Oleh: Kemal Syaputra* ( Mr_Kems )| Sumber Gambar: Everything Films

Saya tumbuh dengan sajian media tentang hubungan Malaysia-Indonesia yang selalu memanas karena perebutan hak wilayah dan hak warisan budaya. Saya tidak bisa memungkiri bahwa image Malaysia di mata saya menjadi buruk karena pemberitaan media tersebut. Malaysia adalah negara tukang rebut. Kemudian saya berkesempatan menonton sebuah film Malaysia berjudul Lelaki Pilihan Dunia (Men who Save the World) di festival tahunan Seascreen Academy di bulan ini, sebuah festival tahunan di Makassar yang tidak hanya memutar film tapi juga menggelar workshop pembuatan film. Saya tidak pernah menonton film Malaysia sebelumnya, saya juga tidak tahu apa film legendaris mereka, saya tidak tahu siapa sutradara legendaris mereka, walaupun saya menduga bahwa pemikiran saya juga sama bagi masyarakat Malaysia terhadap perfilman Indonesia. Dan secara mengejutkan, film Malaysia pertama yang saya tonton ini juga sekaligus menjadi salah satu film terbaik dunia yang pernah saya tonton!

Apa yang saya temukan di Lelaki Pilihan Dunia membuat saya mengesampingkan rasa tidak suka saya terhadap Malaysia menjadi sebuah rasa empati yang begitu dalam. Karena apa yang saya saksikan juga saya yakini pasti pernah terjadi dan mungkin masih terjadi di beberapa daerah di Indonesia, pun seluruh dunia. Sebuah tragedi yang menyamaratakan. Dan jika ada dua manusia yang akan sangat bangga dengan karya ini, mereka mungkin adalah director legendaris Hollywood, Charlie Chaplin, dan director legendaris Spanyol/Prancis, Luis Bunuel. Charlie Chaplin dikenal akan kemampuannya mengkritik permasalahan sosial dan politik dalam bentuk komedi, sedang Luis Bunuel terkenal dengan komedi-nya yang kerap menyindir kaum tertentu. Dua kualitas utama director kenamaan dunia tersebut juga saya temukan dalam karya yang digarap director Malaysia keturunan China ini, Liew Seng Tat.

Sekelompok pria di sebuah kampung di Malaysia suatu hari memutuskan untuk membantu teman mereka, Pak Awang. Untuk mengangkat rumah tua yang kini tak lagi ia pakai. Rumah tersebut berada di tengah hutan. Dan akan dipindahkan ke desa. Proses angkat rumah ini tak mudah, butuh waktu berhari-hari, dikarenakan jarak yang jauh. Rumah ini rencananya ingin dijadikan pak Awang sebagai hadiah pernikahan putrinya dalam waktu dekat. Proses dan tradisi mengangkat rumah ini sendiri menurut director-nya merupakan bagian dari semangat Gotong-Royong yang dijunjung tinggi masyarakat Malaysia. Terutama mereka yang masih tinggal di kampung. Sebuah tradisi yang lucunya juga dijalankan oleh beberapa suku di Indonesia. Menggelitik bahwa kesamaan ini membuat saya tidak lagi berpikir tentang siapa yang menjiplak siapa, melainkan perasaan “wah, betapa miripnya Malaysia dengan Indonesia”.

men-who-save-the-worl_Revius

Proses dan tradisi mengangkat rumah ini merupakan bagian dari semangat Gotong-Royong yang dijunjung tinggi masyarakat Malaysia, terutama mereka yang masih tinggal di kampung. Lucunya, tradisi ini juga ada di Indonesia.

Cerita lain terjadi di saat yang sama, seorang imigran gelap asal Afrika kabur dari kejaran polisi, dari sebuah kota masuk ke alam hutan. Dua kejadian ini kemudian berpaut, ketika sang imigran menemukan rumah tersebut lalu dengan sembunyi-bunyi menjadikannya tempat berlindung. Seseorang yang tanpa sengaja melihat keberadaan sang imigran dalam rumah tersebut di malam hari lalu mengabarkan ke seluruh kampung bahwa rumah tersebut dihuni Orang Minyak, salah satu sosok hantu yang ditakuti di Malaysia. Kabar ini kemudian menciptakan kepanikan massal, ditambah lagi ini membuat semua warga tidak lagi ingin membantu Pak Awang mengangkat rumah yang dianggap berhantu tersebut.

