Kayla dan saya, jarang bertemu. Di pagi hari ketika saya masih tertidur, ia sudah berangkat ke sekolah. Ketika ia pulang, kami masih punya waktu bertemu selama sejam sebelum saya berangkat ke studio. Di malam hari ketika saya pulang, ia sudah terlelap. Kayla adalah keponakan saya. Kami tahu caranya bermain-main ketika punya waktu bersama. Sering kali kami berkomunikasi dalam logat Malaysia yang dibuat-buat, itu karena kesenangannya menonton serial kartun Upin Ipin.

Saya percaya hubungan ini tidak hanya terjadi pada saya dan Kayla. Ada banyak om dan tante di luar sana yang mengalami hal serupa bersama keponakannya, belum lagi para ayah yang menghabiskan waktu sebagai pencari nafkah. Dan sebagai manusia yang hidup di perkotaan, kita melihat ini sebagai sesuatu yang biasa. Jam kerja yang panjang adalah hal yang lumrah, tidak lumrah adalah jika gajinya kecil, atau waktu lembur tak dibayar. Saking lumrahnya, kita lebih senang mendemokan kenaikan upah ketimbang menurunkan jam kerja. Sementara itu, pemerintah kerap berusaha mengurangi jam belajar anak-anak di sekolah, tapi sekali pun jam belajar mereka berkurang, mereka akan bermain dengan siapa jika orang tua dan om-tantenya tak pernah meminta pengurangan jam kerja?

Saya pun melihat proses tersebut sebagai hal yang lumrah hingga akhirnya saya menyaksikan sebuah film dari Bengal, India bagian timur. Judulnya, Labour of Love. Ceritanya bukan tentang om dan ponakan yang sulit bertemu, melainkan sepasang suami isteri yang kesulitan bertemu karena jam kerja yang berbeda dan panjang di kota Kalkuta. Suami istri ini tak disebutkan namanya di dalam film. Tentu saja, bukan untuk menjaga privasi mereka dari masyarakat, namun film ini memang tidak memiliki dialog. Lagipula, orang yang tidak saling bertemu mana bisa saling bercakap? Jangan bawa-bawa ponsel, jam kerja dilarang menggunakan ponsel.

Filmnya dibuka dengan wajah pagi hari yang sunyi di mana si istri keluar dari rumah yang ada di lantai tiga, sepertinya rumah kontrakan. Mereka tinggal di pemukiman dalam himpitan gang. Si istri berjalan kaki, dari lorong ke lorong, sesampai di jalan besar, ia naik trem, beberapa menit kemudian ia turun lagi, lalu mengambil bis untuk sampai ke pabrik tempat ia bekerja. Serupa di kota ini, di mana banyak pemukiman yang padat sehingga menciptakan banyak lorong. Seorang karyawati, misalnya, mungkin harus berjalan kaki melewati lorong-lorong hingga akhirnya menemukan pete-pete, lalu sambung pete-pete lagi.

Kamera lalu berpindah, masih dalam nuansa pagi, menyorot seorang pria di dalam rumah. Duduk sendiri, lalu kemudian memakan kudapan. Kudapan yang sama yang dimakan sang istri di atas trem. Kudapan tersebut yang membuat saya menebak pria ini adalah si suami. Film adalah sebuah medium besar untuk menangkap sebuah fenomena, dan di saat yang sama medium yang kecil untuk diisi banyak petunjuk. Itu sebabnya saya menyimpulkan kedua orang ini adalah suami istri melalui kudapan tersebut walau sedang tidak berada dalam satu adegan. Si suami lalu beranjak ke dapur, mengecek makan siang yang dibuatkan oleh si istri sebelum berangkat kerja. Ia lalu mandi, lalu berangkat ke pasar membeli bahan makanan lainnya dari uang hasil menjual jam tangannya sendiri.

Selebihnya adalah adegan-adegan yang memperlihatkan sang isteri menghabiskan waktu sebagai pegawai administrasi di sebuah pabrik tas dan sang suami yang menghabiskan waktunya beraktivitas di rumah. Sang istri bisa jadi korban dari negara-negara maju seperti Amerika yang biasanya membangun pabrik-pabrik di negara-negara berkembang, seperti India, untuk produktivitas yang maksimal dan karyawan yang bisa digaji murah. Saya sempat mencurigai suaminya adalah seorang pengangguran, berpikir bahwa ini adalah cerita gender-swap, bagaimana kehidupan pekerja perempuan di India ketika suami mereka pengangguran dan mengambil peran sebagai ibu rumah tangga. Tapi, dugaan saya salah ketika sore menjelang di dalam film. Sang istri bersiap untuk pulang mengambil rute yang sama, si suami mulai berbenah diri hendak ke suatu tempat. Ketika istrinya sampai di rumah, si suami sudah berada di jalan mengayuh sepeda menuju pabrik koran. Mereka sama sekali tak bertemu, karena perbedaan pembagian waktu kerja.

