Oleh: Nurhady Sirimorok ( @nurhadys )| Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Beberapa tahun silam, seorang ibu rumah tangga meminta saya membawakan baju bekas untuk orang-orang To Balo. Sebelumnya, ia bertutur dengan lancar tentang uniknya komunitas ‘berkulit belang’ itu dan betapa buruk penampakan fisik mereka—sebagaimana ia saksikan di tayangan televisi. Rupanya, hatinya tersentuh usai menyaksikan tayangan tentang ‘komunitas’ itu yang bermukim di pegunungan Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Ia tahu, saya pernah berkunjung dan tinggal sekitar tiga minggu di desa mereka dan mungkin bisa membantu membawakan baju bekas ke sana.

Cerita di atas membawa kita pada pertanyaan, apakah yang benar-benar mereka butuhkan adalah baju bekas? Apakah kesan yang ditangkap ibu di atas tentang To Balo cukup dekat dari kenyataan? Pertanyaan ini penting agar reaksi pemirsa (atau pembaca untuk media cetak) tidak salah arah.

***

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, baiklah secara super ringkas kita lihat dulu bagaimana, kira-kira, pandangan orang kota terhadap orang desa terbentuk, dan apa sumbangsih media dalam hal ini?

Pertama, orang kota lebih punya banyak peluang untuk memberi penjelasan terhadap apa yang terjadi di desa. Mereka didukung banyaknya sumber daya dan media. Di perusahaan koran dan televisi, orang-orang yang mengerjakannya hampir seluruhnya adalah orang kota, atau paling tidak telah mengadopsi gaya hidup atau cara pandang urban terhadap orang desa. Sehingga, kita bisa bayangkan, media—dan pranata-pranata buatan kota lainnya—cenderung bisa memaksakan sudut pandangnya, meski memang tidak selalu secara sengaja. Tapi hasilnya tetap sama, wajah desa yang kita lihat di media massa adalah ‘wajah desa versi orang kota’.

Kedua, media selalu datang dengan membawa fokus liputan mereka untuk ditimpakan ke komunitas yang akan diliputnya. Setiap pengambilan gambar, aktivitas atau ikon, mereka akan berpegang pada fokus tersebut, yang bisanya dibuat sebelum betul-betul berada di lapangan. Padahal, fokus atau tujuan peliputan ini sering tidak mewakili keadaan desa yang sebenarnya, atau setidaknya mendekati.

Ambil contoh kasus Komunitas To Balo di atas. Pertama, desa itu adalah sebuah kawasan administratif bernama Desa Bulo-Bulo yang terdiri dari beberapa dusun. Kedua, orang di sana menyebut asal diri mereka mengikuti nama dusun tempat mereka tinggal (To Lappa Temmu, To Maroangin, dan lain-lain). Ketiga, jumlah penduduk desa itu berkisar 1.720 jiwa dan jumlah yang berkulit belang kini hanya 5 orang. Jadi, desa itu bukan hanya diisi orang berkulit belang, sehingga mereka tidak dapat direduksi menjadi ‘hanya’ dan menyebutnya sebagai komunitas To Balo.

***

Pencitraan ala media tentu tidak bekerja sendiri. Sayangnya, sebagian besar orang kota datang ke desa untuk mencari masalah dan yang paling getol untuk kerja semacam ini adalah para akademisi. Selalu ‘turun ke lapangan’ (berarti mereka dari ‘atas’) dengan ‘tujuan penelitian’ (mungkin beda dengan tujan hidup warga desa) dan ‘rumusan masalah’ (biasanya jarang mencari solusi). Dalam bukunya, Rural Development: Putting the Last First, Robert Chambers menulis bahwa, “para akademisi dilatih untuk mengkiritisi dan malah dihargai untuk kritikannya. Terkhusus para ilmuwan sosial, mereka diajari untuk mengajukan argumen dan menemukan kesalahan…aturan mental mereka bersifat evaluatif.” Kecenderungan itu juga mereka bawa hingga ke lapangan. Maka wajar bila pada akhirnya desa akan ditampilkan oleh mereka sebagai taman masalah. Ketimbang melihat secara seimbang hal-hal baik yang juga ada di desa.

Dapat dibayangkan, kecenderungan ini pun mempengaruhi pranata orang kota lainnya, termasuk media. Dari laporan-laporan penelitian, tesis-tesis, disertasi-disertasi, cerita tentang desa dan masalah terus menyebar dan membentuk cara pandang kota terhadap desa. Lama-kelamaan orang kota menganggap diri semakin superior. Sebaliknya, orang desa lambat-laun percaya bahwa mereka memang inferior.

