Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Kembang api adalah kombinasi warna-warni di angkasa dan suara ledakan yang menyertainya. Atraksi visual dan audio. Novidia meramalkan : di masa depan, salah satunya akan hilang.

Halo teman-teman, selamat datang di masa depan!

Tempat yang selalu kita kira takkan pernah kita capai. Tempat yang kita kira hanya berisi tumpukan imajinasi yang kesulitan merealisasikan diri. Karena selalu, sebenarnya, setiap “saat ini” adalah bukan “masa sekarang”, tapi “masa depan yang sedang memulai dirinya”, bersiaplah!

Kali ini, soal kembang api. Sekarang sudah tahun baru, dan kita baru saja melewati ribuan kali ledakan-ledakan cahaya yang cantik tapi bunyinya mengganggu tidur itu. Mungkin itu alasan banyak orang memilih untuk merayakan tahun baru semalam suntuk, yang sebenarnya hanyalah alasan untuk tidak tidur karena sulit rasanya untuk bisa terlelap dalam kepungan suara-suara ledakan yang mengejutkan.

Semua yang bermula pasti ada akhirnya. Kembang api pernah bermula di suatu waktu pada masa lalu. Dan jika waktunya sudah tepat, dan penemuan baru telah diterima oleh banyak orang, kembang api akan berakhir, meninggalkan kita dalam tahun baru yang hening.

Hening saja, karena ledakan cahayanya tidak akan dengan mudah direlakan pergi. Karena foto apa yang akan menghiasi berbagai sosial media sejak 31 Desember sampai paling lama 5 Januari jika bukan berbagai warna yang meledak di langit malam?

Bertahun-tahun lagi dari sekarang, kembang api akan ditinggalkan. Tapi tidak ada yang perlu kita khawatirkan. Teknologi selalu punya kejutan.

Saat ini di Singapura, ada sebuah hiburan yang berlokasi di Marina Bay Sands. Di sana, hiburannya adalah berupa sebuah pertunjukkan yang memainkan sinar laser. Karena itu, pertunjukkan ini hanya dilakukan di malam hari, mengingat di siang hari cahaya matahari akan lebih kuat dari sinar laser. Malam hari, waktu yang selalu dipakai semua orang untuk menyalakan kembang api, menghebohkan diri merayakan detik pertama di tahun yang baru lagi.
Sinar laser di pertunjukkan ini, memiliki berbagai warna. Warna-warna yang menyala-nyala. Warna-warna yang kurang lebih seperti warna-warna cahaya ledakan kembang api. Sinar lasernya juga bisa menjadi berbagai bentuk, sesuai kebutuhan pertunjukkan. Bentuk ledakan kembang api sepertinya tidak sulit untuk ditiru. Meledak, percikan cahaya, semburan, atau titik cahaya yang menyerupai bintang jatuh—atau planet mars jatuh, karena biasanya warnanya merah.

Kita bisa menggantikan kembang api, suatu hari nanti.

Kembang api yang saat ini kita gunakan, akan menimbulkan asap yang mengepul selama beberapa waktu di langit. Saya pernah merayakan tahun baru di rumah teman di daerah Pettarani sekitaran flyover—tapi bukan di atas flyover, serius!—dan sejak nongkrong di teras lantai tiga rumahnya pada pukul 11 malam sampai jam 1 dini hari, langit sekitaran situ yang sebelumnya biru gelap dan pekat, berubah menjadi sedikit gelap kusam karena diselubungi asap berwarna putih hasil dari ledakan kembang api.

Cahaya laser yang berpura-pura sebagai ledakan warna kembang api, tidak menimbulkan asap. Langit tetap pekat, untuk kemudian menjadi cerah dengan hangat ketika kita bangun keesokan harinya. Menyadari, tahun sudah berganti.

Belum lagi, kertas dan kemasan pembungkus kembang api yang tentu saja akan menjadi tumpukan sampah tahun baru. Lucu saja, jika resolusi pemerintah adalah untuk memiliki kota yang lebih bersih, tapi bahkan di hari pertama tahun baru kita sudah harus berurusan dengan sampah kembang api. Sampah, masalah yang terus menghantui, sepertinya.

Laser pengganti kembang api, tidak punya kertas pembungkus.

Apalagi yang biasa dicemooh soal kembang api? Uang yang habis dalam satu malam perayaan. Ini yang biasa digunakan orang-orang yang menyukai ketenangan untuk membenarkan penolakannya.

