Oleh: Kemal Syaputra ( @Mr_Kems )

Kita semua paham bahwa USA is not that great. Statusnya sebagai negara adikuasa menjadikannya negara yang paling sering dicurigai sebagai dalang dari berbagai isu internasional. Menjadi salah satu negara yang paling sering dimusuhi dan dikecam. Maka tidak salah jika Amerika patut berterima kasih kepada para sutradara Hollywood, karena mereka selalu berhasil memperlihatkan sisi termanis dan terbaik Amerika.

Steven Spielbeg, mungkin salah satu dari sekian banyak sutradara dari Hollywood yang senantiasa berjuang mengharumkan nama bangsanya. Sementara para prajurit Amerika berjuang di medan perang sebagai bentuk pengabdian mereka, maka Spielberg menjadikan film-filmnya sebagai bentuk patriotisme-nya. Kini, lewat karya terbarunya, Bridge Of Spies, lagi-lagi tak peduli seberapa getirnya kita terhadap Amerika, kita akan tetap tersentuh dengan pesan universal yang dikandungnya. Walaupun ini bukan kali pertama Spielberg mengangkat isu kemanusiaan yang seperti ini. Sebelumnya, kita pernah merasakan hal yang serupa lewat Schlinder’s List dan Bridge Of Spies adalah kisah berharga yang patut diceritakan.

Berlatar di Amerika Serikat pada masa perang dinginnya melawan Rusia, Bridge of Spies merupakan kisah nyata seorang pengacara asuransi, James B. Donovan. Di awal kemunculannya, Donovan sepertinya begitu handal dan lihai dalam menangani kasus-kasus asuransi kliennya. Dia praktis, tapi juga analitik. Hingga suatu hari Donovan diminta untuk menangani kasus yang bukan areanya, sebuah kasus kejahatan di mana ia harus membela mata-mata Rusia berkebangsaan Jerman, Rudolph Abel, yang ditangkap oleh FBI.

Sementara semua publik, praktisi hukum, bahkan hakim menginginkan Abel dihukum mati –kecuali jika Abel bersedia bekerjasama dengan pemerintah Amerika– Donovan justru menaruh simpati terhadap Abel. Ia melihat Abel seutuhnya sebagai manusia yang kasusnya layak diperadilkan secara adil, dan memperjuangkannya agar tidak dihukum mati. Sikap Donovan ini membuat massa geram, mengecam dan meneror keluarganya.

wpid-5571c8aeca2dc24e4d2635c3_bridge-of-spies-trailer1

Bridge of Spies merupakan kisah nyata seorang pengacara asuransi, James B. Donovan.

Di belahan dunia lain, seorang prajurit Amerika, Francis Gary Powers, tertangkap oleh pihak Rusia karena tindakan spionase, sementara di Jerman Timur, seorang mahasiswa Amerika, Frederic Pryor, ditangkap karena mencoba menyelamatkan pacarnya mengungsi ke Jerman Barat. Di sinilah kegigihan Donovan memperjuangkan hidup Abel memperlihatkan faedah. Pihak Amerika mengutus Donovan ke pihak Rusia untuk berunding menukar Abel dengan Powers, tapi Donovan tak cuma ingin mendapatkan kembali Powers, ia juga ingin berunding dengan pihak Jerman untuk mendapatkan kembali Pryor.

Bridge Of Spies adalah sebuah kisah yang kompleks, namun dibuat sesederhana mungkin. Sebenarnya ada banyak ruang untuk mengenal lebih dalam dan jauh profil pribadi Donovan dan Abel, serta proses persidangan yang mereka jalani, ada ruang untuk melihat profil pribadi Powers dan Pryor, ada ruang untuk melihat detail kecemasan massal masyarakat Amerika terhadap nuklir Rusia, ada ruang untuk melihat lebih jelas kebencian massa terhadap Donovan, tapi Matt Charman dan Coen Brothers yang duduk di kursi penulis cerita, tidak membawa kita ke situ.

Mereka memperlakukan kisah film ini sebagaimana mereka memperlakukan karakter Donovan; lurus dan fokus. Bukan berarti kisah Bridge Of Spies adalah milik Donovan semata, tidak, mereka menjadi cermin satu sama lain, antara karakter utama dengan cerita. Ketika Donovan menangani kasus Abel hingga proses usaha penukarannya, ia memperlihatkan kegigihan dan fokus semata, bahkan ketika pemerintah Amerika tidak mendukung keinginannya untuk ikut menyelamatkan Pryor juga. Donovan tidak membiarkan siapapun bahkan apapun mengusik usahanya, tidak. Bahkan untuk ketakutan keluarganya serta kecaman dan ancaman ekstrim dari massa. Itu sebabnya, ceritanya pun bergulir demikian, tanpa terganggu oleh sub-konflik yang lain. Inilah yang menjadikan Bridge Of Spies sebagai salah satu karya paling humble dari Spielberg. Ada banyak sub-karakter di dalamnya, tapi Spielberg tidak mengijinkan mereka menciptakan terlalu banyak sub-konflik yang mampu mengusik. Fokus Spielberg hanya ingin agar pesan di balik ceritanya tersampaikan dengan benar bagi penonton, tanpa harus terlalu banyak menganalisa.