Banyak hal yang akan anda kagumi dari cara Seng Tat meramu film ini. Yang paling kentara adalah kejeliannya mengkombinasikan komedi lepas dengan kritik sosial nan tajam. Jika anda akrab dengan film-film Charlie Chaplin di mana semakin kacau keadaan dalam film tersebut, adegan-adegan yang ditampilkan secara gestur atau gerak tubuh justru juga semakin lucu. Nah, kualitas inilah yang akan anda temukan dalam kekacauan yang tercipta pada film Lelaki Harapan Dunia. Seng Tat paham betul bahwa gestur itu punya andil yang besar dalam mengundang tawa, sekuat apapun anda menahan tawa, akhirnya akan tertawa juga. Tapi di saat yang sama ia juga memperlihatkan secara kritis bahwa kekuatan kelompok yang tadinya ingin mereka gunakan untuk semangat Gotong Royong mengangkat rumah, sebuah semangat yang membuat kita kagum dengan kekuatan mereka, kini berubah menjadi ketakutan massal yang justru menciptakan permusuhan dan prasangka. Ketakutan yang sama kuatnya dengan semangat Gotong Royong tersebut.

Karena film ini adalah gabungan komedi dan kritik sosial, sebuah kombinasi berlawanan lainnya kemudian juga ikut tercipta. Sebuah sedih di tengah tawa, dan kombinasi inilah yang paling saya kagumi dalam film ini. Sementara kita tertawa melihat kepanikan massal yang menciptakan tindakan konyol para warga kampung, kita juga akan melihat sebuah pemandangan pahit yang menyepi; Pak Awang yang dimusuhi dan dianggap egois karena memutuskan untuk tidak percaya pada keberadaan Orang Minyak. Dia sepertinya satu-satunya pria di kampung tersebut yang yakin bahwa tak ada Orang Minyak yang menghuni rumah tuanya. Bahwa serangkaian peristiwa janggal yang terjadi berikutnya, seperti hilangnya hewan ternak dan seorang anak gadis yang mendapati lebam-lebam di tangannya ketika bangun pagi tak ada hubungannya dengan rumah tuanya. Tapi kebencian warga kampung yang kita anggap ekstrim terhadap Pak Awang takkan lantas membuat kita tidak menyukai warga kampung tersebut. Bagaimana bisa kita tidak menyukai warga kampung tersebut jika keberadaan merekalah yang justru membuat kita terhibur, bukan begitu?

Pak Awang dimusuhi dan dianggap egois karena memutuskan untuk tidak percaya pada keberadaan Orang Minyak.

Pak Awang dimusuhi dan dianggap egois karena memutuskan untuk tidak percaya pada keberadaan Orang Minyak.

Saya menemukan ada banyak kesamaan antara kualitas film Luis Bunuel dengan kualitas Lelaki Harapan Dunia milik Seng Tat. Ketika anda menyaksikan karya-karya Bunuel, semuanya akan terasa lucu ketika keadaan yang terjadi adalah sesuatu yang salah dan amoral, dan menyaksikan Lelaki Harapan Dunia, anda juga akan menyadari hal yang sama. Betapa menggelitiknya saat kita bisa menertawai sesuatu yang salah namun dibenarkan, tapi di saat yang sama masih mampu mengasihani sesuatu yang benar namun disalahkan. Satu kesamaan lain yang saya temukan antara Seng Tat dan Bunuel adalah mereka sama-sama memiliki kualitas merciless dan pesimis untuk ditampilkan dalam filmnya.

Dalam film Viridiana (1961), Bunuel memperlihatkan bagaimana hinanya pengemis jalanan. Bunuel pesimis bahwa mereka akan berubah ketika mereka diberi kesempatan untuk menjalani hidup yang lebih layak atas derma orang-orang kaya. Jika kau melimpahkan mereka kebaikan, mereka akan memperalatmu, kira-kira seperti itulah statemen yang Bunuel ingin perlihatkan.

Dalam Lelaki Harapan Dunia, saya menemukan sentimen yang sama. Pria yang pertama kali menyebarkan isu bahwa ada hantu di rumah tua Pak Awang adalah orang terpinggirkan di kampung tersebut, bernama Wan. Wan pecandu narkoba, yang berani mencuri ketika tak punya uang. Ia diizinkan tinggal di kampung tersebut karena sepertinya tanda-tanda bahwa ia telah tersadarkan mulai nampak, dan sebagai penonton, kita tak pernah menaruh curiga pada Wan. Tapi Seng Tat paham betul cara menggunakan karakter seperti Wan bagi kebutuhan ceritanya dan di saat yang sama mengeksplor kelicikannya. Sejak awal Wan tak pernah nampak baik, tapi tak ada yang mencurigainya karena ia berbaur dalam kelucuan warga kampung. Dan satu-satunya tokoh yang paling diuntungkan dengan kepanikan massal ini hanya Wan seorang. Warga kampung bertindak digerakkan rasa takut, Pak Awang bertindak digerakkan rasa marah, Wan bertindak digerakkan kerakusan akibat narkoba yang menggerogoti sel-sel darah dalam tubuhnya. Seng Tat seolah berstatemen bahwa narkoba menjadikanmu manusia sial yang tidak punya harapan.

