Oleh: Galeh Pramudianto (@galehpramdianto )|Ilustrasi: Aisyah Azalya* ( @syhzly )

 “Informasi bukanlah ilmu pengetahuan” –Albert Einstein

Bisa jadi pernyataan Einstein itu benar ataupun keliru. Dikatakan benar, misal temanmu menulis status di media sosial: tentang dirinya yang sedang berada di pusat perbelanjaan dan sedang kesepian. Itulah informasi, bukan pengetahuan. Sementara keliru, bila dalam informasi yang dituliskan temanmu itu bernapas pada tugas kuliahnya, misal:

Saat ini, saya sedang membaca pemikiran dan genealogi Foucault perihal relasi pengetahuan dan kekuasaan.

Orang yang membaca status tersebut bisa mendapatkan informasi dari temannya, sementara informasi tersebut juga terkandung pengetahuan—ya tentang genealogi dan semacamnya itu. Kalian pun pasti tahu, bahwa sekarang dunia telah dalam genggaman. Meminjam istilah dari Yasraf A. Piliang—tentang dunia yang dilipat. Kamu bisa tahu si A sedang memakai baju apa lewat OOTD (Outfit Of The Day) di Instagram. Kamu bisa tahu lokasi si B sedang di mana sama pacar barunya lewat share location. Apa yang ingin kamu ketahui tentang dunia, baik di sekitarmu atau yang jauh pun kini ada dalam genggaman.

Kita seakan hidup di dunia yang tak mengenal jagad lelah. Tak ada tujuan, tak ada pemberhentian. Semua berlalu tanpa bisa kita kuasai. Informasi menyerang pikiran kita setiap hari. Seakan apa yang didapati itu selalu benar. Tak heran kalau sebagian masyarakat kita yang awam lebih percaya kepada setiap rumor tanpa perlu dicek dulu kebenarannya. Setelah yang berbau rumor itu diketahui, langsunglah ia menjadi tumor karena belakangan diketahui hoax atau palsu, yang menjadikan dirinya humor belaka.

Itulah generasi instan. Berlomba-lomba mencari informasi tanpa dikulik lebih dahulu keabsahannya, hanya agar eksis di media sosial dan tercepat mengabarkan. Hal itu dikarenakan mereka menganggap siapa yang paling cepat tahu, maka ia akan eksis. Arkeologi pengetahuan Foucault dan Eksistensialisme Satre bekerja di sini. Tak bisa dipungkiri bahwa sekarang ini kedalaman telah lenyap oleh kedangkalan. Yang lambat akan tergerus akan kecepatan. Yang kurus dan kegemukan akan lenyap oleh yang berdada bidang dan bertubuh sintal. Itu yang disebut oleh Adorno masyarakat komoditas dan oleh Baudrillard masyarakat konsumsi. Merayakan apapun yang dikonsumsi.

Sering sekali kita mendengar atau membaca kata ini: kekinian. Siapa yang update akan isu sekitar media sosial langsung dijadikan meme, videogram dan foto-foto yang memiliki ciri khas akan perayaan kekinian tersebut. Seolah dunia akan kiamat bila kita tak mengetahui informasi hype yang beredar. Simptom kecemasan itu kian menumpuk di dahi-dahi. Ketika ada film baru langsung ke bioskop dan ketika ada tempat makan unik langsung datang. Begitulah siklus sosial kini sedang bekerja. Tak jauh dari itu, beberapa tahun silam orang merasa perlu membeli blackberry, dan kini nampaknya telah terganti dengan Android dan pelbagai gawai lainnya. Hal ini semakin memperjelas kenyataan bahwa manusia semakin takluk pada gemilau materialitas yang dipoles dalam “bungkus” citra “modern.

Di bulan Ramadan pun atau momen-momen tertentu, simptom latah juga terus berlaku. Kalau kita menelisik, dulu di pertengahan tahun 2000-an, buku agenda Ramadan menjadi buku wajib kala sekolah, sementara kini hanya beberapa saja yang masih menjalankan(?) Di saat bosan sambil menunggu ngabuburit, kita biasa bermain monopoli, halma, congklak, ular tangga dan baca buku-buku cerita. Sekarang bagaimana kabar kerajaanmu di ponsel itu? Kalau ngasih uang itu pake kartu atau amplop bergambar—masih ingat kan? Kini via rekening ponsel, semua beres. Saat mudik kalau kita tidak tahu jalan, kita turun ke jalan untuk bertanya kepada warga sekitar, kini semua bisa lewat GPS atau Waze. Atau, kau mau pesan sesuatu? Sekarang ada ojek yang siap mengantar keinginanmu dalam sekejap notifikasi. Jangan cemas, inilah konsekuensi kehidupan—yang (katanya) modern itu.

