Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Saya mulai menginjakkan kaki dan berkuliah di Makassar pada tahun 2013. Karena berasal dari sebuah kota kecil bernama Sengkang, saya yang bisa dikatakan sebagai pendatang ini cukup takjub melihat apa yang terjadi. Di kota saya, jalanan tidak sebesar ini. Kendaraan juga belum padat dan udara baru akan terasa panas bila sudah menunjukkan pukul 1 siang. Belum ada asap tebal mengepul dan orang-orang yang memakai masker pada pukul 10 pagi. Sangat kontras dengan apa yang terjadi di kota sebesar Makassar. Jika Makassar diumpamakan seorang manusia, saya bisa menebak umurnya sudah menginjak 50 tahun atau lebih. Sudah tidak lagi seremaja dahulu. Sudah tua dan sebentar lagi rapuh. Terbukti dari asap yang sudah sering keluar dari tubuhnya. Belum lagi kendaraan yang lalu lalang dari matahari terbit sampai tidur kembali. Dan tidak lupa, orang-orang yang terlalu padat dan rapat hingga mereka sulit untuk sekadar menyapa.

Dua tahun lebih berkendara pergi-pulang dari daerah Pettarani menuju Tamalanrea, sudah menghadirkan banyak kisah di kepala saya. Jika dituliskan, sepertinya akan memakan banyak bagian. Namun kali ini saya akan mencoba meringkasnya sejelas mungkin. Makassar menjadi kota urutan kelima terlama yang saya tinggali. Maka terasa sangat sayang jika saya tidak punya satu pun tulisan mengenainya.

Anggaplah saya orang yang takut dengan banyak hal termasuk kematian dan kemacetan. Kemacetan dan kota besar layaknya sepasang kekasih dan rindu. Keduanya jelas tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Jika sedang berkendara dan mendapat macet di jalan (dan sejujurnya memang selalu seperti itu), saya senang memperhatikan para pengendara motor yang seperti segerombolan semut. Menyerempet melewati katak yang tidak bergerak meskipun sudah digigit kakinya. Pengendara motor berkumpul dan saling menyalip. Kemudian meng-klakson mobil yang sedari tadi sangat lamban bergerak padahal setiap inci jalan sangat penting ketika macet tiba. Tidak mengherankan jika kecelakaan sering bermula dari situ. Benar-benar tidak bisa dihindari lagi. Barangkali jika menginginkan kota yang besar atau kota dunia atau apapun namanya, penduduk dan kendaraannya juga harus meningkat lebih banyak. Agar bisa disebarkan di semua daerah atau bahkan negara, bahwa kami ini memiliki perekonomian yang stabil dan cenderung meningkat, makanya banyak uang untuk terus membeli, membeli, dan membeli banyak kendaraan sampai menggemukkan aspal jalanan.

Saya takut dan memang seperti itu adanya. Ketika dalam kemacetan yang mirip dengan hukum rimba itu mulai menggeser sedikit demi sedikit populasi perempuan di masa depan. Mengapa? Sebab dalam berkendara apalagi jalan sedang macet, yang bisa jalan tentulah yang punya fisik baik untuk terus meng-gas dan mengerem motornya. Saya perempuan dan seringkali saya merasa lelah untuk itu. Saya tahu sekarang eranya kesetaraan gender, bahwa perempuan bisa melakukan hal yang sama dengan lelaki. Tetapi jujur saja, dalam masalah kekuatan kita memang kalah banyak dari mereka. Saya mengakui itu bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai suatu tanda bahwa saya masih bersyukur bisa merasakan hal biasa sebagai seorang perempuan. Di kepala saya saat ini sedang berputar suatu tayangan. Tayangan di mana jalanan akan dipenuhi kaum lelaki dan rumah-rumah akan diisi hanya oleh perempuan.

