Oleh: Afif Alhariri (@bung_ucok)| Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Bagi kamu-kamu yang pernah merasakan nikmatnya hidup di era 90-an. Sebuah era dimana kamu merasa gaul hanya dengan menyebut “Sumpe, lo”. era dimana Anang masih gondrong tapi tak begini. Era dimana kamu menunggu Planet Remaja demi ramalan zodiaknya. Era dimana dunia belum berakhir jika putus cinta karena masih banyak teman–teman yang menemani. Cukup sampai di sini. Sebab kita tidak akan berbicara tentang romantisme 90-an. Paragraf di atas hanya sebagai pengantar memorimu.

Pasti kamu mengenal Shaden. Grup band yang digawangi oleh Nuri (vokal), Abrar (drum) dan Rijal (gitar). Grup band yang sukses membawa pendengarnya dalam alunan suara merdu sang vokalis. Dimana lagu-lagunya menjadi daftar wajib barisan remaja yang terlatih patah hati. Dengan paras cantik dan kelembutan suara vokalisnya mampu menghipnotis para lelaki untuk berteriak “Jadikanlah aku pacarmu. Kan kubingkai selalu indahmu”.

Shaden yang sempat hilang, kini hidup kembali. Dalam hingar-bingar panggung politik.  Nuri, sang vokalis, mengikuti jejak Helmi Yahya, hadir sebagai bendahara sekaligus anggota DPRD Jakarta usungan Partai Gerindra. Bacot Ahok yang penuh kontroversi dan menarik untuk dibahas setajam silet ini ternyata menarik perhatian Nuri untuk ikut serta dalam penandatangan hak angket.

Tidak ada yang salah sebenarnya dengan menandatangani hak angket. Permasalahannya adalah jawaban Nuri saat diwawancarai oleh wartawan. Ini kutipannya sebagaimana yang tertulis di kompas.com

“Hak angket itu kan (hak) bertanya ya. Ya saya berharap (hubungan DPRD dan DKI) bisa lebih komunikatif dan (menjalin) kerja sama lebih baik lagi,” kata Nuri

“Proses (angket) pasti saya tahu, ya. Memang seharusnya (legislatif bertanya kepada eksekutif) begitu ya kalau hak angket. Yang pasti nanti kalau angketnya sudah selesai kan diputuskan dalam paripurna, datang saja (ke paripurna), nanti tahu deh jawabannya (hasil angket),” Masih kata Nuri.

Beri saya kesempatan untuk memikirkan apa maksud Nuri tersebut. Hak angket. Hak bertanya. Sejauh pemahaman saya, dari masa nenek-nenek kita mengikuti penataran P4, hak angket memiliki pengertian sebagai hak yang dimiliki DPRD untuk melakukan penyelidikan terhadap suatu kebijakan eksekutif yang berdampak luas pada kehidupan masyarakat, daerah, dan negara, yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Sementara, hak bertanya yang dimaksud Nuri adalah hak interpelasi. Dimana hak yang dimiliki tiap anggota DPRD untuk meminta keterangan kepada kepala daerah mengenai kebijakan pemerintah daerah yang penting dan strategis yang berdampak luas pada kehidupan masyarakat, daerah, dan negara.

Entah apa maksud perkataan Nuri ini. Apakah ia memang salah menafsirkan perbedaan antara hak angket atau hak interpelasi. Atau sengaja mencari sensasi agar namanya “memanggung” kembali seperti yang sering dilakukan Dewi Persik, si pencari sensasi minim prestasi. Entahlah. Akibat pernyataan Nuri tersebut saya mengalami mimpi buruk semalaman dan memiliki phobia baru yang disebut Twitter phobia. Jelaslah. Sebab kini masyarakat Twitter ramai mem-bully Nuri akibat pernyataannya. Hadir pula meme-meme bergambar wajah cantiknya yang bertuliskan “Mungkin mereka gak korup, hanya bodoh”. Baiklah. Asal kamu tahu saja, saya itu fans berat Shaden.

Sebagai salah satu fans Shaden, saya hanya bisa berharap kembalilah ke panggung musik, Nuri. Janganlah engkau terlena dalam permainan poli-tikus yang penuh konspirasi. Panggung yang menyebabkanmu kini di-bully. Kerinduan akan hadirmu yang berdiri di depan alat musik, jemari kokoh memegang mic dan merdu suaramu bernyanyi. Rangkullah kembali saudara-saudaramu. Hidupkan kembali Shaden yang telah mati suri. Shaden yang pernah menemani saat sejumlah remaja Indonesia sedang putus cinta.

Dunia belum berakhir

Bila kau kembali ke musik

Masih banyak fans-fansmu disini

Mendengarkanmu.

Ku pikir pikir

Ku pikir pikir

Kamu menyingkir dari politik

Ku pikir pikir

Ku pikir pikir

Kamu lelah houwooo..