Menurut W.F. Ogburn perubahan teknologi seringkali menghasilkan kejutan budaya yang pada gilirannya akan memunculkan pola-pola perilaku yang baru. Mengapa generasi muda mayoritas menggandrungi Path sebagai media sosial? Kalau saya rasa karena ada fitur seen by friends. Kecemasan akan kesepian bisa terobati dengan feedback yang gesit itu.  Maka terjadilah suatu dominasi teknologi terhadap perubahan sosial yang ada, sesuai dengan pernyataan Veblen yaitu “We Can’t Stop Progress”. Pernyataan itu, mengarahkan bahwa kita tidak akan pernah bisa menghentikan suatu perkembangan- perkembangan dan kemajuan.

 Kebudayaan Pop dan Glorifikasi Selera

Hal ini pula yang disebut Foucault sebagai “ironi heronisasi” (irony of heronization). Di bawah ironi heronisasi kekinian, manusia modern terus-menerus mencoba menemukan jati dirinya. Semua orang ingin menjadi “icon pop”, sebagai sentrum pemberitaan. Kemewahan dan mimpi semu pada kontes-kontes selebritas seperti hanya menjual mimpi. Kalau kata Bre Redana itu seperti budidaya kebodohan. Kebahagiaan artifisial. Kesenangan instan.

Gaya hidup kekinian sekiranya membutuhkan biaya ekonomi yang cukup tinggi atau bisa dikatakan sesuai dengan porsi saat ini. Semua adalah pilihan. Konsumsi sebagaimana ditekankan Bourdie, yang meliputi tanda, simbol, ide, dan nilai, digunakan sebagai cara memisahkan satu kelompok sosial dengan kelompok sosial yang lain. Pandangan Bourdie telah membangun sebuah konsep “habitus”, yakni modal pengetahuan atau budaya sehari-hari yang merefleksikan pengalaman rutin dengan tingkah laku yang sesuai dengan budaya-budaya partikular. Habitus juga berperan penting dalam mengkontruksi gaya hidup, di mana produk sistematisnya menjadi sistem-sistem penanda kualifikasi sosial (misalnya: yang termahsyur, yang vulgar, dan seterusnya). Dihubungkan dengan kelas sosial, habitus merupakan pengkondisian yang berkaitan dengan syarat-syarat keberadaan suatu kelas.

Kini di tengah dunia benda kita, “masyarakat”, “tubuh”, “seks”, “kekerasan”, dan “informasi” kian tercelup dalam wilayah yang tak luput dari intervensi logika ekonomi dan budaya. Kebudayaan yang dimaksud adalah kebudayaan massa/pop(uler) (mass/pop[ular]culture) dengan ditopang industri kebudayaan telah mengonstruksi masyarakat di mana gaya hidup begitu dikultuskan dan dipuja. Adalah Allan O’Connor, salah seorang pengkaji budaya, saat menyoroti topik “popular culture”, menjelaskan bahwa terma ini mengacu pada “proses budaya yang berlangsung di antara masyarakat umum.”

Salah satu contoh adalah ketika artis mengunggah foto atau pernyataan subjektif di akun media sosial mereka. Hal ini menimbulkan kesadaran bagi penggemarnya bahwa apa yang artis tersebut gunakan merupakan sesuatu yang up to date atau sedang booming dan layak untuk diikuti. Hal tesebut karena adanya engangement (keterikatan). Dalam disertasinya, Alice E. Marwick, seorang social media researcher menjelaskan bagaimana media sosial mengubah “something a person is to something a person does,” di mana ia “exists on a continum rather than as a singular quality”. Atau tak usah jauh-jauh kepada selebriti, contoh kecil di sekitar kita adalah teman kita yang punya karisma, kemampuan dan status sosial yang tinggi, dianggap dapat berpengaruh kepada teman-teman kita lainnya. Misalnya adalah gaul itu dengan nongkrong di kafe sambil memotret makanan atau minuman yang dipesan. Hal itu masuk dalam hipersemiotika. Tanda yang melampaui dan tanda yang telah menutupi dan menyesatkan realitas.

