Teks: Weny Mukaddas | Ilustrasi : A. Rarabidja

Teror menjadi semacam tren di era yang katanya modern. Sensitivisme spiritualitas masa kini seolah-olah membawa kita kembali ke zaman jahiliyah. Tidak pernah terduga bahwa di era millenial di mana intelektualitas seharusnya semakin berkualitas namun kita masih berkoar-koar tentang mana agama yang paling benar.

Bentuk-bentuk terorisme ini telah mencuat bahkan di kelompok-kelompok terkecil masyarakat saat ini. Saya kemudian teringat tentang curhatan seorang teman saya yang ingin menghadiri acara doa salah satu paham agama yang cukup kontroversial di dunia. Tak pernah ia sangka akan merasakan hal-hal yang selama ini hanya ia lihat di layar televisi.

Acara doa itu dilaksanakan di Gedung Balai Prajurit Jenderal M. Yusuf. Tepat pukul tujuah dia mencoba melangkah masuk ke gedung. Dari kejauhan dia telah melihat sekumpulan orang berbaju putih. Saat mendekati gerbang, dia disorak-soraki oleh sekelompok orang tersebut. Tiba-tiba saja dia dicegat di depan gerbang.

Orang-orang itu berkata,”Kafir.”

“Tidak usah masuk ke dalam.”

“Mending pulang saja, dik.”

“Acaranya batal.”

Teman saya kemudian berjalan terus, menghindari sekelompok orang itu. Dia lalu bertemu dengan seorang laki-laki bersama istri yang menggendong anaknya. Ibu itu berkata,”Ayo lewat samping saja, Insya Allah kita akan terus terlindungi oleh kebaikan yang ingin dijalankan.” Teman saya segera saja mengikuti ibu tersebut dan akhirnya sampai di dalam gedung lewat gerbang samping. Dengan lega ia menjalani ibadah dan berdoa. Sempat pula ia mendengar bisik-bisik tentang kekacauan di luar gedung. Namun, saat pulang dari tempat itu, ia tak melihat ada sekelompok orang berjubah putih lagi.

Saat itu teman saya merasa ingin menangis dan ketakutan. Baru kali itu dia merasa diteror dan diancam, walaupun tak disentuh. Parahnya, yang menerornya adalah orang-orang yang menurutnya memiliki agama dan Tuhan yang sama dalam Islam. Tak pernah ia berpikir akan diancam oleh orang-orang yang mengaku beragama Islam yang taat. Belakangan dia ketahui bahwa sekelompok orang itu menamakan diri “Front Pembela Islam”.

Dri kejadian tersebut kemudian menjadi kenyataan buruk yang tiba-tiba menjadi hal yang harus diwaspadai setiap orang. Teror menjadi tak jelas definisinya dan dilakukan oleh kelompok-kelompok yang merasa tingkat spiritualnya lebih tinggi dari orang lain. Hukum Negara bahkan hampir tak mampu menanggulangi teror semacam yang teman saya alami di atas. Negara kita menjunjung tinggi pancasila yang dua silanya berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Saya menafsirkan bahwa pengejawantahan sila ini yaitu kita wajib beragama dan memiliki kebebasan beragama. Semua praktek-praktek agama seharusnya dilindungi oleh negara dari ancaman-ancaman teror. Selain itu, masyarakat Indonesia mempunyai norma tentang berbudaya dan menghargai agama orang lain. Seharusnya tidak akan ada teror yang dialami oleh orang-orang yang sedang beribadah. Saya teringat kata-kata Quraish Shihab pada salah satu acara televisi, Liputan 6 Pagi SCTV, Jumat (21/4/2017), “Salah satu inti ajaran agama itu adalah kesatuan. Bermula dari keyakinan tentang maha esanya Tuhan sampai pada kesatuan kemanusiaan, kesatuan berbangsa, bahkan kesatuan jati diri manusia.”

Maka wajar saja jika saya berkata bahwa setiap lini masyarakat harus waspada dengan ancaman atau teror jika negara tak mampu menepati janji tentang kebebasann beragama. Kita semakin tak berdaya dengan kemunculan teror-teror yang mengatasnamakan agama termasuk agama Islam yang kini cukup buruk citranya di dunia internasional. Media-media nasional pun internasional semakin gencar memberitakan teror dimana-mana.

Titik penting yang harus ditanamkan ke masyarakat adalah paham bahwa kemajemukan dalam berbangsa bukanlah masalah. Kemajemukan justru harusnya menjadi kekuatan bagi masyarakat untuk menanggulangi masalah-masalah yang lebih penting dipikirkan semisal pendidikan dan kemiskinan. Kemajemukan berarti perbedaan budaya dan pemikiran yang mampu melahirkan solusi yang lebih sempurna dan kompleks.