 Donovan tidak membiarkan siapapun bahkan apapun mengusik usahanya, tidak. Bahkan untuk ketakutan keluarganya serta kecaman dan ancaman ekstrim dari massa.

Donovan tidak membiarkan siapapun bahkan apapun mengusik usahanya, tidak. Bahkan untuk ketakutan keluarganya serta kecaman dan ancaman ekstrim dari massa.

Saya kerap mendengar orang-orang mengeluhkan aktor-aktor yang sepanjang hidupnya terjebak pada karakter/akting yang sama, Leonardo DiCaprio, Jason Statham, Katherine Heigl, misalnya. Tapi saya tak pernah mendengar seseorang mengeluhkan acting Tom Hanks, walaupun dari dulu hingga kini selalu memainkan perannya dengan cara yang sama, pria biasa-biasa saja dengan sentuhan karisma. Entah peran-peran tersebutlah yang membentuk siapa Hanks kini, atau Hanks-lah yang membentuk sendiri peran-peran tersebut. Sama halnya ketika membawakan peran Donovan, Hanks tetaplah Hanks, tak ada yang berubah darinya, ia cukup menjadi dirinya sendiri untuk memerankan Donovan.

Mudah untuk mengagumi Donovan, semudah mengagumi peran-peran Tom Hanks yang lain. Ia visioner, tajam, dengan selera humor yang spontan. Donovan tahu betul apa yang ia ingin lakukan, ia mampu melihat kejadian yang bisa saja terjadi di masa datang saat pihak Amerika justru gagal mengantisipasinya. Ia mampu membaca peluang dan memanfaatkannya, segalanya mampu ia perhitungkan dengan baik berkat pengalamannya sebagai pengacara asuransi, dan ia melihat kasus Abel seperti kasus asuransi, sembari dilatari rasa kemanusiaan. Karakter Abel, menjadikan Dovonan bukan satu-satunya karakter yang love-able di sini.

Abel yang tua, Abel yang tenang. Bukan jenis tenang yang bengis, melainkan tenang yang tenteram. Wajahnya menyiratkan kelembutan, dia tidak menampakan kecemasan apapun, seolah-olah telah bersiap untuk apapun sejak lama. Berdua, mereka menjalin ikatan profesional yang menyentuh. Amerika dan Rusia boleh saja berperang dingin, tapi hubungan pengacara-klien ini terus berjalan hangat. Keduanya menjunjung martabat negara mereka dengan cara masing-masing

Mudah untuk mengagumi Donovan, semudah mengagumi peran-peran Tom Hanks yang lain. Ia visioner, tajam, dengan selera humor yang spontan.

Mudah untuk mengagumi Donovan, semudah mengagumi peran-peran Tom Hanks yang lain. Ia visioner, tajam, dengan selera humor yang spontan.

Akan selalu ada orang-orang yang tidak menyukai apa yang kita kerjakan, entah apa yang kita kerjakan baik atau benar. Bagi Donovan, Lakukan saja, selama tetap mengetahui apa yang dikerjakan. Kira-kira itulah yang ingin disampaikan Spielberg, pesan klasik yang kerap kita temukan di berbagai judul film. Tapi, Spielberg bukan cuma ingin bercerita, ia juga punya sosok nyata dan panutan yang ingin ia perlihatkan dan kenalkan ke dunia. Sama halnya sosok Oskar Schlinder yang Steven Spielberg kisahkan di Schlinder’s List. Lewat Donovan, ia juga ingin menginspirasi kita, mengingatkan kita, bahwa dalam setiap masa di mana tragedi kemanusiaan sedang berlangsung, selalu ada sosok-sosok seperti mereka yang memperjuangkan hak asasi manusia.

Bridge-Of-Spies-One-Sheet_REVIUSJudul: Bridge of Spies| Sutradara: Steven Spielberg | Tahun rilis: 2015 | Genre: Drama |Rating : 3.5 / 4 Stars

Baca ulasan film lainnya dari Kemal Syaputra

Cermin Dunia Pendidikan Masa Kini

Selera Humor yang Terpelihara di Tengah Kemelut Bertahan Hidup

Ego yang Lenyap dalam Hati Bajrangi

Kesedihan di Tengah Tawa

Roman Hitam Putih Kehidupan Siti

Kegilaan Superhero yang Ingin Tenar Kembali