oleh: Bachry Ilman (@mayunexisted)

Sore di hutan yang rimbun, seekor gagak meletakkan sayapnya di tepi telaga jernih, menghapus dahaganya setelah seharian bergelut dengan perut yang sudah dua hari tidak berhenti menggerutu. Habis beberapa teguk, ditegakkan kepala beratnya yang tertumpuk lelah –setelah lama menunduk– tepat di antara kedua sayup matanya. Tidak habis fikir si gagak malang, malam menjelang harinya masih saja menjelaga.

Dipandanginya dua Tekukur yang riang pulang ke sarang dengan wajah muram, lalu dipandanginya pepohonan hijau di sekeliling telaga yang mulai memantulkan cahaya kuning tembaga. Sekali lagi tertunduk, sejenak si gagak menghilang dalam lamunannya. Sang ratu malam sudah menyatakan tahtanya, tapi si burung hitam nan murung masih hitam dalam angan-angannya.

Tepat ketika rembulan tersenyum tepat di atasnya, si gagak melihat bayangan dirinya di dalam telaga. Dia menyaksikan pantulan bayangan dirinya dari matanya yang  kuning di telaga nan jernih melihat wajah muramnya. Diperhatikannya dengan seksama.

Dengan mata yang nanar si gagak mulai berbicara pada banyangan di telaga, “Kau yang bukan diriku, mengapa engkau bersedih? Apa yang kau lakukan di bawah sana? ” Mengharapkan jawaban, si gagak menatap dirinya semakin tajam. Namun hanya suara burung hantu yang memulai malamnya menggema di udara. Dipalingkan paruhnya dari telaga, dihentakkan sayap lemahnya, ketika udara mengangkat kedua sayap dan kakinya meninggalkan tanah, samar-samar dia mendengar suara,

“Tinggallah sebentar lagi, aku belum puas memandangmu” Terhentaklah si gagak, dengan segera dia hentikan mengudara dan kembali ke tempatnya tadi terdiam. “Mendekatlah, wahai burung hitam pemurung”

Dengan enggan si gagak memberanikan dirinya menengok kembali ke dalam telaga. Namun, tidak ada sesuatupun kecuali bayangan hitam bermata kuning yang terpantul dari dirinya di sana. Sejenak terdiam si burung hitam malang memandang dalam-dalam bayangan murung di depannya, lalu berbalik dengan lesu kembali mengudara di keheningan malam gelap, segelap helai-helai bulunya namun tidak sekelam harinya.

Diteguk liurnya sendiri, biar mengalir ke perutnya  yang berontak, setiap kali ia higgap di dahan-dahan berharap ada sesuatu mengobati laparnya. Sampai di satu dahan yang besar dengan lubang yang besar pula di pangkal batangnya. Seekor burung hantu menghampirinya dari dalam lubang. Si gagak hanya tergagap dengan perutnya yang fasih berceloteh.

Si burung hantu lalu berkata “Pergilah ke ujung dahan itu, hentikan gemuruh di perutmu” Gagak murung hanya menoleh sebentar lalu tertunduk lagi. Si burung malam semakin mendekat ” Kau tahu, kau baru saja memberi makan pemakan serangga seisi hutan” Tetap tertunduk sang gagak hanya menggeleng lemah. “Kau pantas menikmati jerih payahmu, jangan sampai perut-perut rakus mendahuluimu”. Si gagak lalu berkoak tajam, menggema ke seluruh hutan di udara malam yang pekat, lalu terbang menghilang dalam legam.

***

Ketika sang ratu malam menangguhkan singgasananya dan sang raja hari bertahta di keesokan harinya, seekor perkutut membawa pesan kepada seluruh burung-burung di hutan rimbun bahwasanya ia melihat seekor gagak tergeletak tidak bernyawa di sisa tumpukan laron hasil pesta makan besar pemakan serangga semalam.

Seketika burung-burung pun berkumpul mengelilingi bangkai sang gagak yang mati kelaparan di tengah tumpukan serangga yang biasa menjadi makanannya. Di tengah gerombolan burung yang berduka di barisan paling belakang dua ekor tekukur tertawa dan saling berbisik “lihatlah si bodoh itu, dia mati kelaparan di tengah tumpukan makanannya sendiri” beberapa ekor lain cekikikan mendengarnya.