Jika anda memperhatikan film Lelaki Harapan Dunia, warganya hanya para suami, istri, kakek, nenek, dan anak-anak kecil; baik laki-laki maupun perempuan. Tak ada pemuda-pemudi di dalamnya. Orang-orang kampung ini sepertinya tak punya anak untuk mereka kirim guna bersekolah tinggi di kota lalu kembali membawa dan membagi ilmu yang mereka dapat kepada orang-orang tua mereka. Sehingga sepanjang hidup, orang-orang kampung ini hanya lebih mempercayai mitos ketimbang akal rasional mereka karena mereka kekurangan sumber pendidikan. Bahkan agama yang mereka anut sendiri pun tak cukup. Mereka adalah warga kampung yang rajin beribadah dan bermusyawarah di masjid, tapi ketika dihadapkan pada mitos, mereka lebih percaya mitos. Mereka memang punya anak-anak kecil penerus mereka, tapi apa yang terjadi pada anak-anak kecil ini justru tampak lebih miris lagi.

Kekonyolan para pria-pria di kampung yang banyak percaya pada mitos menciptakan kombinasi sedih dan tawa bahkan penyampaian kritik sosial yang saya kagumi dari film ini.

Kekonyolan para pria-pria di kampung yang banyak percaya pada mitos menciptakan kombinasi sedih dan tawa bahkan penyampaian kritik sosial yang saya kagumi dari film ini.

Seng Tat berhasil memperlihatkan kepada kita bahwa anak-anak kecil selalu memiliki pesona dan keluguan yang kerap menciptakan kelucuan. Anak kecil juga punya rasa kasih yang begitu murni. Ada adegan ketika anak-anak kecil dalam film ini membebaskan seekor unta secara diam-diam. Mereka tidak tega jika unta itu disembelih oleh ayah mereka. Namun rasa kasih mereka itu ternoda ketika anak-anak tersebut menyaksikan ayah mereka telah memusuhi Pak Awang. Keluguan membuat anak-anak tersebut mencontohi ayah mereka untuk ikut-ikutan melihat Pak Awang sebagai musuh. Namun seperti yang telah saya ungkapkan, Seng Tat punya kemampuan dalam hal mengkombinasikan. Dia bisa membuat kita kehilangan harapan sekaligus berharap. Ketika anak-anak ini dijadikan sebuah simbol tanpa harapan bahwa kejahatan itu bisa diwariskan; dari satu generasi ke generasi berikutnya, dari generasi tua ke generasi muda, maka sebaliknya keberadaan Pak Awang justru memperlihatkan harapan bahwa ketuaan tidak melulu membuat cara berpikir kita semakin mundur dan membunuh akal rasional kita.

Dewasa ini, saya mengidentifikasi negara-negara Asia Tenggara lewat film atau sineas-nya masing-masing. Saya menandai Thailand dengan keberadaan sineas Apicatphong Weerasetakhul di sana, yang karya-karyanya senantiasa dipenuhi nuansa kearifan lokal. Kemudian saya menandai Singapura setelah dua tahun lalu saya berhasil dibuat terpesona oleh film Ilo Ilo karya Anthony Chen. Saya menandai Philippina lewat film On the Job (2013) karya Erik Matti. Saya menandai Vietnam lewat The Scent of Green Papaya (1993) karya Anh Hung Tran. Dan akhirnya setelah sekian lama saya menandai Malaysia sebagai “negara perebut”, kekuatan film mengganti predikat tersebut.

Kini saya menandai Malaysia dengan keberadaan Liew Seng Tat di sana. Seorang sineas Asia yang sangat mudah dikagumi karena punya banyak kualitas sineas dunia dalam dirinya. Seorang sineas yang saya percaya pada karya-karyanya di masa mendatang. Lelaki Harapan Dunia adalah sinema independen yang dibuat dengan kesadaran moral, semangat kearifan budaya, namun dengan pesan yang universal. Seng Tat ingin memperlihatkan bahwa masyarakatnya punya sesuatu yang patut dibanggakan, tapi di saat yang sama juga punya sesuatu yang patut diwaspadai.

Liew Seng Tat membuka mata kita untuk awas terhadap kekuatan massal, jenis kekuatan yang memiliki faedah yang besar, namun di saat yang sama juga mampu menghancurkan. Seng Tat juga berhasil menciptakan kebangkitan kesadaran emosi, bahwa dengan menertawai kebodohan dalam film ini sebenarnya kita telah menertawai tragedi kemanusiaan yang justru seharusnya direnungi. Ini menandakan manusia memiliki ambiguitas pada emosinya, kadang kita mampu memilahnya, kadang justru kita tidak menyadarinya. Kita bisa memilih; entah ingin melihat Lelaki Harapan Dunia sebagai film yang bisa membuat terlena dengan kelucuannya, atau justru film yang memberi mimpi buruk yang mencerahkan yang akan kita kenang dalam jangka waktu yang sangat lama.

*Penulis adalah penggiat Cinema Appreciator Makassar

Lelaki Harapan Dunia movie banner

Judul : Lelaki Harapan Dunia (Men Who Save The World)| Sutradara : Liew Seng Tat | Tahun : 2014| Genre : Drama/Comedy| Negara : Malaysia