Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Jadi, saya masih mabuk makanan sisa weekend kemarin. Sedari Senin sampai hari ini, saya tidak punya selera mau makan apa, karena masih terbayang berbagai sajian semua tenant kemarin. Dan sayangnya, sejak dua jam sebelum acara selesai, satu per satu tenant makanan mulai memasang pengumuman “Sold Out”, di meja sajian mereka. Saya tidak bisa membungkus pulang apa-apa.

Saya juga masih agak gondok karena didahului oleh orang lain dalam usaha mendapatkan tas lucu dengan motif semangka. Untungnya, saya tahu di mana harus mendapatkan mereka nanti. Terima kasih, Hunting Book. Menurut beberapa pemilik tenant yang saya “ganggu” kesibukannya melayani pengunjung CHESS, mereka mengaku bahwa dari beberapa event serupa yang pernah mereka ikuti, CHESS adalah yang paling ramai pengunjung. Selamat kepada tim Panitia seksi Publikasi, karena kerja kerasnya terbayar oleh padatnya Monumen Mandala, akhir pekan lalu. Beberapa teman saya bahkan tidak mendapatkan Hunting Book. Para penjaga tenant mendapatkan tanggapan positif dari pengunjung yang hadir. Selain produk mereka habis dinikmati dan dibeli, banyak pengunjung yang penasaran di mana produk-produk tersebut bisa didapatkan selain melalui event CHESS ini.

Menemukan semua produk makanan enak di satu tempat tanpa harus keliling kota adalah kemudahan yang sangat menyenangkan. Dan CHESS berlaku sebagai ruang di mana para penikmat makanan dan fashion enthusiast bisa berkenalan dengan produk yang mereka inginkan, yang mereka cari tanpa perlu tersesat di jalan-jalan kota.

Berkeliling di area event untuk mencari alasan lain untuk merayakan CHESS, saya menemukan beberapa saran dari pengunjung, karena mereka menikmati event ini tanpa beban- beban Panitia atau pemilik tenant, sehingga perhatian mereka tentu saja tercurah pada event ini secara utuh.

  1. Tempat Sampah

Salah satu pemandangan yang lekat selama acara kemarin adalah, bungkusan-bungkusan bekas pakai berbagai produk tenant makanan yang bertumpuk di meja-meja yang disediakan Panitia.

“Kayaknya, kurang liat tempat sampah. Jadi orang banyak buang sampahnya sembarangan”, ungkap Ima yang saya ajak nongkrong di area belakang untuk menanyakan kesannya terhadap CHESS ini. Kami tidak akan bisa mengobrol di tengah-tengah lokasi event, karena ada momumen Mandala di sana. Di sekitar tenant juga kurang mungkin, karena ramai sekali orang-orang yang berkeliling mengunjungi tenant.

  1. Antrian

Antrian adalah pemandangan kedua yang ada hampir di setiap hadapan meja sajian, dan kadang-kadang agak berantakan. Saya tidak menyalahkan siapa-siapa, karena lapar dan ngiler bukan hal yang menyenangkan untuk dirasakan. Karena harus menghadapi rasa lapar sendiri, kita kadang lupa kalau orang lain juga punya perut yang mungkin mengalami rasa lapar yang sama. Kita semua mengantri untuk tujuan yang sama: menu yang menggoda. Juga dengan harapan yang sama: cepat dilayani.

Akibatnya: antrian berantakan.

“Kalau bisa ada nomor antrian, jadi orang gak rebutan buat antri,” saran dari Deta yang datang bersama bassist Tabasco yang menghibur penonton malam itu.

CHESS_REVIUS6

Pemandangan antrian tenant di CHESS, ramai!

  1. Kursi dan Meja

CHESS benar-benar menepati janjinya untuk kuota 80% bagi tenant makanan. Saya melihat banyak sekali makanan dan minuman yang tidak hanya memikat mata, tapi juga menarik hati—atau lidah lebih tepatnya. Dan pengunjung yang ramai, memaksa kursi-kursi yang disediakan menjadi terasa kurang.

Kursi dan meja terlalu sedikit untuk pengunjung seramai itu. Mungkin Panitia sebelum acara harus mencari seseorang yang bisa membaca masa depan untuk tahu bahwa mereka akan kekurangan kursi dan meja. Walaupun sebenarnya tidak terlalu masalah karena makanan yang dijual kebanyakan berbentuk cemilan yang asik dijadikan teman berkeliling di area event. Tapi, ada beberapa tenant yang menjual makanan yang mengharuskan pengunjung untuk makan di meja dan kursi.

“Kalau bisa, lebih banyak kursi sama meja saja, saran saya itu ji,” saran dari Ayu yang disetujui oleh kedua temannya, Iin dan Anggi.

Yes, hanya tiga poin!

Dengan diiringi satu pertanyaan besar, apa harapannya untuk CHESS, yang dijawab layaknya kelompok paduan suara yang menyanyikan lagu yang sama, orang yang saya tanya mengharapkan CHESS lagi untuk digelar tahun depan. Salah seorang pengunjung, Anggi, mengaku, dua hari terlalu sebentar. “Kurang lama. Harusnya seminggu, karena masih belum dicoba semua. Jadi, kalau ada lagi, lebih lama lah acaranya”, ujarnya dengan semangat. Sebagaimanapun lapar tidak mampu dihadapi, perut juga punya batasan yang jelas, yaitu ketika ia sudah kenyang. Dan menghabiskan akhir pekan di CHESS menikmati makanan dan minuman, yang hanya dua hari, perut butuh hari yang lebih.

Saran-saran yang telah dikumpulkan itu, adalah bentuk keoptimisan terhadap Emefsi Management. Tahun depan, CHESS akan kembali digelar. Semoga.

Ah, boleh dijadikan keharusan saja?


Baca tulisan lainnya dari Novidia

“Penulis itu Seperti Hiu”

Fun Ways to Have Fun, CHESS!

Lima Tips Menghadapi Dosen ‘Killer’

Lima Warung Bakso Paling Syahdu

Ajakan Pindah Planet bagi Siapa Saja

Sembilan Kekuatan Super yang Kamu Kira Bukan

Please Welcome, Miss Kotabaru!

Tujuh Alasan Mengapa Kamu Setuju Bahwa Televisi Lebih Baik Tidak Menyala

Lakukan Sendiri atau Berbagi Bersama Teman Sepermainan

Menyelami Magi Haruki Murakami

Kita dan Kota Perlu Berteman dengan Lebih Banyak Taman