Tinggal di Makassar seringkali membuat saya kewalahan dan ujung-ujungnya menertawai diri saya sendiri. Terkadang ketika ingin berangkat ke kampus pada pukul 10 pagi, saya sudah siap dengan beberapa alat tempur seperti masker, jaket, dan sarung tangan. Hal yang terlalu berlebihan ketika itu digunakan di kota saya dulu. Demi apa yang tidak ingin saya sebut sebagai sumpah, Makassar pukul 10 pagi benar-benar sudah penuh dengan polusi dan panas matahari menyengat. Tidak heran sebagian perempuan yang memegang prinsip “cantik itu mahal”, tidak akan melupakan perlengkapan itu ketika ingin keluar rumah apalagi hanya dengan mengendarai sepeda motor. Dan saya sepertinya masuk dalam kategori sebagian perempuan yang tadi.

Bagi saya, jalanan kemudian menjelma menjadi satu buku pelajaran. Di sana semua bisa dipelajari. Kepekaan, kebahagiaan, dan juga ketakutan bercampur menjadi satu. Seringkali ketika berkendara, saya merasa was-was. Isu bahwa Makassar tidak aman dan hadirnya geng motor semakin membuat saya merapalkan banyak do’a ketika sedang berada di jalan. Beberapa teman saya telah menjadi korban pembusuran dan perampokan. Sepertinya hal ekonomi dan aktualisasi diri pun selalu jadi pembenaran untuk melakukan tindak kejahatan. Sayang sekali.

Berkendara dengan jarak yang terbilang cukup jauh, mau tidak mau membuat saya menyaksikan apapun yang ada di jalanan. Di lampu merah adalah salah satunya. Pemberhentian yang bisa membuat saya bahkan mengamati sepatu masing-masing pengendara motor, sembari menatap mobil yang ada di samping dengan kaca buram dan tertutup rapat adalah kisah yang berbeda. Sekali waktu saya pernah menyaksikan seorang ayah yang mengendarai motor vespa. Ia memodifikasi sedemikian rupa dengan tempat duduk penumpang di sampingnya. Tebaklah siapa yang duduk di sana. Anak balita yang saya perkirakan berumur 4 atau 5 bulan. Dia duduk dengan khidmat dengan ayahnya yang menatap dalam sembari memperbaiki topi milik anaknya yang sedikit miring. Hal itu membuktikan bahwa kasih sayang kadang datang dari perlakuan yang tidak terlalu berlebihan.

Sebelum menyelesaikan tulisan ini, saya ingat bahwa dalam waktu dekat akan ada pertemuan Asean Mayor Forum di Makassar. Kekasih saya yang berpikiran terbuka dan cenderung menyukai negara-negara di luar Indonesia itu, meyakini betul bahwa ini adalah langkah terbaik yang diambil oleh pemerintah Makassar. Sayangnya, saya tidak mengamini itu. Kenyataan bahwa jalan di Pettarani diperbaiki, ditanami tumbuhan yang dipaksakan, dan juga beberapa bendera negara lain yang berkibar di sepanjang jalan ini seperti menjadi luka bagi saya pribadi. Makassar berubah wujud menjadi ibu tiri, negara-negara luar menjadi ayah, dan rakyat dengan ekonomi rendah di Makassar berubah menjadi bawang putih. Ibu tiri akan nampak bahagia ketika ayah pulang. Segala akan dibenahi demi menunjukkan semua baik-baik saja.

Pada akhirnya saya sungguh berharap bahwa ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Bahwa ini semua hanya imajinasi saya. Imajinasi yang sudah melenceng dari apa yang seharusnya. Harapan terakhir saya semoga Makassar bisa terus sehat. Sekalipun sedang tidak sehat, barangkali bisa diberi obat agar tetap hidup untuk generasi yang akan datang. Panjang umur, Makassar!


 

Baca artikel lainnya dari Nurul Fadhillah

Sebut Saja ini Keberuntungan Pemula

Belajar Mengingat Hari Bersama Yetti