Kelelahan dari perjalanan jauh setelah lepas dari pekerjaan panjang, tak membuat si isteri bisa berishtirahat santai di rumah. Ini bukan kesalahan suaminya. Percayalah, ini kesalahan bapak suaminya, kakeknya, kakek buyutnya, hingga seterusnya; ini kesalahan ibu si istri, neneknya, nenek buyutnya, hingga seterusnya yang mengajarkan bahwa perempuan tugasnya adalah mengurus rumah, tidak peduli dia juga punya pekerjaan di luar rumah untuk menghidupi keluarga. Perempuan diberi beban ganda. Setiba di rumah, si istri mencuci, menjahit pakaian suaminya, mengambil cucian kering, melipat, memasak. Untunglah mereka belum memiliki anak. Siapa pun yang menentang aborsi, semoga menyaksikan film ini.

Malam-malam yang dihabiskan sang istri sendiri di rumah, justru dihabiskan sang suami di pabrik. Ketika subuh menjelang, sang istri bangun lebih awal, tentu saja bukan untuk shalat lima waktu. Bukan cuma umat muslim saja yang bangun pukul empat subuh. Istrinya bangun untuk mempersiapkan sarapan, makan siang, dan bekal untuk dirinya dan suaminya di pabrik nanti. Bekal yang akan dimakan pukul delapan malam, disiapkan di pukul empat atau lima pagi.

Cerita di atas sungguh terasa kejam. Sepasang suami-istri ini hidup dalam kemiskinan yang hampir tak berujung, bahkan ketika mereka berdua sama-sama bekerja. Beban ganda yang harus ditanggung sang istri menunjukkan bahwa ia bekerja bukan karena independen, melainkan karena gaji suaminya tak cukup untuk biaya hidup mereka. Adegan saat sang suami menjual jam tangan juga menunjukkan bahwa mungkin di tengah bulan, gaji mereka sudah habis, sebagian besar mungkin untuk biaya transportasi istrinya ke pabrik. Ini memperlihatkan betapa ruwetnya hidup miskin di negara berkembang. Jam kerja yang panjang, pabrik yang menuntut produktivitas, gaji yang rendah, dan transportasi yang buruk.

Syukurlah mereka tidak memiliki anak, saya pikir lagi-lagi ini bukan karena mereka pasangan yang liberal a la orang-orang Amerika yang menikah bukan karena menginginkan anak. Himpitan ekonomi saya rasa jadi penyebab utamanya. Anak-anak mestinya lahir dengan jaminan sejahtera, jika mereka lahir dalam lingkungan yang melarat, bisa jadi mereka hanya ditelantarkan. Dan mungkin, ini jugalah yang diyakini sepasang suami istri ini.

Belakangan saya mengetahui bahwa film ini diinspirasi dari cerita pendek karya penulis asal Italia, Italo Calvino, berjudul The Adventure of the Married Couple. Cerpen ini bisa ditemukan dalam antologi berjudul Difficult Love, antologi yang bertemakan cinta dan kesulitan berkomunikasi. Cerpen ini pernah juga diangkat menjadi film pendek karya sineas Iran, Keywan Karimi, berjudul Zan va Shohar Karegar. Cerpen yang bisa diterjemahkan dalam bentuk karya yang lain oleh negara lain memperlihatkan keluwesan isu universal yang dikandungnya.

Serupa dengan cerpen yang ditulis Calvino, Labour of Love berusaha mengedepankan romantisme yang pahit. Ini romantis karena mengangkat sepasang suami istri yang dilanda rasa rindu setiap hari. Tapi, rindu jelas selalu menyiksa. Apalagi jika rasa rindu itu akibat ketidakberdayaan sebagai kelas pekerja. Lebih sedih lagi, sebab menjadi siklus yang normal dalam keseharian mereka. Sesuatu yang normal, senormal jika mereka merasa lelah sepulang dari pabrik. Saya tak menyalahkan mereka karena berada di film yang bukan tentang perjuangan menuntut perubahan hidup. Mungkin kitalah yang, sebagai penonton, diharap bersikap peka terhadap apa yang mereka alami.

Seorang teman saya yang berasal dari Jakarta pernah berujar, kerja di Jakarta itu membuat stress. Tapi, setiap akhir pekan, rasa stress itu terbayar dengan liburan, karena di sana, hiburan apapun yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Saya jadi menduga-duga akan seperti inilah selalu siklus kehidupan sebagai pekerja kelas bawah di kota besar, pekerjaan yang diembankan kepada kita, tak peduli seberapa berat dan menjemukannya itu. Karena kita merasa bahwa hiburan yang kita peroleh di akhir pekan merupakan ujung yang sepadan.

Mungkinkah ruang-ruang hiburan, termasuk produk-produknya, diciptakan sebagai sebuah konspirasi agar kelas pekerja tidak menuntut padatnya pekerjaan mereka? Jam kerja mereka? Mungkinkah itu semua diciptakan untuk melemahkan kepekaan kita akan arti kebebasan dan menerima segala beban sebagai sesuatu yang wajar? Pekerjaan seringkali kita anggap sebagai rutinitas melelahkan, menjauhkan kita dari passion. Lalu, saat akhir bulan menerima upah, Anggapan-anggapan itu kemudian kita abaikan, diterima sebagai kenormalan. Karena kita percaya, mimpi tak bisa menyokong kehidupan.