Sumber Gambar: Viacom 18 Motion Pictures ( @Viacom18Movies )

Ada sekat dalam industri film yang tanpa sadar seolah sudah terpatri dan dipatuhi, jika sebuah film menggunakan tokoh utama yang cacat mental atau fisik, maka ceritanya akan berkisar tentang usaha mereka meraih cita-cita atau memecahkan sebuah misi. Biasanya ada sentuhan seks di dalamnya, tapi lebih bersifat romance, jarang yang bersifat eksploratif. Biasanya yang sifatnya eksploratif adalah film-film yang sedang menyorot dunia tumbuh kembang remaja “normal”, karena remaja dan seks selalu dilihat berkorelasi.

Jika kita memperhatikan film-film Bollywood, kita akan sangat kesulitan melacak film yang bertokoh utama lesbian atau gay. Karena film Bollywood seolah hanya dibuat untuk memasangkan aktor tampan dengan aktris cantik. Mungkin karena masyarakat di India juga masih banyak yang melihat bahwa perbincangan tentang LGBT adalah tabu. Saya tak bisa membayangkan bagaimana reaksi orang-orang jika melihat Shah Rukh Khan memerankan karakter homoseksual.

Ketika menyaksikan Margarita with a Straw, saya seperti dibawa ke sisi lain India yang saya pikir tidak bisa dilacak. Sebuah film yang melawan semua aturan, baik dari segi penokohan hingga isu utamanya. Jika Margarita adalah minuman beralkohol yang penuh rasa, maka kehidupan karakter utamanya, Laila, ibarat Margarita itu sendiri. Laila adalah perempuan muda cerdas namun menderita cerebral palsy. Cerebral palsy membuat seseorang kehilangan kemampuan motorik yang utuh, namun tidak mempengaruhi kemampuan berpikir bahkan bersosialisasi mereka. Satu sekolah dan berkawan dengan anak-anak “normal” dan mengingat usianya yang masih muda, membuat Laila mendambakan cinta dan seks. Namun, keterbatasannya juga membuat ia harus mengalami banyak patah hati.

Tapi Margarita with a Straw adalah film yang mengedepankan girl power, kehidupan seks Laila kemudian berubah berkat ibunya. Ibu Laila, Shubhangini, tampil sebagai sosok yang independen namun mengatur. Ia memiliki suami, namun yang paling berhak mengurus Laila hanya Shubhangini, sehingga kedekatan di antara keduanya begitu kuat. Shubhangini mengatur, tapi di satu sisi selalu mendukung putrinya mendapatkan apa yang ia dambakan, termasuk ketika Laila berharap bisa sekolah ke Amerika.

Laila (Kalki Koechlin) sebagai karakter utama dalam film Margarita with a Straw.

Laila (Kalki Koechlin) sebagai karakter utama dalam film Margarita with a Straw.

Menempatkan Amerika sebagai negara yang Laila tuju untuk mencari ilmu bukan tanpa maksud. Amerika selalu dipandang demokratif, tumbuh sebagai negara yang diskriminatif tapi di saat yang sama selalu menyuarakan kesetaraan, termasuk kesetaraan gender dan perilaku seksual. Jika India adalah negara yang mengungkung Laila, negara yang memberinya patah-hati, maka Amerika ibarat negara pembebasan baginya. Di Amerika, Laila kemudian bertemu Khanum, gadis asal Pakistan yang buta dan lesbian. Bersama Khanum, Laila lalu menyadari bahwa dirinya biseksual.

Walau Margarita with a Straw adalah tentang eksplorasi seksual, tapi ia tidak pernah menjadi erotis, melainkan begitu manusiawi dan menyentuh. Film ini berusaha memperlihatkan bahwa semua orang, dalam kondisi cacat sekali pun, memiliki hasrat dan senantiasa mengharap kesetaraan. Khanum yang buta, saya pikir juga dibuat bukan tanpa alasan. Melalui kebutaannya, kita belajar bahwa orientasi dan hasrat seksual tidak melulu berasal dari apa yang dilihat, melainkan dari apa yang dirasa.

Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa sebuah film dengan tokoh utama yang menderita cerebral palsy dan biseksual bisa diciptakan. Bahkan mustahil membayangkan bahwa filmnya bisa berasal dari India, mengingat kita generasi yang terbiasa menonton Shah Rukh Khan-Kajol dan Hrithik Roshan-Kareena Kapoor. Inilah yang menjadikan Margarita with a Straw sebagai kisah yang menyuarakan perubahan dan menciptakan sudut pandang baru. Shonali Bose, sang sutradara, memperlihatkan bahwa manusia selalu punya sisi lain untuk diceritakan dan di lihat dalam berbagai cara, dan bahwa seksualitas film India juga bisa dieksplorasi sampai melawan tabu. Bayangkan seandainya dulu di Kuch-kuch Hota Hai, Anjali tidak mencemburui Tina, melainkan jatuh cinta pada Tina. []

margarita with a straw_poster_ReviusMargarita with a Straw | Sutradara: Shonali Bose| Tahun: 2014| Genre: Romance, Drama| Negara: India | Rating: 4 / 4 Bintang

Baca tulisan lainnya

Perlawanan Seorang Sastrawan Sosialita

Komedi yang Dibatasi Konklusi Sendiri

Kisah Pemuda yang Berpikir Dirinya Berasal dari Bira

Pulau Buru Tanah Air Beta, Ketika Monumen Memori Berkisah

Melihat Transgender dengan Lebih Baik

5 Film Paling Dinanti yang Bakal Gagal Kamu Saksikan di Bioskop Tahun 2016