Tidak lama menjelang si burung hantu tua datang, lalu menatap tajam burung-burung yang cekikikan itu hingga terdiam dan maju menembus kerumunan. Tepat di samping bangkai sang gagak, sang burung hantu tua lalu berseru “Aku menyaksikan sebuah kebodohan” semakin banyak yang tertawa, bahkan ada yang sampai terbahak-bahak.

“Kebodohan dari mereka yang tidak tahu berterima kasih apalagi bersyukur” si burung hantu melanjutkan dengan tajam.

“Apa yang kalian tuai semalam adalah benih dari dia yang engkau tertawakan sekarang” sebagian burung terdiam sebagian yang lain masih terkikik.

“Laron-laron yang kalian makan semalam merupakan keringat dari bangkai yang kalian kerumuni sekarang”  semua burung lalu terdiam, begitu pun yang terisak

“Apa maksudmu? atas dasar apa kau berkata demikian?” tanya seekor beo di tengah sunyi.

“Mataku yang awas menyaksikan segala kejadiannya sedari tiga hari yang lalu. Pendengaranku yang tajam mendengar apa yang sulit kalian dengar, dan hanya terjaga dari yang terlelap mengerti apa yang sedang terjadi” jawab sang burung tua tenang.

“Baiklah burung tua, sampaikanlah pada kami apa yang hendak engkau sampaikan” balas tekukur yang tadi tertawa.

Si burung hantu lalu menatap tajam ke arah tekukur yang memang bermulut besar, menutup mata, menggelengkan kepala lalu mulai bercerita…

“Jikalau bukan gagak malang ini, atas kerja kerasnya yang tanpa keluh kesah, langit tidak akan menitihkan air mata dua hari lalu, bukan lain karena tersentuh olehnya”

“Jikalau bukan karena dia bulan takkan secerah semalam dan tidak pernah sekalipun sepanjang hidupku melihat bulan secerah semalam dan mengundang laron-laron serta serangga lain memenuhi angkasa”

Belum sempat si burung hantu menyelesaikan tuturnya, si tekukur memotong “Ayolah mana mungkin ada kejadian seperti itu”

“Iya itu hal yang sangat tidak mungkin, Tuhan sudah menakdirkan bahwa semalam seperti itu, maka malam seperti itu, begitu juga laron-laron yang keluar dari tanah dan memenuhi hutan semalam. Tidak mungkin si gagak yang tolol itu membuat laron-laron datang karena hujan dan bulan yang bersinar terang yang juga menurutmu karena dia, itu tidak mungkin”  sambung si beo.

“Apa saya pernah bohong kepada kalian?” tanya si burung hantu

Burung-burung menggelengkan kepala.

“Ayolah, burung tua. Mungkin saja kau sudah pikun, makanya kau bisa buat kesalahan besar seperti itu” teriak si beo mencibir.

Si burung hantu lalu tersenyum dan berkata ” yah, itu mungkin” dengan nada yang tenang.

“Lihat! kau mengakuinya sendiri” si beo menaikkan nada suaranya

“Saya hanya berkata itu suatu kemungkinan” jawab si burung tua tenang.

“Artinya saya juga bisa berkata bahwa yang kau katakan tadi hanya kemungkinan dan belum pasti adanya” tungkas sang beo cepat.

Si burung hantu mengangguk cepat seraya berkata “Saya belum menyelesaikan kalimatku yang tadi kalian potong, dan benar itu juga suatu kemungkinan lain”

“Ayolah, burung tua. Semuanya sudah jelas gagak ini mangkat, ajal menjemputnya. Tidak ada lagi yang perlu didengarkan disini” potong si beo naik pitam.

Burung-burung yang menyimak sedari tadi bertambah gusar dan riuh berbicara satu sama lain. Si beo lalu berpaling, terbang menjauh diikuti tekukur dan sebagian besar burung lainnya. Sebagian kecil yang tersisa mendekat ke arah sang burung hantu penasaran dengan apa yang terjadi semalam karena mereka tahu betul si burung tua itu tidak pernah sekalipun berbohong.

“Lanjutkanlah kisahmu wahai pengawas malam yang terjaga” kata merpati sang pembawa pesan diikuti anggukan dan sorot mata penasaran burung-burung yang lain.

Si burung tua lalu tersenyum dan mengangguk. “Terima kasih sudah tinggal untuk teman kita” ucapnya. Si burung tua terdiam menarik napas lalu mulai bercerita kepada burung-burung yang tinggal “Saya yakin kalian tahu benar bahwasanya tidak akan ada suatu kejadian tanpa sebab” tukasnya datar.