Satu contoh, dalam sebuah Diskusi Kelompok Terfokus, saya menanyai sekelompok siswa-siswi SMU dari sekitar 10 sekolah di tiga Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan: Apa yang terlintas di pikiran mereka ketika mendengar kata petani? Di antara jawaban yang keluar adalah: miskin, tertinggal, bodoh, kotor, dan sebagainya. Itulah pencitraan yang akrab bagi generasi muda urban terhadap petani di desa. Jadi, sebenarnya image tentang desa telah terbentuk, dan menyaksikan tayangan tentang To Balo seperti di atas hanya mempertegas asumsi-asumsi yang selama ini mereka, anak-anak urban itu, telan bulat-bulat.

Kita kembali lagi kepada pertanyaan, apakah asumsi orang-orang kota di atas sesuai dengan kenyataannya? Apakah mereka memang menginginkan baju bekas?

Kepala desa Bulo-bulo, tempat To Balo [orang berkulit belang] itu tinggal, pernah menyatakan kejengkelannya pada saya. Ia bilang, “orang kota selalu datang dengan membawa sumbangan baju bekas yang kadang-kadang sudah tidak layak pakai.” Ia menegaskan, “Kalau hanya baju bekas, Insyaallah kami tidak akan kehabisan.”

***

Jika penampakan fisik orang Bulo-Bulo terlihat ‘lusuh’ bagi orang kota, itu wajar. Mereka adalah petani desa. Hidup mereka sehari-hari dipenuhi dengan aktivitas pertanian. Adalah sebuah pemborosan dan kebodohan untuk berpakaian ‘bersih dan rapi’ dalam aktivitas keseharian mereka. Mereka bahkan punya bola koko (Rumah Kebun) untuk terus-menerus menjaga ladang dan sawah di musim tanam hingga panen. Bahkan dulu, sebelum diperkenalkannya ‘rumah kampung’ oleh beberapa penduduk yang telah berinteraksi dengan orang kota, mereka tinggal di bola koko, dan berpindah-pindah mengikuti berpindahnya lahan pertanian mereka.

Seorang petani bahkan pernah mengeluh dalam bahasa daerah yang kira-kira terjemahan bebasnya adalah: “Orang kota itu selalu memandang kami kotor karena selalu terlihat berlumpur. Padahal mereka tidak menyadari bahwa makanan yang mereka makan itu ada karena kami berkubang dengan tanah.”

Di sisi lain, orang kota dalam banyak aktivitasnya dituntut untuk senantiasa berpakaian rapi, karena itu akan membuat mereka merasa ‘nyaman’ berada di kantor, di sekolah-sekolah, di pusat-pusat perbelanjaan, atau pun di jalanan. Tiap hari mereka disuguhi tontonan TV dan koran yang berjejal iklan yang memperlihatkan orang dalam balutan busana yang ‘rapi’ atau lazim menurut standar orang kota.

Singkatnya, mereka berada pada dua kutub budaya yang beda. Kesalahpahaman seperti kasus baju bekas di atas terus berlangsung dalam bentuk yang berbeda-beda. Informasi yang tiba di kota tentang orang desa cenderung tidak lengkap, tidak akurat, atau bahkan bertolak belakang. Dan hingga kini, belum ada upaya yang cukup memadai untuk membuat interaksi sosial di antara kedua belah pihak berjalan seimbang dan sehat.

Bahkan, dengan semakin menjalarnya gurita teknologi, urbanisasi justru semakin tajam. Orang-orang desa mulai menikmati media televisi dan koran. Setahun lalu, di desa itu, televisi sudah mencapai dusun yang terdekat dari kota. Pembangunan jalan sedang berlangsung, tiang listrik kemungkinan juga segera menyusul.

Akan sangat menarik untuk mempelajari bagaimana orang di Desa Bulo-Bulo atau desa-desa lainnya menghadapi serbuan teknologi dan gaya hidup urban. Akankah media menjadi berkah atau bencana bagi mereka? Akankah mereka beramai-ramai melepaskan cangkul dan parang untuk pergi bekerja sebagai penjaga toko di kota, sebagaimana yang terjadi pada banyak anak-muda-desa sekarang ini? []


Baca tulisan lainnya terkait dengan Nurhady Sirimorok

Oto Kandang Puyu

Pelajaran Pertama tentang Berkarya

Dari Kopi Hingga Hal-Hal Ganjil

Maniang dan Sekolah Barunya

Terbebas dari Konsumtif, Orang Tua adalah Kunci

Belajar Pacaran dari Noam Chomsky