Contoh lainnya adalah sehabis kita nonton film action atau science-fiction yang beradegan di luar nalar. Misal mobil terbang pada seri Fast and Furious, dan taman hiperealitas di Jurassic World. Hal itu adalah tanda ekstrim (superlative signs). Tanda yang dibuat untuk merepresentasikan di luar batas realitas. Ada juga anggapan klise kalau kita nonton drama itu berarti pribadi yang pesimis dan kemayu, tidak gagah seperti kita menonton action atau kolosal. Itulah glorifikasi selera yang berhasil menidurkan pikiran awam yang gaduh. Dilihat dari kacamata ini, penyeragaman produk budaya adalah awal dari logika industri kebudayaan yang berkembang sebagai “proyek penyeragaman selera dan cita rasa” (homogenization of taste)”. Selera masyarakat kini seperti diarahkan pada yang profan, banal dan menghibur saja, seperti kitsch, tidak ada lagi kanon yang kudus. Yang serius dan dalam akan ditinggalkan dengan yang humor dan menjual. Budaya baca-tulis seperti lenyap di antara hingar lisan dan citra. Saya jadi ingat salah satu lirik puisi Afrizal Malna yang berjudul Mesin Penghancur Dokumen:

“kemarin aku bosan, hari ini aku bosan, besok akan kembali lagi bosan yang kemarin.” apa tata bahasa harus diubah menjadi museum es krim supaya kamu tidak bosan. Di sini aku-lirik mendedahkan kerisauan akan literasi dan kejenuhan masyarakat pada pelbagai gaya hidup.

Membicarakan pilihan gaya hidup, saya jadi ingat fragmen perdebatan sang tokoh utama—Suryono pada novel Senja di Jakarta-nya Mochtar Lubis. Suryono mengatakan begini:

“..tidakkah pernah berpikir, bahwa kita ini kini hidup bukan dalam abad atom, akan tetapi dalam abad tidak percaya.”

Di sini bisa kita lihat apatis, individual dan eksistensialis terpancar. Lebih lanjut:

“..karena manusia tidak percaya pada manusia, tidak percaya bahwa manusia sama manusia bisa dan harus sama-sama hidup. Si komunis begitu, si demokrat begitu, si imperialis begitu, si merdeka begitu. Semuanya sama saja. Bahwa tidak guna cape-cape bertukar pikiran seperti ini. paling benar ialah urus diri sendiri, cari kebahagiaan sendiri menurut kehendak sendiri, dan persetan dengan dunia ini?”

Di alam ‘kekinian’ ini, yang mana kita hadir? Karena toh yang ‘kini’ ini selalu melintas sebagai ‘hanya sekedar yang menjelang tadi’. Menurut teori relativitas Einstein, waktu dan ruang dapat mengalami perubahan dalam kecepatan cahaya. Atau Stephen Hawking dengan lubang cacingnya. Lintasan waktu kita yang selalu kritis inipun masih bisa dibentangkan, walau waktu tak pernah bisa ditaklukkan. Bisa dikatakan saat ini kita berada pada era postmodern, yaitu di mana masyarakat tidak lagi diatur oleh prinsip produksi barang, melainkan produksi dan reproduksi informasi di mana sektor jasa menjadi faktor yang paling menentukan. Masyarakat konsumen tidak lagi bekerja demi memenuhi kebutuhan, melainkan demi memenuhi gaya hidup.

Tak ada lagi nilai-nilai asketis (kesederhanaan, kejujuran, dan rela berkorban), yang ada mungkin hanya snobisme. Teka-teki itu berjalan di pusat-pusat kota. Kalau begitu, saya (sepertinya) ingin jadi Holden Caulfield saja—yang dengan polos berceloteh riang tentang apapun di alam pikiranmu. GP []

Bacaan Pembantu:

Piliang, Yasraf Amir. 2003. Hipersemiotika :Tafsir Cultural Studies dan Atas Matinya Makna. Yogyakarta: Jalasutra.

Ibrahim, Idi Subandy. 1997. Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia. Bandung: Mizan.

*image modified from freepik.com