“Saya menyaksikan dengan mata besar ini berbagai keajaiban yang terjadi di keseharian kita, saya mendengarkan suara-suara alam berbincang satu sama lain” lanjutnya. Si burung memandang ke sekitar lalu ke atas langit dan berkata.

“Dua hari yang lalu teman malang kita ini membuat langit menitihkan air mata lewat doa para pepohonan, yang benihnya disebar oleh si gagak yang hinggap ke sana ke mari mencari serangga untuk dimakan, yang entah mengapa ia menolak untuk memakan bebijian dan buah dari pohon-pohon yang ia hinggapi, dia hanya menendangnya jatuh atau membawanya dengan paruh lalu meninggalkannya di lumpur-lumpur di lantai hutan selama dua hari tanpa henti” si burung tua menarik nafas panjang lalu melanjutkan kisahnya.

“Pepohonan lalu tak henti berdoa untuk benih-benih yang gagak sebar di hampir seluruh lantai hutan yang subur dan bersyukur atas sang penyebar benih. Langit lalu tersentuh dengan doa dan syukur yang tiada henti dari hampir seluruh pohon di hutan ini dan menitihkan air matanya” tukasnya lirih.

“Di hari ketiga, gagak yang tidak henti mencari makan berhenti di telaga di tengah hutan guna memuaskan dahaganya, dari sore hingga malam kulihat ia hanya terdiam menunduk memandangi telaga, entah dia sadar atau tidak, teman kita yang malang telah menyanjung ratu malam” burung hantu menarik nafas lalu berbalik melihat wajah si gagak yang kaku.

“Sang ratu malam terpesona dengan pantulan air telaga yang memantulkan mata kuning sang gagak, di dalam pantulan mata sang gagak sang ratu melihat dirinya terpantul sangat indah dengan warna mata si gagak. Sepeninggalan sang gagak dari telaga, sang ratu sedih tidak bisa lagi melihat pantulan dirinya yang sangat indah, lalu ia membuat dirinya yang pucat menjadi warna mata sang gagak dan bergembira dengan pantulan dirinya di mana-mana” sang burung tua menyelesaikan kisahnya.

Burung-burung yang menyimak terperangah dengan kisah yang sulit mereka pahami dan beberapa dari mereka beranjak pergi setelah mendengarnya. Lalu si merpati berkata “Kalau bukan engkau yang bertutur tidak akan pernah kupercayai kisah ini. Tapi entah, memang sebelum hujan turun kulihat pohon-pohon seakan menundukkan dedaunan mereka”

“Kalian tahu apa yang terjadi pada gagak tepat ketika ia mendekati ajalnya?” Tanya si burung hantu. “Ia menolak untuk memakan Laron-laron yang sebagian besar dari kita nikmati malam itu karena takut mengganggu, dan apakah kalian tahu siapa yang membangunkan kalian semua pada malam itu untuk bersantap ria? Teman malang kita”

“Ya, saya mendengar ia berkoak nyaring malam itu” kata si burung nuri di belakang merpati. Diikuti anggukan dan seruan setuju dari burung-burung yang lain “Bahkan saya mendengarnya dari rumahku di ujung hutan paling jauh” tambah angsa putih. Burung hantu tua mengangguk lalu berkata “Sebelum kita beranjak ada satu hal yang harus kita lakukan untuk teman kita ini”

“Apa itu wahai pengawas yang awas?” Tanya merpati tidak sabar.

“Melakukan hal yang dilakukan oleh para gagak ketika ada gagak lain mati… menguburnya” jawab burung tua.

“ya, karena setahu saya ia juga adalah gagak terakhir di hutan ini setelah yang lain berpindah ke hutan lain” tungkas kolibri kecil.

Lalu burung-burung yang tersisa mendekat, satu per satu mengaiskan tanah ke tubuh si gagak hingga tertutup penuh. Semua yang tinggal lalu tertunduk sejenak lalu terbang menjauh ke seluruh penjuru, mereka lalu menceritakan kisah itu kepada siapa saja yang mereka temui. Beberapa percaya dan lebih banyak yang tidak begitu percaya, namun burung-burung di hutan rimbun kini lebih memperhatikan satu sama lain sampai kepada hal-hal kecil yang terjadi.

Seminggu setelah kejadian itu sebuah benih tumbuh di atas makam si gagak yang kering. []

 

image: amwah