Pertunjukkan laser, mungkin hanya membutuhkan tiket masuk ke area pertunjukkan. Atau jika mau lebih canggih, bisa diciptakan alat laser pengganti kembang api yang bisa diisi ulang daya baterainya dan bisa dibeli siapa saja. Semua boleh punya dan bisa lagi digunakan tahun depan, atau ketika lebaran, dan natalan. Wisuda-an juga mungkin. Juga ulang tahun dan berbagai perayaan yang tidak berkabung.

Kalau tanpa suara ledakan membuat nonton kembang api kurang menyenangkan, mungkin bisa saja menambahkan fitur audio ke alat laser. Tidak ada yang tidak bisa diciptakan. Kalau bisa dipikirkan, maka itu bisa diwujudkan. Teknologi, selain selalu punya kejutan, juga tidak pernah mengecewakan. Ia terbuka pada perkembangan, karena ilmu pengetahuan selalu siap dieksplorasi.

Kita akan merayakan tahun baru dengan berbeda. Nanti, setiap hari, pembangunan akan terus terjadi, akan banyak lampu-lampu yang menerangi setiap sudut kota. Maka, pertunjukkan laser akan diadakan di pinggir pantai di pulau-pulau eksotis, atau di daerah pegunungan yang dingin dan tenang—di sana ada sedikit lampu dan cahaya laser akan terlihat mengaggumkan. Cahaya laser takkan bekerja jika terlalu banyak polusi cahaya. Jalanan kota akan lengang, semua orang berlibur merayakan tahun baru di tempat-tempat yang sunyi, atau berdiam diri di rumah menonton liputan perayaan tahun baru di seluruh dunia.

Tidak ketinggalan, kita tidak perlu menonton atau membaca di koran, berita tentang anak-anak atau siapa saja yang terkena resiko terbakar atau merasakan ledakan petasan di anggota tubuh mereka. Karena laser yang menjelmakan diri menjadi kembang api tidak memiliki resiko sepedih itu. Tidak ada luka yang harus tertanggung sepanjang hidup oleh sebab perayaan satu malam.

Mungkin kita bisa mulai memandang kembang api secara berbeda. Karena seperti banyaknya hal yang hilang, ia akan dikenang. Dan orang bijak pernah berkata, kita tidak akan menyadari betapa istimewanya sesuatu hal, sampai nanti kita tidak lagi memilikinya.

Kembang api bisa saja tidak memiliki pengaruh penting dalam hidup kita (kecuali bagi keluarga pekerja di pabrik kembang api dan pedagangnya), tapi akan ada suatu hari di mana kita sedang merayakan tahun baru sambil menyaksikan cahaya laser yang benar-benar terlihat sebagai kembang api yang menyemburkan cahaya berwarna bersama keluarga kita. Dan kita melihat anak-anak kita, atau cucu mungkin kalau kamu memulai lebih cepat dari yang lain—yang tidak mengenal kembang api yang kita alami—dengan ketakjuban yang polos menyaksikan pertunjukkan cahaya di hadapan.

Ketakjuban semacam itu, yang akan melemparkan kita kembali ke masa-masa tahun baru bersama kembang api dengan berbagai perasaan yang terperangkap di sana.

Mungkin perayaan romantis dengan mantan pacar (yang sayangnya bukan ayah dari anak yang sedang takjub itu), mungkin perasaan gemas terperangkap dalam macet ketika semua orang keluar rumah bersenang-senang untuk menutup tahun, atau perasaan sepi ketika memilih untuk melewati pergantian tahun di rumah tanpa perayaan semarak, hanya mendengar suara ledakan kembang api dari kejauhan, perayaan yang mengungkap rasa syukur atas tahun yang masih diberikan oleh Yang Maha Kuasa, dengan ibadah bersama keluarga, atau mengingat perayaan sederhana bersama dengan teman-teman menyenangkan dengan obrolan ringan dan candaan yang tidak berubah setiap tahunnya.

Anak yang takjub dengan pertunjukkan laser itu tidak akan tahu rasanya berada di bawah langit malam pergantian tahun ketika kembang api melesat ke arah langit kemudian meledak dalam percikan cahaya warna-warni, seperti yang kita rasakan. Seperti selama ini kita rayakan. Mereka hanya tahu, kembang api adalah permainan cahaya dari laser yang canggih mandraguna, bukan hasil dari pembakaran cepat magnesium, aluminium, atau belerang.

Kita melihat percikan kembang api berakhir, kemudian menjadi saksi ia berubah menjadi kilatan cahaya.

You gain some, you lose some.

Selamat datang di masa depan, teman-teman! Tempat di mana semua hal yang sudah terbiasa digantikan hal lain yang kita kira takkan pernah ada. Tempat di mana kita akan terus belajar beradaptasi pada ke-tidakterbatas-an setiap kemungkinan, berbetah-betahlah!