutor Mutilasi, band yang menganut paham slam dari Bajoe, Kabupaten Bone.

Lalu sempat terjadi sedikit kepanikan kecil dikarenakan salah seorang personil dari band W.A.R yang terjebak kemacetan. Setelah melakukan perundingan kecil dengan Fuad (High Voltage) yang juga menjadi MC, akhirnya Unremains mengisi tempat W.A.R. Band yang juga menganut paham Metalcore sama seperti Dead Of Destiny ini membawakan empat lagu dan ditutup dengan No God No Glory.

Unremains ketika tampil di launching album The Black. Kuintet metalcore ini pun tampil dengan Fuad dari High Voltage.

Unremains ketika tampil di launching album The Black. Kuintet metalcore ini juga tampil bersama Fuad dari High Voltage.

Sesudah penampilan Unremains yang memukau, Fuad (High Voltage) selaku MC mengadakan kuis yang berhadiah 1 CD album The Black dan 1 poster sembari menunggu kelengkapan personil W.A.R. Kepanikan kecil yang sempat terjadi akhirnya reda, dengan lengkapnya personil W.A.R. Tanpa basa-basi, unit Grindcore dari BTP ini mempersiapkan gear mereka lalu menghajar dan meliar di atas panggung. Mendekati akhir lagu pertama, monitor pelempar sound yang berada di depan stage sempat jatuh dan mengakibatkan hilangnya sound bass dan terganggunya keluaran sound vokal. Tak butuh waktu lama, masalah kecil tersebut dapat terselesaikan, dan W.A.R dapat menyelesaikan penampilan mereka yang benar-benar liar.

Tanpa basa-basi, W.A.R, unit Grindcore dari BTP ini tampil menghajar panggung.

Tanpa basa-basi, W.A.R, unit Grindcore dari BTP ini tampil menghajar panggung.

Setelah W.A.R, ada penampilan dari dedengkot death metal Makassar yang berdiri di bawah bendera Brutal Infection Records, Critical Defacement. Sempat membawakan beberapa lagu dari album terbaru mereka, dengan sound yang begitu kental dengan ciri khas Death metal yang masif, berhasil membuat crowd menjadi lepas kendali.

Critical Defacement dengan ciri khas Death metal yang massif, berhasil membuat crowd menjadi lepas kendali.

Critical Defacement dengan ciri khas Death metal yang massif, berhasil membuat crowd menjadi lepas kendali.

Selepas Critical Defacement, Gedung Veteran digegerkan oleh Harakiri. Bergemuruh dengan dentuman drum yang seakan tiada henti, raungan distorsi gitar, amukan bass, dan vokal yang mencekam. Dengan empat lagu yang bergemuruh, membuat pesta peluncuran album The Black semakin gelap.

Dengan empat lagu yang bergemuruh, Harakiri membuat atmosfir peluncuran The Black semakin gelap.

Dengan empat lagu yang bergemuruh, Harakiri membuat atmosfir peluncuran The Black semakin gelap.

Tiba di puncak acara, Dead Of Destiny selaku “tuan rumah”, menjadi penutup pesta peluncuran album The Black. Merepresentasikan kegelapan yang sesungguhnya, di pesta peluncuran album ini, mereka membawakan seluruh lagu dalam album baru mereka. Into The Fallen sebagai intro, disambut dengan The Black, terciptalah circle pit yang besar. Kemudian Wrath Of The Underworld, tidak membutuhkan waktu yang lama mengubah circle pit menjadi moshpit yang liar. Didominasi oleh rapatnya permainan dua gitar, bass, drum, dan vocal, membuat adrenaline semakin terpacu. Sehabis membawakan Di Belakang Garis Musuh, Dead Of Destiny menyempatkan berfoto bersama sebelum melanjutkan untuk mengumandangkan kegelapan yang bernyawa dengan Menghujam Peluru. Di lagu ini, sangat terasa semangat antara personil dan crowd yang berpesta dalam moshpit.

Dead Of Destiny selaku "tuan rumah", menjadi penutup pesta peluncuran dan merepresentasikan The Black yang sesungguhnya.

Dead Of Destiny selaku “tuan rumah”, menjadi penutup pesta peluncuran dan merepresentasikan The Black yang sesungguhnya.

Kemudian Prayer yang menjadi lagu selanjutnya dibawakan dengan penuh energi. Tak membutuhkan waktu yang lama, Dead Of Destiny lalu membawakan Melihat Dunia Terbakar. Puncak pesta peluncuran yang saya rasakan dan bagi sebagian orang yang hadir saat itu adalah waktu lagu Only God yang sepertinya sudah familiar di telinga penikmat dan penggila musik cadas di Makassar. Seakan menjadi titik penghabisan energi yang tersisa, brigade yang terpasang tak mampu menghalangi semangat crowd untuk melakukan moshpit tepat di depan panggung. Breakdown yang sangat dikenal, membuat suasana semakin seru. Sudah cukup sabar saya menahan gairah untuk bergabung dalam moshpit dan circle pit yang sudah sedari tadi menggoda saya, akhirnya saya melampiaskan seluruh tenaga dan hasrat yang tersisa untuk melakukan headbang.

Pesta peluncuran album The Black yang diselenggarakan oleh Daeng Bro ini adalah sebuah pencapaian yang luar biasa dalam skena musik metal di Kota Makassar. Album ini membuat Dead Of Destiny naik kelas. Dan Daeng Bro sebagai pihak penyelenggara, namanya semakin dikenal luas. Semoga dengan terselenggaranya pesta peluncuran album ini, juga menjadi motivasi bagi band-band yang lain untuk terus berkarya. []

*Foto merupakan dokumentasi penulis


Baca tulisan lainnya

Mengarungi Kegelapan yang Bernyawa

Meneruskan Konsistensi di Jalur Musik Metal

Selebrasi Monumental dan Sentimentil di Penghujung April

Menerawang Lebih Dalam, Menuju Sisi Gelap Manusia

Kumpul di Timur: Lebih dari Sekedar Berkumpul